Surabaya, Bhirawa. – Pakar Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menagapai keluhan warga Kota Surabaya atas kondisi air PDAM yang berubah menjadi berbusa, keruh, dan berbau. Munculnya busa pada air dapat disebabkan berbagai faktor, antaranya keberadaan senyawa yang bersifat surfaktan, bahan organik, maupun udara yang terperangkap akibat tekanan dan turbulensi aliran air. Rabu, (9/9/2026)
Dosen Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Nur Hidayatullah Romadhon mengatakan perubahan warna, bau, rasa, kekeruhan, dan munculnya busa dapat menjadi tanda awal adanya perubahan karakteristik air, tetapi belum dapat langsung diartikan sebagai bukti keberadaan zat berbahaya. “Penilaian keamanan air membutuhkan pengujian parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi, termasuk pemeriksaan bakteri indikator seperti Escherichia coli yang dapat menunjukkan adanya kontaminasi fekal,” jelasnya.
Lanjut Dayat mengukapkan bau pada air dapat dipengaruhi senyawa organik maupun anorganik, aktivitas mikroorganisme, hingga kondisi lingkungan pada sumber air. “Sebelum sampai ke keran rumah warga, air PDAM umumnya telah melewati sejumlah tahapan pengolahan, Air baku dari sungai atau sumber lainnya dialirkan menuju instalasi pengolahan untuk menjalani proses koagulasi dan flokulasi,” tuturnya.
Dayat menjelaskan tahapan itu bertujuan mengikat partikel-partikel kecil menjadi gumpalan, dilakukan sedimentasi untuk mengendapkan partikel, filtrasi untuk menyaring material yang masih tersisa, serta desinfeksi, yang umumnya menggunakan klorin atau metode lainnya untuk mengendalikan mikroorganisme. “Dengan perjalanan yang cukup panjang tersebut, perubahan kualitas dapat terjadi pada berbagai titik, mulai dari sumber air baku, proses pengolahan, hingga jaringan perpipaan,” ujarnya.
Menurut Dayat, kondisi air yang berbusa, berbau, maupun keruh perlu ditelusuri dari hulu hingga sampai ke keran konsumen, pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan sumber perubahan kualitas air berdasarkan data ilmiah. Ia juga mengingatkan bahwa kualitas air perlu mendapat perhatian karena air digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga mengolah makanan.
Dampak kesehatan dalam jangka pendek, kata Dayat, sangat bergantung pada jenis dan konsentrasi kontaminan yang terdapat dalam air. Kontaminasi mikroorganisme patogen dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pencernaan, seperti diare, mual, muntah, dan sakit perut. Sedangkan zat tertentu yang bersifat iritan dapat memicu keluhan pada kulit maupun mata. “Jenis dan konsentrasi kontaminan tetap perlu diketahui melalui pemeriksaan yang memadai untuk menentukan tingkat risikonya,” lanjutnya.
Untuk jangka panjang, risiko kesehatan dapat lebih kompleks karena dipengaruhi jenis zat, dosis, konsentrasi, frekuensi, serta lama paparan. Paparan berulang terhadap kontaminan tertentu dapat memberikan dampak berbeda dibandingkan paparan sesaat. Karena itu, Dayat menilai pemantauan kualitas air secara berkala perlu dilakukan untuk memastikan air yang diterima masyarakat tetap memenuhi standar keamanan.
Persoalan kualitas air juga tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap air perpipaan dapat mendorong warga beralih menggunakan air kemasan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pengeluaran rumah tangga sekaligus menambah timbulan sampah plastik. “Dengan demikian, persoalan kualitas air tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Dayat menilai keluhan warga mengenai air berbusa, keruh, atau berbau perlu menjadi perhatian pengelola layanan air untuk memperkuat pengawasan kualitas. Pengujian idealnya dilakukan secara rutin mulai dari sumber air baku, instalasi pengolahan, jaringan distribusi hingga titik konsumen.
Selain pengawasan, hasil pemantauan kualitas air juga dinilai perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. “Busa dan bau memang bukan diagnosis bahwa air telah tercemar atau berbahaya, tetapi keduanya merupakan sinyal yang layak diperiksa secara ilmiah,” tegasnya.
Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap air perpipaan tidak cukup dibangun dengan memastikan air terlihat jernih. Kepercayaan juga membutuhkan pengawasan yang konsisten, respons cepat terhadap keluhan, serta keterbukaan informasi. “Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat terhadap air perpipaan tidak hanya dibangun melalui air yang tampak jernih, tetapi melalui pengawasan yang konsisten, respons yang cepat, serta informasi yang transparan. Sebab, ketika air digunakan setiap hari oleh masyarakat, jaminan kualitasnya semestinya hadir setiap hari pula, bukan hanya ketika keluhan sudah bermunculan,” pungkasnya.[ren.ca]


