27 C
Sidoarjo
Thursday, August 20, 2026
spot_img

Sabar Cegah Perceraian

Tiada pasangan suami-istri yang merencanakan perceraian ketika mengawali pernikahan. Seluruh akad pernikahan dijalani dengan suka cita. Bahkan agama Islam menyebut akad nikah sebagai mitsaqan gholizhoh (perjanjian agung). Setara dengan sumpah setia para Nabi kepada Tuhan. Tetapi realitanya, keagungan perjanjian akad nikah sering terabaikan. Sehingga terjadi perceraian yang menimpa sangat banyak (5,7 juta lebih) pasangan. Terasa sangat pedih dirasakan oleh anak-anak hasil pernikahan.

Indonesia tertinggi di dunia (dalam angka) kasus perceraian. Sudah darurat perceraian! Berdasar catatan Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil, kasus perceraian menunjukkan tren naik dibanding enam bulan sebelumnya (semester II tahun 2025). Terdapat kenaikan 162 ribu kasus (2,8%). Walau dalam prosentase masih diduduki Maladewa (lebih dari 6 kasus per-1000 penduduk). Serta Rusia dengan 4 kasus per-1000 penduduk. Memaksa pemerintah Rusia meningkatkan pajak perceraian mencapai 5.000 rubel (setara Rp 1 juta).

Ironisnya, data kasus perceraian antara BPS (Badan Pusat Statistik) dengan Ditjen Dukcapil, berbeda sangat signifikan. Tetapi lebih dipercaya data Ditjen Dukcapil. Karena bisa mencatat data secara real-time. Misalnya, jumlah kasus perceraian selama tahun 2025, dicatat BPS mencapai 438.168. Tetapi Ditjen Dukcapil mencatat sebanyak 5.591.323 kasus. Perbedaan yang sangat mencolok (sampai lebih 5 juta kasus), Bagai perbedaan pendapat (dan pendapatan) pasangan suami-istri, yang menyebabkan perceraian.

Pernikahan merupakan “perjanjian agung” dua insan (laki dengan perempuan). Di dalam agama disetarakan dengan perjanjian antara para Nabi dengan Tuhan, yang selalu dirawat dengan kesabaran. Maka peng-ingkar-an terhadap “perjanjian agung” disebut sebagai thalaq (bercerai), yang mengandung kata berantakan, hancur. Sehingga setiap perceraian bisa “mengguncangkan “‘Arsy” (sangat dimurkai Tuhan). Sehingga wajib kukuh mencegah thalaq (perceraian).

Berita Terkait :  Dandim 0815 Tinjau Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kota Mojokerto

Terdapat pula ajaran bijak, bahwa perceraian bisa menyebabkan kemerosotan ekonomi dan karier kedua orang (masing-masing mantan pasangan hidup). Bahkan bisa meruntuhkan moralitas. Juga kemerosotan kepribadian di hadapan orang lain. Dampak perceraian makin terasa pedih manakala melibatkan keluarga kedua pihak (suami dan istri). Terutama anak-anak hasil pernikahan akan merasakan kepedihan (trauma) sepanjang hidup.

Tetapi di tangan manusia, “perjanjian agung” tidak dirawat. Padahal seharusnya dirawat dengan kesabaran. Seperti kesabaran Nabi, dan kesabaran Tuhan. Terutama dengan penghormatan, dan kasih sayang. Menjadikan “perjanjian agung” turun kelas. Tidak sakral. Bahkan cenderung dilupakan. Biasanya, perceraian diawali oleh sifat tidak jujur, dan tidak menghormati pasangan. Berlanjut pada sikap acuh terhadap pasangan. Berujung meng-anggap “rendah” pasangan, sebagai tidak ideal lagi.

Setiap pasutri seyogianya memperkerap dialog, dan kebersamaan. Karena keharmonisan rumahtangga mustahil dibangun dengan cara “diam-diam.” Berdasar catatan Pengadilan Agama, penyebab perceraian paling banyak, adalah tidak sabar dalam himpitan ekonomi. Sampai pranata ke-rumahtangga-an terguncang. Karena harus menghadapi biaya kebutuhan utama rumahtangga, agar bisa makan.

Di berbagai negara di Eropa ditandai dengan meningkatnya prostitusi (dan perselingkuhan). Mengutip data English Collective of Prostitution, jumlah perempuan yang masuk dalam bisnis prostitusi meningkat 33% dari angka biasanya. Disebabkan tekanan ekonomi, biaya hidup tinggi. Realitanya, lari dari rumah-tangga, bisa menjerumuskan setiap orang ke dalam kenistaan.

Berita Terkait :  Pemkot Batu Gandeng Unisma Realisasikan Program 1.000 Sarjana

Kementerian Agama (dan Kementerian PPPA) telah coba membuka konseling pra-pernikahan. Bertujuan mewujudkan rumah-tangga yang tenteram, dan awet selamanya. Namun berdasar catatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), hanya sekitar 10% pra-pernikahan yang terjangkau.

Pada masa kini penyebab perceraian berkembang, seiring “ke-gila-an” terhadap gawai hand-phone. Karena masing-masing dari pasangan lebih tergila-gila kepada hp, dibanding memandang mesra pasangannya.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!