Pemprov Jatim, Bhirawa. – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan telur mentah dan setengah matang berisiko menyebablan infekso bakteri Salmonella yang dapat berakibat serius, terutama pada bayi dan anak. Hal ini disampaikan IDAI dalam menanggapi kasus meninggalnya bayi berusia 28 hari yang diduga diberi telur mentah sebelum menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Melalui pernyataam resmi IDAI, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menegaskan pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan. “Pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta aspek keamanan pangan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang optimal,” tegasnya, Senin (12/10).
Ia menegaskan telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko kontaminasi bakteri. “Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis,” lanjutnya.
Infeksi tersebut dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Selain berisiko menyebabkan infeksi, telur mentah atau setengah matang juga tidak memberikan keuntungan gizi yang membenarkan risiko pemberiannya kepada bayi. Ia juga mengingatkan orang tua agar memberikan makanan sesuai tahapan usia dan kesiapan perkembangan bayi. “ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi,” ungkapnya.
Setelah bayi berusia enam bulan, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia dua tahun atau lebih. Bayi yang belum mendapatkan MPASI tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan lain, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan. Pemberian MPASI secara umum dianjurkan mulai usia enam bulan karena kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui yang dapat dipenuhi oleh ASI saja.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu. Namun, keputusan tersebut harus berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. “Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan. Pemberian MPASI sejak usia 4 bulan bukan merupakan rekomendasi rutin, melainkan pertimbangan individual dalam kondisi tertentu,” lanjutnya.
IDAI menjelaskan telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk pertumbuhan anak. “Telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting bagi pertumbuhan anak,” jelasnya.
Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan pendamping ASI. IDAI menyarankan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang sempurna. Kebersihan peralatan, penyimpanan bahan makanan, serta pencegahan kontaminasi silang juga perlu diperhatikan.
Orang tua diminta menyesuaikan tekstur makanan dengan kemampuan makan bayi. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia atau kemampuan menelan dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi, dan gangguan pemberian makan. Ia juga menegaskan tidak diperlukan penundaan pemberian telur hingga anak berusia satu tahun semata-mata untuk mencegah alergi, kecuali terdapat pertimbangan medis khusus.
Sementara itu, Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan bayi berusia 28 hari tersebut sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu. “Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Namun pasien dinyatakan meninggal dunia pagi tadi (11/10) sekitar pukul 07.10,” kata Robeth.
Robeth mengatakan pihak rumah sakit tidak dapat menyampaikan kronologi maupun detail diagnosis pasien secara terbuka. “Terkait kronologis dan detail diagnosa pasien, kami tidak dapat menyampaikannya secara terbuka serta demi menghormati masa berduka pihak keluarga,” ujarnya.[ina.ca]






