28.3 C
Sidoarjo
Saturday, November 7, 2026
spot_img

Menghidupkan Pilar Kampung Pancasila Melalui Ketukan Jari dan Peta Digital

Pancasila dalam Secangkir Kopi

Sabtu (7/11) pagi, di sudut Kelurahan Kertajaya –tepatnya di lingkungan RW 03 yang mengukuhkan diri sebagai pilar Kampung Pancasila– tidak pernah dimulai dengan sunyi. Suara denting sendok beradu dengan gelas kaca di warung kopi kecil milik Suyatno sudah menjadi bagian dari ritme hidup warga setempat. Warung itu bukan sekadar tempat menukar uang dengan secangkir hitam manis, melainkan ruang tunggu bagi cerita-cerita kecil tentang cucu yang baru lulus sekolah, harga beras yang merangkak naik, atau tetangga yang sakit dan perlu dijenguk.

Oleh:
Wahyu Kuncoro, Bhirawa Surabaya

Di balik kehangatan obrolan itu, sebelumnya ada kerisauan yang tersimpan lama dalam benak Suyatno –maupun pemilik warkop yang lain seperti warkop milik Bu Indah– saat menghadapi laju zaman yang bergerak terlalu cepat. Dagangan mereka sedap, pelanggannya setia, tetapi catatan keuangan masih ditulis di buku tulis kusut yang tintanya mulai pudar. Daftar harga (pricelist) menempel seadanya di dinding kayu dengan tulisan tangan yang hampir luntur. Ketika anak-anak muda lewat membawa ponsel pintar tanpa selembar pun uang tunai di saku, mereka hanya bisa tersenyum kikuk dan berkata, “Maaf ya, belum pakai QRIS.” Pilar ekonomi mereka seolah terisolasi dari derasnya arus modernisasi.

Kerisauan yang lama terpendam dalam benak Suyatno dan juga beberapa penjual warkop di RW 3 Kertajaya mulai terjawab saat dipertemukan dengan mahasiwa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di RW 3 Kelurahan Kertajaya. Tiga mahasiswa Untag Surabaya Nabila, Risa, dan Vincent yang berasal dari subkelompok ekonomi datang untuk menghidupkan kembali pilar Kampung Pancasila lewat aksi nyata yang presisi.

Berita Terkait :  Pusat Studi Kebudayaan UMM Bedah Kampung Budaya Polowijen

Langkah Sabar di Antara Gelas Kopi dan Meja Kayu

Bagi Nabila, Risa, dan Vincent, mendampingi UMKM di Kampung Pancasila bukan sekadar menuntaskan SKS atau mengisi laporan pertanggungjawaban. Mereka paham bahwa pilar ekonomi dalam Kampung Pancasila tidak bisa berdiri kokoh hanya dengan teori makroekonomi yang diajarkan di ruang kuliah ber-AC. Ekonomi Pancasila berarti ekonomi yang memanusiakan.

Pekan-pekan awal tidak langsung menghasilkan aplikasi canggih atau spanduk mentereng. Nabila duduk berjam-jam di bangku kayu warung Ibu Indah, menyeruput kopi sambil mendengar cerita bagaimana Ibu Indah merintis warung itu dari nol setelah suaminya tiada. Risa mencatat satu per satu menu, menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) secara sederhana tanpa membuat pemilik warung merasa sedang diinterogasi auditor pajak. Sementara Vincent, dengan laptop di pangkuan, membimbing Pak Suyatno dan Ibu Indah memahami kenapa sebuah usaha di abad ke-21 butuh “alamat digital”.

“Bu Indah, bukan berarti warung ibu jadi modern lalu hilang rasanya. Justru biar orang-orang dari luar Kertajaya tahu, kalau di gang ini ada kopi terenak se-Surabaya,” ucap Vincent lembut suatu siang, sembari menunjukkan layar ponselnya.

Satu per satu transformasi kecil itu dikerjakan dengan sabar. Nabila merancang ulang pricelist-bukan sekadar daftar harga yang membosankan, melainkan desain bernuansa hangat, jelas, dan kekinian yang ditempel rapi di papan akrilik kecil.

