28 C
Sidoarjo
Monday, September 7, 2026
spot_img

Rekayasa Atensi Platform Digital

Oleh:
Dr Eko Setiawan
Peminat Studi Teknologi dan Budaya Digital, Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya

Kecanduan digital sering dianggap sebagai persoalan pengguna. Anak terlalu banyak bermain gim. Remaja terlalu sering mengakses media sosial. Atau siapapun yang tak bisa lepas dari gawai, melihat layar ponsel beberapa kali dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Penjelasan yang paling mudah adalah mengarahkan kepada individu: tidak bisa mengendalikan diri, tidak bisa membagi waktu, atau tidak memiliki literasi digital yang cukup.

Namun pernah kah kita bertanya bagaimana jika kesulitan untuk berhenti dari mengakses media digital tersebut bukan semata-mata soal pengguna yang tak bisa mengendalikan diri, tapi konsekuensi logis dari perancangan teknologi digital itu sendiri?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat cara kerja platform digital hari ini. Platform tidak lagi sekadar menjadi ruang tempat manusia mencari informasi, berkomunikasi, atau menonton hiburan. Platform mengamati perilaku pengguna, mempelajari preferensinya, memprediksi apa yang kemungkinan menarik perhatian, memberikan stimulus, mengukur respons, kemudian mengoptimalkan stimulus berikutnya. Dengan kata lain, teknologi digital semakin mampu membentuk perilaku penggunanya.

Tujuan utamanya mungkin bukan secara eksplisit “membuat orang kecanduan”. Tetapi platform memang memiliki insentif yang sangat kuat untuk mempertahankan perhatian, meningkatkan engagement, memperpanjang waktu penggunaan, dan membuat pengguna kembali. Persoalannya, mekanisme yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut juga merupakan mekanisme yang dapat memperkuat kebiasaan dan perilaku penggunaan berulang.

Berita Terkait :  BNNK, TP PKK dan Disdik Tuban Gelar Pendidikan Anti Narkoba pada Keluarga

Di sinilah persoalan adiksi digital perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas: technoculture.Penley dan Ross (1991) menyebut technoculture sebagai sebuah perspektif yang melihat teknologi bukan hanya alat yang kita gunakan, tetapi juga medium yang kita tinggali, yang membentuk dan mengatur interaksi sosial, persepsi diri, dan bahkan kesadaran kita.

Technoculture tidak pernah melihat teknologi sebagai sesuatu yang netral. Teknologi selalu dibentuk oleh dan sekaligus membentuk praktik, nilai, dan identitas budaya dalam masyarakat. Termasuk teknologi digital. Ketika teknologi digital digunakan secara masif, ia membawa serta logika dan pola perilaku tertentu. Platform digital kemudian ikut membentuk budaya digital: budaya yang serba cepat, selalu terhubung, responsif terhadap notifikasi dan semakin terbiasa dengan arus informasi tanpa akhir.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital tidak lagi hanya menjadi medium budaya. Ia menjadi bagian dari mekanisme yang ikut memproduksi budaya itu sendiri. Perubahan tersebut semakin jelas jika kita melihat model bisnis platform digital. Perhatian pengguna memiliki nilai ekonomi. Semakin lama pengguna berada dalam platform, semakin banyak peluang untuk menghasilkan interaksi, data, dan pendapatan. Karena itu, perhatian manusia bukan sekadar sesuatu yang diperebutkan. Ia semakin menjadi sesuatu yang direkayasa.

Platform melakukan eksperimen terhadap desain antarmuka, algoritma, notifikasi, rekomendasi, dan berbagai fitur untuk mengetahui apa yang membuat pengguna bertahan lebih lama dan seberapa sering pengguna kembali. Daya akses terhadap media digital itu tidak bekerja di ruang hampa. Ia dengan sangat sadar dirancang untuk membuat pengguna berlama-lama mengaksesnya.

Berita Terkait :  Terpukau Karya Disabilitas, Dinsos Jatim Perkuat Dukungan Pemberdayaan

Disinilah rekayasa atensi platform digital bekerja dalam bentuk infinite scroll atau menggulirkan layar tanpa henti, video yang berputar secara otomatis ketika satu video sudah selesai ditonton (autoplay) hingga algoritma yang mempelajari perilaku kita dengan sangat baik. Apa yang kita klik, skip, like atau komentari. Berapa lama kita menonton, konten apa yang kita tonton ulang hingga konten apa yang membuat kita bertahan. Semuanya dipelajari algoritma. Semakin lama kita menggunakan platform semakin banyak data yang tersedia. Semakin besar atensi kita semakin banyak data baru yang dihasilkan.

Teknologi betul;-betul belajar mempertahankan kita. Dan sekali lagi technoculture benar. Teknologi, dalam hal ini algoritma, tidak hanya dibentuk oleh perilaku kita, ia membentuk perilaku, kebiasaan hingga budaya digital kita. Infinite scroll tidak hanya membuat kita scrolling.Ia membentuk budaya konten tanpa akhir.Autoplay tidak hanya membuat kita menonton video berikutnya.Ia membentuk budaya kontinuitas tanpa jeda.Algoritma tidak hanya menentukan video yang kita tonton.Ia membentuk budaya digital kita sehingga menerima apa yang dipilihkan algoritma.Platform merekayasa atensi kita yang pada sebagian pengguna dapat berkontribusi terhadap perilaku kompulsif dan adiktif.

Pada akhirnya, persoalan adiksi digital mungkin bukan hanya tentang manusia yang kehilangan kendali terhadap teknologi.Kita sedang hidup di dalam budaya digital yang dibentuk oleh teknologi yang semakin mampu mengantisipasi, mempertahankan, dan haus perhatian manusia.Teknologi tidak lagi hanya menunggu kita menggunakannya.Ia belajar kapan kita bosan.Belajar apa yang kita sukai, apa yang membuat kita bertahan dan apa yang membuat kita kembali.

Berita Terkait :  Gubernur Jatim Khofifah Tinjau Pembangunan Jembatan Kutorejo Rejoso Nganjuk

Sebuah pertanyaan reflektif kemudian muncul: Mengapa teknologi semakin dirancang sedemikian rupa sehingga manusia sulit berhenti?Sebab ketika sebuah sistem terus-menerus dioptimalkan agar kita bertahan lebih lama dan kembali lebih sering, batas antaraengagement, kebiasaan, dan adiksi menjadi semakin tipis.Dan di sanalah persoalan adiksi digital berhenti menjadi sekadar persoalan individu.Ia menjadi persoalan tentang bagaimana teknologi membentuk budaya, bagaimana budaya membentuk perilaku, dan bagaimana perilaku manusia kemudian menjadi data baru yang dimanfaatkan raksasa algoritma untuk mempertahankan atensi kita di platform digital.

————– *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!