25.8 C
Sidoarjo
Sunday, October 11, 2026
spot_img

Wamenag Romo Syafi’i Tutup Mahasabha XIII Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat

Wakil Menteri Agama, Romo H.R. Muhammad Syafi’i ketika menutup Mahasabha XIII Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Minggu (11/10/2026]. tjitjiek rahayu soerjo/bhirawa.

Jakarta, Bhirawa. – Mahasabha XIII Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat yang berlangsung 8-11 Oktober 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat telah berakhir. Penutupan dilakukan oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i, Minggu (11/10/2026). Wamenag yang biasa disapa Romi Syafi’i ini, memberi apresiasi kepada panitia dan peserta yang telah hadir dalam Mahasabha.

“Saya menyampaikan penghargaan kepada seluruh panitia dan peserta yang telah mengikuti seluruh rangkaian Mahasabha XIII dengan penuh tanggung jawab. Mahasabha ini penting sebagai ruang bersama untuk bermusyawarah, menyatukan pandangan dan merumuskan langkah PHDI ke depan,” ujar Romo Syafi’i ketika menutup Mahasabha.

Mahasabha XIII mengangkat tema Penguatan PHDI melalui Dharma Agama dan Dharma Negara menuju Indonesia Raya. Romo Syafi’i menilai, tema itu mengandung pesan, bahwa penguatan organisasi tidak hanya berkaitan dengan kelembagaan. Melainkan juga bagaimana nilai-nilai dharma diwujudkan dalam kehidupan umat, masyarakat, bangsa, dan negara.

Selain itu, Mahasabha bukan pula semata-mata forum untuk memilih dan menetapkan kepengurusan. Mahasabha adalah momentum kebersamaan untuk mempertemukan pikiran, pengalaman, dan kebijaksanaan dalam merumuskan langkah organisasi yang berpijak pada dharma serta kepentingan umat. Romo Syafi’i pun, mengutip Manawa Dharmasastra, Bab 12 Sloka 111.

Berita Terkait :  Momen Terakhir Sekdakab Madiun Tontro Pahlawanto Berhadapan dengan ASN Sebelum Masa Bhaktinya Berakhir

Sloka itu, menegaskan bahwa Parisada dibangun atas pengetahuan dan pemahaman terhadap dharma. Kehadiran orang-orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan menalar, dan pemahaman keagamaan menjadi bagian penting dalam memberikan pertimbangan bagi kehidupan umat.

Karena itu, kata Romo Syafi’i, Mahasabha XIII hendaknya melahirkan keputusan yang berlandaskan dharma dan kepentingan umat, serta dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata setelah Mahasabha berakhir.

Dia mengingatkan agar yang mendapat kepercayaan mengemban amanah kepemimpinan dapat menjalankan dengan penuh tanggung jawab, kerendahan hati, dan semangat melayani.

Sementara kepada yang belum mendapatkan kepercayaan, dia berharap tetap menjadi bagian penting dari perjalanan PHDI.

Menurutnya, pengabdian kepada umat tidak berhenti pada hasil pemilihan. Lantaran pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran setiap tokoh tetap dibutuhkan.

“Pasca pelaksanaan Mahasabha XIII, marilah kita menempatkan kepentingan umat dan dharma di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Yang memperoleh amanah hendaknya merangkul. Yang belum memperoleh amanah, hendaknya tetap memberikan dukungan serta kontribusi. Persatuan harus menjadi kekuatan bersama PHDI,” papar Romo Syafi’i.

Dia pun menitipkan tiga pesan kepada seluruh peserta Mahasabha XIII. Pertama, perkuat persatuan dan konsolidasi umat. Sebab, PHDI perlu menjadi ruang bersama yang mampu mempertemukan berbagai potensi, pemikiran, dan pengalaman umat Hindu. Perbedaan pandangan hendaknya dikelola melalui dialog dan musyawarah, sedangkan keputusan yang telah disepakati menjadi pijakan bersama untuk melangkah ke depan.

Berita Terkait :  Gus Fawait Yakini Jadi Pengungkit Ekonomi dan Tekan Pengangguran

Kedua, hidupkan nilai ekoteologi dalam kehidupan umat dan organisasi. Ekoteologi, kata mantan Anggota Komisi III DPR RI ini, hendaknya tidak berhenti sebagai wacana. Melainkan, diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam perspektif Hindu, Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Yadnya mengajarkan pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

“Nilai tersebut perlu diterjemahkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama,” ucap Romo Syafi’i.

Ketiga, perkuat kemitraan PHDI dengan pemerintah. Pemerintah dan organisasi keagamaan memiliki ruang pengabdian yang saling melengkapi. Kemitraan perlu terus dikembangkan untuk memperkuat kerukunan, meningkatkan kualitas pembinaan umat, serta menghadirkan pelayanan keagamaan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
 
Romo Syafi’i menyatakan, keberhasilan Mahasabha XIII bukan hanya terletak pada tersusunnya keputusan dan kepengurusan, tetapi sejauh mana hasil Mahasabha dapat diterjemahkan menjadi gerakan, pelayanan, dan keteladanan yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat.

“Inilah semangat beragama yang berdampak: nilai agama hadir dalam kehidupan nyata, memperkuat kemanusiaan, menjaga kerukunan, dan mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Dharma Agama dan Dharma Negara hendaknya berjalan beriringan,” papar Romo Syafi’i.

Pengamalan dharma, kata dia, tidak hanya membentuk pribadi yang baik. Tetapi juga mendorong umat untuk memberikan kontribusi positif bagi kehidupan bersama. PHDI pun, diharapkan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun umat Hindu yang religius, rukun, peduli terhadap lingkungan, serta aktif memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Berita Terkait :  Perkuat Tata Kelola Pendidikan, BULD DPD RI Dorong Harmonisasi Regulasi Pusat-Daerah

“Saya menyampaikan apresiasi atas seluruh proses yang telah dilalui dalam Mahasabha XIII. Semoga hasil musyawarah yang telah dicapai dapat menjadi pijakan untuk memperkuat PHDI, memperkokoh persatuan umat Hindu, meningkatkan pelayanan kepada umat, dan memperluas pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” papar Romo Syafi’i.

Sementara Ketua Panitia Mahasabha XIII yang juga Ketua PHDI Pusat terpilih untuk masa bakti 2026-2031, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, mengapresiasi setinggi tingginya dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wamenag di penutupan Mahasabha. Dia mengatakan, Mahasabha selama empat hari telah berjalan aman, lancar, tertib dan dengan rasa kekeluargaan.

Agenda utama Mahasabha adalah pergantian kepemimpinan yang berjalan demokratis dan telah menentukan kepemimpinan baru untuk masa bakti lima tahun ke depan.

“Pertama Dharma Adhyaksa. Lalu Ketua Sabha Walaka dan Ketua Pengurus Harian PHDI. Astunggara dalam perjalanan saya terpilih sebagai Ketua PHDI Pusat. Visi kepengurusan PHDI baru adalah mewujukan PHDI sebagai rumah besar Hindu nusantara dalam menjalankan dharma agama dan dharma negara menuju Indonesia Raya,” tutup Nyoman Cantiasa. [ira.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!