Sejarah bangsa mencatat perubahan besar tidak pernah lahir dari ruang birokrasi yang tenang, melainkan dari gemuruh suara mahasiswa di jalanan dan mimbar akademik. Belakangan ini, kita disuguhkan pemandangan menggetarkan jiwa: aksi gagah berani mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menyuarakan kritik tajam terhadap penguasa. Sebagai bagian dari masyarakat sipil yang merindukan keadilan, saya menulis surat pembaca ini guna mengekspresikan rasa bangga, hormat, dan dukungan penuh atas gerakan moral mereka.
Di tengah situasi nasional yang dipenuhi kompromi politik dan melemahnya check and balances, keberanian mahasiswa UI bagaikan oase di padang pasir. Mereka tidak memilih diam mengamankan zona nyaman sebagai intelektual menara gading. Sebaliknya, mereka turun ke gelanggang, mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatan demi menjadi penyambung lidah rakyat. Kritik mereka-baik melalui kajian akademis rigid, aksi massa tertib, hingga narasi kreatif di media sosial-bukanlah tindakan makar atau kebencian buta, melainkan manifestasi tertinggi rasa cinta kepada tanah air.
Menuduh aksi kritis mahasiswa mengganggu ketertiban atau ditunggangi kepentingan politik praktis adalah cara kuno penguasa mengalihkan substansi masalah. Esensi demokrasi yang sehat adalah hadirnya oposisi moral independen, dan peran itu hari ini diambil alih dengan sangat anggun oleh mahasiswa UI. Ketika hukum tampak tajam ke bawah namun tumpul ke atas, serta kebijakan publik menjauh dari kesejahteraan rakyat, suara mahasiswalah yang menjadi benteng pertahanan terakhir. Mereka mengingatkan para pemangku kebijakan bahwa kekuasaan adalah amanah rakyat, bukan hak milik pribadi yang bisa dijalankan tanpa batas.
Saya mengajak seluruh elemen masyarakat-orang tua, buruh, petani, profesional, hingga akademisi-untuk tidak membiarkan mahasiswa berjuang sendirian. Kita harus menjadi perisai bagi mereka. Segala bentuk intimidasi, baik secara digital, akademis, maupun fisik yang diarahkan kepada para pejuang muda ini harus kita lawan bersama. Kepada adik-adik mahasiswa UI, teruslah maju dengan gagah berani! Jaket kuning yang kalian kenakan bukan sekadar identitas kampus, melainkan lambang harapan bagi jutaan rakyat Indonesia yang mendambakan keadilan sosial. Pemikiran kritis dan keberanian kalian adalah api yang menjaga demokrasi tetap hidup. Jangan pernah gentar menghadapi represi, karena sejarah selalu berpihak pada mereka yang memperjuangkan kebenaran. Kami bersama kalian!
Kartika Amalia Salsabila
Mahasiswi, kost di Semolowaru Surabaya



