Hari Raya Iduladha selalu menjadi momentum istimewa yang sarat akan makna bagi seluruh umat Islam. Lebih dari sekadar rutinitas tahunan untuk menyembelih hewan kurban, perayaan ini menyimpan nilai-nilai keteladanan luar biasa yang diwariskan oleh keluarga Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Di tengah pesatnya modernitas dan tantangan kehidupan yang serbacepat, esensi dari peristiwa agung ini sangat relevan untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Keteladanan pertama yang dapat kita petik adalah wujud keikhlasan dan ketaatan yang total kepada Sang Pencipta.
Perintah untuk mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai merupakan ujian keimanan tertinggi. Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kepatuhan kepada perintah Tuhan berada di atas segala-galanya, sementara Nabi Ismail dengan penuh kerelaan menerima keputusan tersebut sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua dan Tuhannya. Dalam konteks kekinian, keteladanan ini mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dan senantiasa menyeimbangkan antara urusan duniawi dengan spiritualitas.
Kedua, Iduladha mengajarkan arti penting komunikasi dan keharmonisan di dalam sebuah keluarga. Ketaatan Nabi Ismail tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari didikan yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan dari orang tuanya. Hal ini memberikan tamparan keras bagi dinamika keluarga masa kini, di mana kesibukan sering kali mengorbankan waktu kebersamaan dan komunikasi yang berkualitas antaranggota keluarga. Kisah teladan ini menuntut kita untuk membangun fondasi keluarga yang kuat, saling terbuka, dan saling mendukung dalam kebaikan.
Selain dimensi spiritual dan keluarga, Iduladha juga menguatkan dimensi kemanusiaan melalui ibadah kurban itu sendiri. Daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan adalah simbol nyata dari kepedulian sosial, keadilan, dan pemerataan rezeki. Praktik ini seakan menjadi pengingat bahwa di balik harta yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Solidaritas dan semangat berbagi inilah yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita saat ini, di mana kesenjangan sosial masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Siti Fatimah
Warga Karangrejo, Surabaya


