28 C
Sidoarjo
Tuesday, April 28, 2026
spot_img

Universitas Ciputra Kukuhkan Tiga Guru Besar dari Tiga Lintas Keilmuan


Surabaya, Bhirawa
Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengukuhkan tiga Guru Besar dari tiga lintas keilmuan. Ketiga gubes yang akan dikukuhkan Rektor UC Prof Wirawan E.D. Radianto pada Kamis (30/4) mendatang ini adalah Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M Guru Besar Bidang Ilmu Desain dan Perilaku; Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, S.T., M.Eng.Sc, Guru Besar Bidang Ilmu Sains Data dan Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom, Guru Besar Bidang Ilmu Business Intelligence.

Dalam tesisnya mereka secara bersama menyoroti tantangan besar yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia mulai dari lemahnya identitas ruang wisata hingga risiko penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang tidak terkendali.

Rektor UC, Prof Wirawan menyampaikan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi langkah strategis dalam menjawab perubahan zaman. “Pengukuhan tiga Guru Besar hari ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” ujarnya, Selasa (28/4).

Ia menambahkan, Universitas Ciputra mendorong para profesor untuk tidak hanya menghasilkan riset unggul, tetapi juga mengimplementasikannya secara nyata. “Saya berharap para Guru Besar tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi juga mampu membentuk generasi pemimpin masa depan serta menjadi motor penggerak perubahan yang berdampak luas bagi masyarakat,” lanjutnya.

Berita Terkait :  Kodim 0815 Mojokerto Salurkan Bantuan 150 Tas Sekolah untuk Siswa TK

Lemahnya Ruang Wisata Indonesia
Salah satu Gubes UC yang mempunyai perhatian serius dalam pengembangan wisata di Indonesia adalah Prof Astrid Kusumowidagdo. Dalam orasi ilmiahnya, ia menyinggung soal “Discovering the Soul of Space” pada pasar tradisional dan desa wisata. Menurutnya persoalan utama belum optimalnya destinasi wisata di Indonesia tergarap karena kurangnya keunikan yang dimiliki setiap tempat.

“Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata,” ujarnya.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Astrid menekankan bahwa kekuatan utama ruang komersial tradisional terletak pada apa yang ia sebut sebagai “soul of space” atau keunikan tempat yakni perpaduan antara ruang, aktivitas, dan budaya lokal.

“Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional, namun hanya sekitar 5-10% yang berkembang menjadi pasar wisata dengan karakter kuat. Sementara dari sekitar 7.000 desa wisata, baru sebagian yang memiliki produk kreatif unggulan dan pengalaman wisata yang benar-benar khas,”jabat dia.

Padahal, menurutnya, ruang-ruang seperti Pasar Ubud, Malioboro, hingga floating market Lok Baintan menunjukkan bahwa interaksi antara ekonomi, budaya, dan kehidupan sehari-hari mampu menciptakan daya tarik wisata yang autentik.

“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tapi pengalaman. Dan pengalaman itu lahir dari interaksi manusia, bukan sekadar desain fisik,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan ruang komersial tradisional tidak bisa hanya fokus pada renovasi fisik, tetapi harus memperkuat aktivitas, cerita, dan identitas lokal. Tanpa itu, potensi besar ekonomi kreatif Indonesia akan sulit berkembang secara optimal.

Berita Terkait :  Gedung Kesenian Probolinggo akan Dikembalikan jadi Lapangan Tenis Indoor

Ke depan, penguatan kewirausahaan lokal, pengalaman ruang, dan keterikatan emosional terhadap tempat menjadi kunci untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis budaya. “Keunikan tempat adalah aset terbesar kita. Di situlah nilai sejati pariwisata Indonesia terbentuk,” tutupnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!