Oleh :
Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag.
Kepala Bagian Mata Kuliah Wajib Kurikulum UMM
Dalam pelajaran membaca kitab, santri dapat diminta mengulang satu kalimat karena keliru menentukan kedudukan kata. Koreksi itu kadang terasa melelahkan. Ia harus menjelaskan alasan sebuah kata dibaca demikian, hubungannya dengan kata sebelumnya, dan kesesuaian maknanya dengan konteks pembicaraan.
Kebiasaan tersebut terasa relevan ketika kita menerima informasi melalui layar. Sebuah kutipan beredar tanpa sumber, potongan ceramah kehilangan konteks, atau foto lama diberi keterangan tentang peristiwa baru. Semuanya menuntut kesediaan untuk berhenti sejenak dan menelusuri keterangan yang belum lengkap.
Namun, kecakapan membaca teks tidak dengan sendirinya menghasilkan kecakapan memeriksa informasi. Menentukan kedudukan kata berbeda dengan memastikan keaslian foto atau melacak asal sebuah kutipan. Ada keterampilan yang harus dipelajari dan kebiasaan yang mesti dibangun. Kita terlalu cepat berpuas diri jika menganggap penguasaan kitab sudah cukup membentengi seseorang dari kabar menyesatkan.
Peringatan Hari Santri semestinya menyisakan pekerjaan pendidikan yang diteruskan sepanjang tahun. Salah satunya ialah membiasakan santri cermat menerima kabar dan bertanggung jawab atas informasi yang dibagikannya. Tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, dapat diwujudkan melalui pembiasaan yang dekat dengan keseharian tersebut.
Sebagai pendidik dan alumni pesantren, saya melihat pembelajaran bahasa Arab menyediakan bekal untuk membangun kebiasaan tersebut. Namun, dalam mengajar, saya pernah mendapati mahasiswa yang cukup tepat menerjemahkan kutipan untuk presentasi, tetapi kesulitan menjelaskan sumbernya. Ia belum dapat menyebutkan penulisnya maupun pembahasan yang menjadi konteks kalimat itu.
Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa ketepatan terjemahan belum cukup menjadi ukuran pemahaman. Mahasiswa juga perlu mampu menjelaskan asal kutipan dan konteks penggunaannya. Kebiasaan membuka rujukan dan bertanya kepada guru perlu dilanjutkan dengan latihan menelusuri sumber sebelum sebuah kutipan digunakan untuk mendukung pendapat. Pembiasaan ini dapat dimulai sejak pendidikan pesantren.
Menguji Keyakinan Sendiri
Otokritik juga patut diarahkan pada cara kita memperlakukan sumber. Kita mungkin tekun menguji pendapat yang berseberangan, tetapi lebih longgar terhadap kabar yang menguntungkan kelompok sendiri. Nama pengirim yang dihormati membuat kita merasa tidak perlu bertanya lebih jauh.
Kecenderungan ini dapat menjangkiti siapa saja, termasuk mereka yang memiliki pendidikan agama. Pengetahuan tentang pentingnya kebenaran belum tentu membuat seseorang siap menerima kenyataan yang tidak disukainya. Karena itu, santri perlu dibiasakan menerima hasil pemeriksaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Kabar yang membela kelompok sendiri mungkin keliru, sementara keterangan dari pihak yang kurang disukai justru memiliki dasar.
Penghormatan kepada guru dapat menjadi bagian dari pembiasaan tersebut. Ketika sebuah pernyataan dinisbatkan kepada kiai, penelusuran sumber membantu memastikan bahwa beliau benar-benar mengatakannya dan kutipannya disampaikan secara utuh. Kehati-hatian itu melindungi nama guru dari pencatutan.
Ruang bertanya menjadi penting di sini. Santri dibimbing menyampaikan keraguan dengan santun, sementara pendidik menjelaskan dasar jawabannya. Jika pertanyaan tentang sumber terlalu cepat dianggap sebagai sikap tidak percaya kepada guru, kesempatan belajar akan menyempit. Santri mungkin berhenti bertanya, meskipun belum memahami jawabannya.
Tanggung jawab tersebut juga berlaku bagi pendidik. Kesediaan meralat keterangan memberi contoh bahwa pengetahuan dapat diperbaiki. Akan sulit mengajarkan keterbukaan terhadap bukti apabila guru sendiri selalu merasa harus benar.
Dari Kabar ke Kehidupan
Jadwal pesantren yang padat merupakan keberatan yang masuk akal. Namun, informasi memengaruhi keputusan santri dan keluarganya, mulai dari memilih beasiswa hingga mengikuti anjuran kesehatan. Pembelajaran tentang sumber dapat dimasukkan ke pelajaran bahasa, tugas presentasi, dan diskusi yang sudah berjalan.
Sekali sepekan, misalnya, satu informasi dibahas bersama. Santri menelusuri sumber awal, tanggal, konteks, dan bukti pendukungnya. Pendamping menilai sumber dan alasan yang mendasari kesimpulan santri. Di pesantren yang membatasi gawai, bahan dapat dicetak. Pembahasan tidak harus berakhir dengan kepastian apabila keterangannya memang belum cukup.
Kebiasaan yang sama berlaku ketika menggunakan kecerdasan buatan. Hasil terjemahan Arab dibandingkan dengan struktur dan konteks kalimat; rujukan yang dicantumkan ditelusuri keberadaannya. Santri diminta menjelaskan alasan menerima atau memperbaiki jawaban. Penilaian belajar menjadi kurang memadai jika kelancaran jawaban langsung dianggap sebagai bukti pemahaman.
Menelusuri sumber melatih seseorang menunda kesimpulan sampai keterangannya cukup. Kebiasaan ini juga diperlukan saat santri membaca persoalan di tengah masyarakat. Penilaian terhadap warga perlu bertumpu pada keadaan yang dipahami, sebab keterangan yang belum lengkap mudah melahirkan tuduhan yang tidak adil.
Sebelum menilai warga kurang peduli kebersihan, misalnya, santri dapat melihat ketersediaan tempat pembuangan dan mendengar pengalaman petugas pengangkut sampah. Bisa jadi persoalannya berkaitan dengan sarana, jadwal pengangkutan, kebiasaan penghuni, atau gabungan ketiganya. Dengan memahami keadaan warga, santri dapat menawarkan bantuan yang lebih sesuai.
Hari Santri memberi kesempatan untuk menilai sejauh mana pelajaran di ruang mengaji bekerja dalam kehidupan. Kemampuan membaca kitab menemukan manfaat yang lebih luas ketika membantu seseorang menahan tuduhan, meluruskan kabar, dan memahami kesulitan sesamanya. Kesediaan mengulang bacaan saat keliru semestinya juga menyertai kita ketika menilai orang lain.
————- *** ————-


