Pameran Manuskrip Nderes Peringati Haul Ke-45 Kiai Hamid
Pasuruan, Bhirawa – Warisan intelektual dan seni para ulama Nusantara ternyata sangat kaya. Tak hanya melahirkan ajaran keagamaan, para pencerah bangsa tersebut juga menguasai sains hingga seni budaya. Khazanah bernilai tinggi itu kini disuguhkan secara terbuka untuk masyarakat Kota Pasuruan.
Pemandangan tersebut terekam dalam Pameran Seni dan Manuskrip bertajuk Nderes yakni Risalah Salafiyah Pasuruan dan Riwayat Peradaban di Gedung Tourism Information Center (TIC) Kota Pasuruan, Rabu (19/8) malam.
Kegiatan yang digelar Ma’had Aly Salafiyah Pasuruan dalam rangka Haul ke-45 Almaghfurlah KH. Abdul Hamid itu berlangsung hingga 25 Agustus mendatang. Sebanyak 22 manuskrip kuno karya masyayikh (para kyai) salafiyah dipajang rapi.
Tak hanya itu, rekam jejak perjalanan hidup Romo Kiai Hamid tokoh ulama karismatik Pasuruan turut disajikan, lengkap dengan artefak dan dokumen bersejarah yang jarang tersingkap ke publik.
Wali Kota Pasuruan H. Adi Wibowo yang hadir memuji helatan tersebut. Pria yang akrab disapa Mas Adi itu menyebut, pameran tersebut menjadi cermin betapa luasnya wawasan para ulama masa lalu.
“Khazanah seni ini bertirisan erat dengan keilmuan kita. Banyak ilmu pengetahuan, mulai dari matematika hingga ilmu alam, yang sebenarnya berakar dari karya-karya ulama,” ujar Mas Adi di hadapan para tamu undangan.
Bagi Mas Adi, Pasuruan yang menyandang predikat Kota Santri sekaligus Kota Pusaka memiliki tanggung jawab besar untuk merawat ingatan sejarah. Ia mewanti-wanti agar peninggalan fisik maupun literatur bersejarah, seperti bekas kantor PBNU di Kota Pasuruan, jangan sampai musnah ditelan zaman.
“Bila hilang, generasi mendatang tidak punya cerita lagi. Ini PR kita bersama bagaimana nguri-uri (merawat) sejarah. Pembangunan itu bukan cuma fisik gedung, tapi juga jiwa dan akar sejarahnya,” tegas Mas Adi.
Untuk mendukung geliat seni dan kebudayaan lokal, Pemkot Pasuruan siap memberi ruang seluas-luasnya. Pemanfaatan fasilitas TIC hingga mini teater di dalamnya kini dibebaskan bagi para santri, seniman dan komunitas warga untuk berkarya. [hil.wwn]



