Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau yang kembali menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir menuntut perhatian serius dari kita semua. Sebagai masyarakat yang hidup di lingkar cincin api (ring of fire), kita sudah sepatutnya tidak lagi terkejut, melainkan melangkah ke tingkat kesiapsiagaan yang lebih matang. Rekaman sejarah kelam tsunami Selat Sunda pada akhir 2018 silam harus menjadi pelajaran abadi bahwa erosi runtuhan bawah laut akibat erupsi dapat memicu bencana fatal tanpa didahului oleh gempa tektonik yang terasa.
Kita patut mengapresiasi kinerja Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta BMKG yang terus memperbarui status, memperluas zona aman, dan membagikan informasi visual secara berkala. Namun, tantangan terbesar dari setiap status siaga atau waspada sebuah gunung api bukanlah pada proses produksinya di hulu informasi, melainkan bagaimana informasi tersebut diserap, dipahami, dan direspons oleh masyarakat di hilir-khususnya warga pesisir Banten dan Lampung.
Ada beberapa catatan krusial yang perlu kita benahi bersama: Infrastruktur Mitigasi di Lapangan: Pengecekan jalur evakuasi secara berkala di desa-desa pesisir mutlak dilakukan. Banyak rambu evakuasi yang mulai pudar, tertutup vegetasi, atau bahkan jalurnya terhalang pembangunan bangunan baru. Modernisasi Alat Sensor: Keberadaan alat deteksi dini (Early Warning System) seperti sensor pasang surut air laut dan stasiun pemantau seismik di sekitar Selat Sunda harus dijaga dari tangan-tangan jahil maupun kerusakan alami. Investasi pada teknologi ini tidak boleh dipangkas karena menyangkut ratusan ribu nyawa. Edukasi Berkelanjutan vs Kepanikan Komunal: Masyarakat membutuhkan simulasi bencana (tsunami drill) yang rutin, bukan hanya sosialisasi formalitas setahun sekali. Menangkal Hoaks di Media Sosial: Setiap kali Anak Krakatau bergejolak, video lama atau berita palsu tentang gelombang tinggi langsung beredar luas di grup-grup percakapan digital. Ini memicu kepanikan massal yang kontraproduktif. Di sinilah peran tokoh masyarakat dan jurnalis lokal untuk menjadi jangkar informasi resmi yang menenangkan namun tetap waspada.
Rahmadika Puranto
Warga Peduli Bencana Pesisir Tinggal di Tuban Jawa Timur.


