29 C
Sidoarjo
Tuesday, September 8, 2026
spot_img

Pemkab dan Capdin Gresik Gaspol, Lulusan SMK Tidak Boleh Nganggur


Gresik, Bhirawa – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bersama bersama Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Gresik mulai menggeber revitalisasi pendidikan vokasi, lulusan SMA dan SMK tidak berhenti pada ijazah. Harus memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja, diwujudkan melalui program revitalisasi sekolah vokasi menuju “Gresik Berkarya”.

Menggandeng dunia usaha, dan dunia industri (DUDI). Tiga kawasan industri besar, yakni Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Kawasan Industri Gresik (KIG), dan Kawasan Industri Maspion, didorong menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kompetensi siswa.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, bahwa kolaborasi tersebut menjadi jembatan untuk mempertemukan kebutuhan sekolah dengan tuntutan industri. Meski SMA dan SMK berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, Pemkab Gresik tetap mengambil peran melalui sinergi lintas sektor.

“Pemerintah Kabupaten Gresik berkolaborasi dengan Cabdin Pendidikan, kemudian bersinergi dengan tiga kawasan industri. Kita ingin mencoba link and match sebagai jembatan bagi siswa SMA dan SMK untuk mendapatkan kemudahan akses belajar, magang, peningkatan kapasitas, hingga sertifikasi kompetensi,” kata Gus Yani.

Perkembangan teknologi industri yang berlangsung cepat, menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Pola pembelajaran tidak boleh tertinggal, dari perubahan kebutuhan tenaga kerja.

Karena itu, peningkatan kapasitas guru menjadi bagian penting dari revitalisasi. Guru dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami teknologi dan perkembangan industri secara langsung.

Berita Terkait :  Dosen Umsida Beri Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Eksperimen Sains

“Teknologi di dunia industri semakin tinggi, harus menjadi alarm. Guru harus terus di-upgrade, sementara siswa diberikan kesempatan belajar langsung di industri melalui program magang,”ungkapnya.

Sebagai langkahnya, mendorong agar akses magang diperluas bagi SMK di berbagai wilayah Gresik. Sekolah seperti SMK Bungah, SMK Sidayu, SMK Ujungpangkah, SMK Menganti, dan SMK Driyorejo dinilai perlu mendapat akses magang sesuai kompetensi keahlian masing-masing. Sertifikasi kompetensi nantinya dapat dilakukan melalui lembaga yang berwenang, termasuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan sertifikat tersebut, lulusan SMK diharapkan memiliki bukti kompetensi yang lebih kuat saat bersaing memasuki pasar kerja.

“Coba SMK Bungah, SMK Sidayu, SMK Ujungpangkah, SMK Menganti, SMK Driyorejo diberikan kemudahan magang di sektor-sektor industri tersebut. Talenta mereka, kemudian didampingi dengan kompetensi berbasis sertifikasi. Pastinya, mereka akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.”jelasnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Gresik Eko Agus Suwandi mengatakan, pihaknya siap membuka ruang kolaborasi dengan Pemkab Gresik dan dunia industri. Sebanyak 122 lembaga pendidikan di bawah koordinasi Cabdin, sebaran meliputi Gresik Selatan sebanyak 39 lembaga, terdiri atas 16 SMA, 20 SMK, dan tiga SLB. Sementara Gresik Tengah memiliki 25 lembaga, Gresik Barat 12 lembaga, Gresik Utara 37 lembaga, dan wilayah kepulauan sembilan lembaga. Total peserta didik mencapai sekitar 45.696 siswa, terdiri atas 24.789 siswa SMK, 22.723 siswa SMA, dan 134 siswa SLB.

Berita Terkait :  Dua Dekade Lumpur Sidoarjo, Pakar Tekankan Urgensi Biomonitoring

“Kita punya kompetensi yang sama, bagaimana agar lulusan SMA dan SMK bisa mandiri, bisa berkarya. Bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, dan memberikan warna agar Gresik makin berkarya,” ujarnya.

Dengan One School One Industry, untuk memperkuat koneksi sekolah dan industri.

Akan memetakan sekolah dan jurusan berdasarkan karakteristik industri, yang berkembang di Gresik. Untuk mempertemukan sekolah dengan industri yang paling relevan, industri diharapkan tidak sekadar menjadi lokasi praktik kerja lapangan, tetapi ikut membina sekolah secara berkelanjutan.

“Konsepnya, industri menjadi “orang tua asuh”, sedangkan sekolah menjadi “anak asuh” yang dibina sesuai kebutuhan dunia kerja. Kerja sama dapat mencakup peningkatan keterampilan guru, evaluasi kompetensi siswa, pengembangan kurikulum, hingga membuka peluang rekrutmen lulusan.”jelasnya. [kim.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!