30 C
Sidoarjo
Friday, August 21, 2026
spot_img

Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI NU

Jombang, Bhirawa – KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab mendapatkan penghormatan dari Pimpinan Pusat Ikatan Seni Hadrah Indonesia (PP ISHARI). Mbah Wahab dianugerahi gelar ‘Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama’ atas jasanya merintis dan memperjuangkan seni hadrah, agar menjadi bagian dari perjalanan organisasi NU.

Penganugerahan gelar tersebut dilaksanakan pada angkaian Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU di Gedung Serba Guna (GSG) Hasbullah Said, Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis malam (20/8/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan oleh pengurus PP ISHARI kepada putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah atau Gus Hasib yang hadir mewakili keluarga besar dzurriyah Mbah Wahab.

Gus Hasib menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada Mbah Wahab.

Gus Hasib berharap penganugerahan tersebut membawa keberkahan bagi ISHARI dan mendorong organisasi seni hadrah itu semakin berkembang.

“Semoga penghargaan ini membawa berkah. ISHARI makin besar dan jaya,'” tutur Gus Hasib, Jumat (21/8/2026).

Acara istighosah itu diikuti ribuan warga nahdliyin, santri, anggota ISHARI, dan masyarakat umum.

Sejumlah tokoh penting PBNU juga hadir pada acara tersebut. Seperti Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, dan anggota Steering Committee Muktamar ke-35 NU Prof. Muh. Nuh.

Jajaran Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang juga tampak hadir, termasuk KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq.

Berita Terkait :  DPRD Kabupaten Mojokerto Tegas dalam Menjalankan Fungsi Pengawasan pada APBD

Penganugerahan gelar Bapak ISHARI NU kepada Mbah Wahab memiliki kaitan erat dengan sejarah perkembangan seni hadrah di lingkungan NU.

Mbah Wahab melihat tradisi majelis selawat Terbang Abdurrahim yang dirintis Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi dari Pasuruan sebagai salah satu media dakwah yang memiliki daya jangkau luas.

Pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab menggagas agar jam’iyyah hadrah itu masuk dalam naungan resmi NU. Dari gagasan tersebut kemudian lahirlah ISHARI.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan seni budaya Islam sebagai media dakwah sekaligus menumbuhkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada proses awal pembentukan ISHARI, Mbah Wahab melibatkan sejumlah ulama NU seperti KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, dan KH Muhammad bin Abdurrokhim.

Perjuangan Mbah Wahab kemudian berlanjut pada Agustus 1961. Mbah Wahab mengirim surat kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim untuk membentuk Pengurus Pusat ISHARI yang berkedudukan di Surabaya.

Musyawarah ulama dan tokoh hadrah se-Jawa Timur pada September 1961 kemudian menetapkan Mbah Wahab sebagai pembina dan pelindung dan KH Muhammad bin Abdurrokhim dipercaya menjadi ketua.

Peran Mbah Wahab dalam memperjuangkan ISHARI di lingkungan NU semakin terlihat ketika ia bersurat kepada Panitia Muktamar ke-23 NU di Surakarta.

Dalam surat tersebut, Mbah Wahab mendorong agar kesenian hadrah mendapat ruang dalam kegiatan muktamar. Dalam perkembangannya, ISHARI berada di bawah pembinaan Syuriyah NU.

Berita Terkait :  Diduga Anggaran Bansos Dipotosng, Aktivis Lamongan Demo

Perjalanan kelembagaan tersebut mencapai tahap penting saat ISHARI resmi menjadi Badan Otonom (Banom) NU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021.

Seni ISHARI memiliki ciri khas berupa perpaduan syair mahabbah kepada Rasulullah SAW, gerakan rodad, dan tepukan tangan yang dilakukan secara ritmis. Kesenian itu kemudian berkembang dari Pasuruan ke berbagai daerah, termasuk Jombang, Surabaya, Madura, hingga sejumlah wilayah lain di Indonesia. [rif.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!