29.1 C
Sidoarjo
Friday, November 6, 2026
spot_img

Tingkatkan Kualitas Petani, Dinas Pertanian Bondowoso Perkuat Layanan Klinik Pertanian

Rapat koordinasi memperkuat layanan Klinik Pertanian pada Tim Teknis dari 23 kecamatan di Kabupaten Bondowoso.

Bondowoso, Bhirawa. – Tingkatkan kualitas pendampingan sekaligus mempermudah petani mendapatkan konsultasi, dan solusi pelbagai persoalan usaha tani, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso memperkuat layanan Klinik Pertanian di 23 kecamatan.

Penguatan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam menghadirkan pelayanan pertanian yang lebih responsif, terintegrasi, dan mudah dijangkau.

Klinik Pertanian diharapkan tidak hanya menjadi tempat konsultasi, tetapi juga pusat informasi, pendampingan teknis, serta penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi petani di lapangan.

Kepala Bidang Penyuluhan Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian pada DPKP Bondowoso, Mulayaningsih, S.P., M.M., saat dikonfirmasi pada Jumat (6/11/2026) di ruang kerjanya menjelaskan bahwa koordinasi tersebut dilakukan untuk memperkuat pelaksanaan pelayanan sekaligus meningkatkan sinergi antarpersonel dalam memberikan pendampingan kepada petani.

Dijelaskannya bahwa upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi Klinik Pertanian bersama tim teknis yang tersebar di 23 kecamatan Kabupaten Bondowoso pada Rabu (4/11/2026) kemarin.

Mulyaningsih menyampaikan bahwa penguatan layanan Klinik Pertanian mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, optimalisasi sarana dan prasarana, pengembangan pelayanan digital melalui e-Klinik Pertanian, serta peningkatan intensitas konsultasi teknis.

“Melalui penguatan layanan ini, kami berharap Klinik Pertanian dapat semakin optimal dalam memberikan pelayanan dan pendampingan kepada petani. Keberadaannya harus benar-benar memberikan manfaat, terutama dalam membantu petani mendapatkan informasi, konsultasi, dan solusi terhadap permasalahan pertanian yang dihadapi,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Wali Kota Mojokerto Sosialisasi Bahaya Narkoba ke Anggota PKK

Selain Kepala Bidang Penyuluhan Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian pada DPKP Bondowoso, Mulayaningsih, S.P., M.M., hadir pula PIC Klinik Pertanian Kusmiati, serta tim teknis Klinik Pertanian dari 23 kecamatan.

Dalam pelaksanaannya, Klinik Pertanian menyediakan berbagai layanan konsultasi teknis, mulai dari teknologi budidaya tanaman, pemupukan berimbang, identifikasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), pemeriksaan kondisi dan pH tanah, informasi benih unggul, hingga konsultasi sarana produksi dan penanganan pascapanen.

Selain mengoptimalkan pelayanan di lokasi klinik, DPKP Bondowoso juga mendorong pemanfaatan Mobil Klinik Pertanian untuk memperluas jangkauan pelayanan melalui kunjungan langsung ke desa dan kelompok tani.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan pelayanan jemput bola agar petani lebih mudah memperoleh pendampingan. Dengan kehadiran petugas secara langsung, berbagai kendala pertanian di lapangan diharapkan dapat diidentifikasi dan ditangani lebih cepat serta tepat sasaran.

“Optimalisasi Mobil Klinik Pertanian juga menjadi perhatian penting. Melalui layanan tersebut, pendampingan dapat menjangkau petani hingga ke desa dan kelompok tani, sehingga pelayanan pertanian tidak hanya terpusat di lokasi klinik,” jelasnya.

Di sisi lain, pengembangan e-Klinik Pertanian menjadi bagian dari transformasi pelayanan berbasis digital. Sistem ini diarahkan untuk mendukung pengelolaan konsultasi, pengaduan, dokumentasi kegiatan, tindak lanjut permasalahan, hingga pelaporan pelayanan secara lebih terstruktur dan terintegrasi.

Dengan dukungan digitalisasi, aktivitas pelayanan di setiap kecamatan dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala. Hal ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan transparansi, efektivitas, dan kualitas pengelolaan layanan pertanian.

Berita Terkait :  Bupati Pasuruan Larang Outing Class ke Luar Daerah, Wisuda Wajib di Dalam Sekolah

DPKP Bondowoso juga menekankan pentingnya koordinasi antara petugas Klinik Pertanian, penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), dan tenaga teknis agar pelaksanaan pelayanan berjalan sesuai fungsi serta tanggung jawab masing-masing.

Ketersediaan fasilitas harus diimbangi dengan pemanfaatan aset secara optimal, pemeliharaan peralatan, serta aktivitas pelayanan yang nyata dan terukur.

Untuk memastikan program berjalan efektif, monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala. Sejumlah indikator yang menjadi perhatian meliputi keaktifan petugas, jumlah petani yang terlayani, pemanfaatan sarana dan prasarana, aktivitas Mobil Klinik Pertanian, keaktifan penginputan data digital, serta tindak lanjut terhadap permasalahan yang disampaikan petani.

Melalui penguatan tersebut, DPKP Bondowoso berharap Klinik Pertanian dapat menjadi garda terdepan pelayanan pertanian di tingkat kecamatan. Keberadaannya diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan demikian, penguatan Klinik Pertanian bukan sekadar peningkatan fasilitas pelayanan, melainkan juga upaya membangun sistem pendampingan pertanian yang lebih dekat, aktif, dan berorientasi pada kebutuhan petani.

“Klinik Pertanian Bondowoso itu hadir, melayani, mendampingi, dan memberi solusi kepada petani,”pungkasnya. [san.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!