Berita Terkait :  Obesitas Anak Meningkat, Unusa-UNICEF Gelar Kampanye Gaya Hidup Sehat

Risa membantu mengurus pendaftaran QRIS standar sehingga warung-warung kecil itu bisa menerima pembayaran digital dari berbagai aplikasi perbankan dan Dompet Digital. Melalui ketukan jari di layar gawai, Vincent turun tangan memverifikasi titik koordinat, memotret produk dengan pencahayaan matahari sore yang pas, lalu mendaftarkan usaha mereka secara resmi ke Google Maps.

Ketika plang kecil bertuliskan nama warung mereka muncul di layar Google Maps, mata Pak Suyatno berkaca-cangkan. Untuk pertama kalinya, usaha kecil yang selama puluhan tahun hanya dikenal oleh warga satu-dua RT, kini memiliki peta digital. Mereka tidak lagi tersembunyi.

Suara dari Mereka yang Merasa Dijembatani
Kenyataan bahwa kampus hadir melebur bersama denyut nadi warga mendapat sambutan hangat dari berbagai pemangku kepentingan, membuktikan bahwa integrasi teknologi dan nilai luhur bangsa adalah jalan keluar bagi ekonomi akar rumput.

Lurah Kertajaya, Isworo Andik Sucahyo, menyampaikan apresiasi mendalam atas terobosan humanis tersebut.

“Apa yang dilakukan adik-adik mahasiswa Untag Surabaya ini melampaui sekadar pendampingan teknis. Mereka tidak datang membawa instruksi dari atas menara gading, tapi duduk bersama warga. Ketika UMKM seperti Ibu Indah dan Pak Suyatno melek digital-punya QRIS dan Google Maps-itu artinya pilar ekonomi Kampung Pancasila tidak tinggal slogan, melainkan hidup dalam dompet dan transaksi warga sehari-hari,” tuturnya tegas.

Senada dengan pihak kelurahan, Ketua RW 03 Kertajaya, Jaswadi, mengungkapkan rasa syukur atas perubahan atmosfer di wilayahnya. “Warga kami awalnya canggung dengan teknologi baru. Tapi kesabaran Nabila, Risa, dan Vincent meluluhkan kekakuan itu. Warung-warung yang dulunya sepi dari sentuhan inovasi, sekarang lebih bersih, tertata, dan percaya diri melayani pembeli dari berbagai kalangan. “Gotong royong khas Pancasila terbukti nyata di sini, mahasiswa berbagi ilmu, warga membuka pintu rumah dan hatinya,” ungkap Jaswadi.

Berita Terkait :  Universitas Brawijaya Sulap Desa Ngampungan jadi Smart Agriculture

Dikonfirmasi terpisah, terkait kontribusi kampus dalam mengungkit perekonomian UMKM, Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., menegaskan bahwa esensi “Kampus Merah Putih” yang menjadi slogan Untag Surabaya memang diuji ketika mahasiswanya terjun langsung ke tengah masyarakat.

“Kami di Untag Surabaya selalu menanamkan bahwa tri dharma perguruan tinggi harus berdampak. Ketika mahasiswa kami mendampingi UMKM di Kertajaya-dari urusan pricelist, QRIS, hingga titik peta digital-mereka sedang mempraktekkan nilai gotong royong Pancasila secara autentik. Ini bukan tentang seberapa megah teknologi yang diterapkan, melainkan bagaimana ilmu pengetahuan mampu mengangkat harkat hidup ekonomi rakyat kecil,” jelas Dr. Harjo Seputro.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Surabaya, Dr. Agus Imam Sonhaji, S.T., M.MT., menyoroti pentingnya replikasi pendekatan inklusif seperti ini.

“Pemberdayaan UMKM perkotaan sering kali terjebak pada program seremonial. Apa yang dilakukan di Kertajaya bersama Untag Surabaya adalah model pendampingan mikro yang presisi. Digitalisasi warung tradisional melalui QRIS dan geolokasi peta adalah jembatan vital agar ekonomi kerakyatan Surabaya tidak tertinggal oleh arus metropolitan,” pungkasnya. [why]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!