“ Tiga Bidang Kompetensi Banyak Dibutuhkan Pasar, Kadindik Dorong Kemandirian hingga Wirausaha “
Dindik Jatim, Bhirawa – Peningkatan kompetensi vokasi murid menjadi fokus utama bagi Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, termasuk bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Melalui UPT Pengembangan Teknis Keterampilan dan Kejuruan (PTKK), Dindik Jatim menggelar pelatihan keterampilan yang diikuti 15 murid ABK selama tujuh hari, 19–24 Agustus 2026.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan pada tiga bidang kompetensi, yakni tata busana, tata boga, dan tata rias. Selain murid, guru pendamping juga dilibatkan agar keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan dan dikembangkan di sekolah masing-masing.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan pelatihan vokasi bagi ABK menjadi bagian penting dalam meningkatkan keterampilan sekaligus kepercayaan diri mereka.
“Pertama bukan jumlah siswanya saja, yang pertama kompetensi yang perlu kita tambah. Ini kan ada tiga, tata kecantikan, tata boga, sama tata busana. Mungkin nanti ada keahlian-keahlian lain yang kita harapkan bisa linier,” kata Aries, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, keterlibatan guru dalam pelatihan menjadi penting agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak berhenti selama kegiatan berlangsung. Guru diharapkan dapat memberikan pembelajaran lanjutan kepada murid setelah kembali ke sekolah.
“Kenapa kita berharap gurunya juga ikut? Supaya gurunya nanti bisa continue kepada murid-murid yang ada di sekolah tersebut. Kalau muridnya, supaya mereka bisa mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya,” jelasnya.
Aries menilai minat peserta terhadap pelatihan cukup tinggi. Karena itu, Dindik Jatim akan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan tersebut untuk memperluas jumlah peserta, sekolah yang terlibat, maupun bidang keterampilan yang diberikan.
“Jumlah peserta maupun guru masih terbatas. Ke depan kita berharap jumlahnya lebih banyak lagi supaya lebih banyak manfaat bagi sekolah-sekolah lain. Tadi kami mendengar dari guru, ini sangat bermanfaat supaya mereka bisa lebih intens mengajar anak-anak tentang vokasi keahlian khusus,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kemampuan peserta yang dinilai sudah cukup baik meski pelatihan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Pada bidang tata rias, misalnya, sejumlah peserta mampu menunjukkan keterampilan yang tidak kalah dengan peserta didik pada umumnya.
“Kalau tata kecantikan ternyata tidak kalah dengan murid-murid yang ada di luar sana. Tata boga juga tadi keahliannya sudah cukup bagus. Mereka bisa membuat kue yang menurut saya standarnya sudah standar pada umumnya,” kata Aries.
Menurut Aries, penguatan keterampilan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri ABK sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
“Kalau dikembangkan, diperluas lagi ilmu mereka, saya yakin percaya dirinya semakin tinggi. Kalau percaya dirinya semakin tinggi, akhirnya nanti kita harapkan mereka tidak menganggur, tapi bisa buka wirausaha sendiri dengan hal-hal yang kecil-kecil tetapi bisa bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungannya,” tuturnya.
Kompetensi Perlu Diasah Agar Mahir
Sementara itu, instruktur tata rias dari Viva Beauty Center Surabaya, Tini Renang, mengatakan peserta masih berada pada tingkat dasar tata rias. Dalam pelatihan, peserta dikenalkan pada tata rias cantik hingga makeup kreatif seperti body painting dengan motif bunga dan daun.
“Kompetensi mereka masih dalam tingkat dasar. Tapi patut diapresiasi dan terus diasah. Ada siswa yang unggul juga, tetapi memang harus dibiasakan terus-menerus,” katanya.
Tini menambahkan, peserta juga perlu mendapatkan pemahaman dasar mengenai kosmetologi, mulai dari jenis dan warna kulit hingga bentuk wajah. Pengetahuan tersebut diperlukan agar keterampilan tata rias dapat diterapkan dengan tepat.
Hal senada disampaikan Guru Kecantikan SLB Gedangan, Anoraga Mona. Ia menilai pelatihan memberikan pengalaman baru bagi peserta, tidak hanya dari sisi keterampilan tetapi juga keberanian untuk tampil dan berinteraksi dengan peserta dari daerah lain.
“Bagus sekali, menambah ilmu dan anak-anak juga berani tampil. Mereka bisa bertemu teman-teman dari daerah lain,” ujarnya.
Menurut Anoraga, pembelajaran tata rias di sekolah meliputi cleansing, penggunaan foundation hingga blush on. Materi kemudian dikembangkan pada perawatan rambut, coloring, face painting, hingga nail art.
Ia menyebut keterampilan vokasi sangat penting sebagai bekal kemandirian ABK. Sejumlah lulusan bahkan telah mampu membuka layanan tata rias secara mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.
Sementara itu, instruktur tata boga, Chef David Bryan Satria dari David Baking Studio Ngawi, mengaku terkejut melihat kemampuan peserta yang mengikuti pelatihan.
“Yang kami kira dari nol atau belum bisa sama sekali, di luar prediksi kami sudah lumayan hampir mahir. Ketika membuat produk, menimbang dan membedakan jenis bahan sudah tahu. Pengenalan alat juga mereka paham,” katanya.
Dalam pelatihan tata boga, peserta dikenalkan dengan berbagai peralatan yang tidak seluruhnya tersedia di sekolah. Mereka juga mempraktikkan pembuatan sejumlah produk, termasuk kreasi nastar dengan isian dan bentuk yang beragam.
David mengatakan kemampuan peserta perlu terus dilatih oleh guru di sekolah dengan menggunakan resep-resep yang telah dipelajari selama pelatihan.
Ia berharap keterampilan kuliner tersebut dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mandiri setelah lulus.
“Harapannya semoga setelah lulus dari sekolah bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri, bisa menjadi wirausaha di bidang kuliner,” pungkasnya. [ina.kt]



