27.8 C
Sidoarjo
Wednesday, July 29, 2026
spot_img

Reses di Balongbendo, Adam Rusydi Perjuangkan SMA/SMK Negeri Baru hingga Solusi HIV/AIDS dan UMKM

DPRD Jatim, Bhirawa – Aspirasi pembangunan SMA/SMK Negeri di Kecamatan Balongbendo menjadi salah satu tuntutan utama warga dalam kegiatan reses Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur, Adam Rusydi, di Desa Bakung Temenggungan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (29/7/2026).

Warga menilai keberadaan SMAN di wilayah Balongbendo sudah menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, banyak pelajar harus menempuh pendidikan ke Kabupaten Mojokerto atau memilih sekolah swasta karena minimnya sekolah negeri di wilayah tersebut.

Kepala Desa Bakung Temenggungan, Abu Dawud, mengatakan sejumlah pembangunan infrastruktur seperti pavingisasi dan saluran air dijadwalkan mulai direalisasikan pada Agustus mendatang. Namun, persoalan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

“Di sini belum ada SMA negeri, sehingga banyak anak-anak sekolah ke Mojokerto. Kami para kepala desa se-Kecamatan Balongbendo sepakat akan melakukan audiensi ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar dibangun SMAN di wilayah Balongbendo,” ujarnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Adam Rusydi mengakui pembangunan sekolah negeri baru tidak bisa dilakukan secara instan karena harus memenuhi sejumlah persyaratan administratif dan kebijakan pemerintah.

Menurutnya, pembangunan SMAN membutuhkan hibah lahan dari pemerintah kabupaten serta harus mempertimbangkan kebijakan moratorium pembangunan SMA/SMK yang masih berlaku.

“Secara prinsip kami mendukung karena jumlah sekolah negeri di Sidoarjo memang masih sangat minim. Akibatnya banyak siswa akhirnya masuk sekolah swasta,” kata Adam.

Berita Terkait :  Koperasi Merah Putih, Kendaraan Impor, dan Ironi Produk Lokal

Politisi Partai Golkar itu menjelaskan pihaknya tengah mencari jalan keluar agar akses pendidikan tetap terbuka bagi masyarakat kurang mampu, salah satunya dengan memperkuat kolaborasi antara sekolah negeri dan sekolah swasta.

Ia mengungkapkan, pascapandemi Covid-19 banyak keluarga mengalami penurunan kemampuan ekonomi sehingga kesulitan membayar biaya pendidikan.

“Ada warga yang bahkan kesulitan mengambil ijazah karena masih memiliki tunggakan biaya sekolah. Berangkat dari persoalan itu, kami mengusulkan agar ada skema kerja sama antara sekolah negeri dan swasta, khususnya bagi masyarakat desil 1 sampai 4 sehingga mendapat perlakuan yang sama,” jelasnya.

Selain itu, Adam juga mendorong evaluasi terhadap skema Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BOPP). Menurutnya, bantuan tersebut harus benar-benar mampu menjamin siswa dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh hak pendidikan tanpa terbebani biaya tambahan.

“Ini bagian dari ikhtiar agar cita-cita negara menghadirkan pendidikan yang merata bisa tercapai. Konsep ini masih terus kami godok,” tegasnya.

Tak hanya pendidikan, warga juga menyampaikan berbagai persoalan lain. Pelaku UMKM berharap mendapat bantuan rombong usaha agar mampu meningkatkan kualitas usahanya.

Sementara para petani meminta perbaikan saluran irigasi yang banyak mengalami kerusakan sehingga mengganggu produktivitas pertanian.

Dalam dialog tersebut, seorang mahasiswa asal Dusun Ciro Kulon, Henry, turut menyampaikan keresahan generasi muda terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS yang dinilai dipicu pergaulan bebas dan minimnya aktivitas positif bagi pemuda.

Berita Terkait :  Rapat Paripurna DPRD, Wali Kota Mojokerto Paparkan Pertanggungjawaban APBD 2025

“Kami berharap ada fasilitasi kegiatan kepemudaan agar teman-teman tidak kehilangan arah dan terjerumus dalam pergaulan bebas,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Adam yang juga Ketua DPD Golkar Sidoarjo ini menegaskan persoalan HIV/AIDS tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, pencegahan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kita jangan saling menyalahkan. Ada tiga variabel penting, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ketiganya harus berjalan bersama. Ini menjadi pekerjaan rumah kita semua,” katanya.

Di akhir dialog, Adam juga mengajak generasi muda untuk mulai melirik sektor pertanian sebagai peluang masa depan. Ia menegaskan tidak ada alasan bagi anak muda untuk malu menjadi petani.

“Pertanian memiliki prospek yang besar. Anak-anak muda jangan malu terjun ke sektor ini karena pertanian adalah salah satu penopang ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (geh.kt)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!