Surabaya, Bhirawa
Minimnya pengetahuan mengenai penggunaan perekat cedera modern (Kinesio Taping) pada penanganan cedera otot mendorong dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) untuk memberikan edukasi kepada guru Pendidikan Jasmani (PJOK).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru dalam penggunaan taping yang benar, sehingga dapat memberikan pertolongan pertama pada cedera otot dengan lebih efektif menggunakan bahan elastis.
Menurut Ketua Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Dr. Roy Irawan M.Kes., bahan taping memiliki sifat lentur karena terbuat dari campuran katun dan nilon, sehingga diperlukan pemahaman teknis dalam penggunaannya pada kasus cedera otot.
“Kinesio Taping ini merupakan plester terapi elastis, sehingga harus digunakan dengan benar agar dapat mengurangi rasa sakit pada cedera ringan,” ujarnya saat kegiatan pelatihan di Aula SMPN 1 Probolinggo.
Ia menambahkan, selain teknik penggunaan, pemilihan bahan taping juga sangat penting, seperti medical-grade acrylic adhesive dengan daya rekat kulit minimal tiga hari, tingkat elastisitas 140-180 persen, serta memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak menyebabkan iritasi.
Kegiatan edukasi tersebut dikemas dalam bentuk pelatihan bertema “Penanganan Cedera Olahraga dan Kinesio Taping” yang dilaksanakan di Kota Probolinggo dan diikuti oleh 10 guru Pendidikan Jasmani. Pelatihan ini juga dilaksanakan secara hybrid, yakni kombinasi luring dan daring. “Penyebaran informasi ini menggunakan sistem hybrid,” jelasnya”
Sementara itu, M. Azhar Ilmi, S.Or., Kes., selaku narasumber, menyampaikan materi terkait penanganan awal cedera olahraga menggunakan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) serta aplikasi kinesio taping sebagai terapi pendukung proses pemulihan cedera.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi teori secara daring dan luring, serta praktik langsung bagi peserta yang hadir secara offline. Peserta daring tetap dapat mengikuti demonstrasi teknik melalui sesi live interaktif dan diskusi.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta secara signifikan. Selain itu, guru menjadi lebih percaya diri dalam menangani cedera yang terjadi saat proses pembelajaran berlangsung.
“Pelatihan ini sangat membantu karena kombinasi teori dan praktik. Meskipun saya mengikuti secara online, tetap dapat memahami karena penjelasannya jelas dan interaktif,” ujar salah satu peserta.
Melalui kegiatan ini, diharapkan guru PJOK mampu memberikan penanganan awal yang tepat sehingga dapat meminimalkan risiko cedera lebih lanjut serta mempercepat proses pemulihan siswa.
Ke depan, tim pengabdi berencana melanjutkan program serupa dengan materi yang lebih mendalam serta pelaksanaan secara berkala sebagai bentuk kontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan olahraga dan pendidikan jasmani. [why]


