Bojonegoro, Bhirawa – Kondisi cuaca dan lingkungan menjadi perhatian terhadap kesehatan ternak sapi di Kabupaten Bojonegoro. Pada Agustus tahun 2026, tercatat sebanyak 647 ekor sapi mengalami gangguan kesehatan. Dari jumlah tersebut, 464 ekor terserang Bovine Ephemeral Fever (BEF) dan 183 ekor mengalami scabies.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan di Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro drh. Lutfi Nurrahman, mengatakan kondisi cuaca dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan ternak. Karena itu, peternak diminta meningkatkan perhatian terhadap kondisi sapi maupun lingkungan kandang.
“Peternak harus memperhatikan kondisi ternaknya, terutama sanitasi lingkungan. Kebersihan kandang dan lingkungan sekitar harus dijaga. Ketersediaan air minum untuk ternak juga harus cukup,” ujar drh. Lutfi, Kamis (10/9/2026).
Kasus BEF menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan selama Agustus, dengan jumlah mencapai 464 ekor. Penyakit tersebut dapat menyebabkan sapi mengalami demam, lemas, hingga penurunan nafsu makan dan produktivitas.
Sementara itu, scabies tercatat sebanyak 183 ekor. Penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau tersebut dapat menular melalui kontak langsung antar ternak maupun lingkungan kandang yang kurang bersih.
drh. Lutfi menekankan pentingnya menjaga sanitasi kandang, terutama saat kondisi cuaca panas dan terjadi perubahan cuaca. Peternak juga perlu memastikan kebutuhan air minum ternak selalu tersedia dalam jumlah yang memadai.
Selain itu, peternak diimbau segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan apabila menemukan sapi yang menunjukkan tanda-tanda sakit. Deteksi dan penanganan secara dini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit serta menjaga kesehatan dan produktivitas ternak di wilayah Bojonegoro. [bas.kt]


