Surabaya, Bhirawa – Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya) memiliki empat paten di bidang produk herbal kesehatan di usianya yang ke-38 tahun.
Keempat inovasi tersebut antara lain obat kumur berbasis ekstrak daun stevia, tisu wajah berbahan kulit jagung, ekstrak kulit manggis sebagai penghambat pertumbuhan sel kanker leukimia, dan tisu antibakteri yang terbuat dari kulit jagung dengan aditif kitosan dan ekstrak kulit manggis. Rabu, (21/10/2026)
Dosen FF Ubaya, Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm., M.Farm.Klin. mengatakan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua di dunia seharusnya bisa dimaksimalkan menunjang kualitas kesehatan masyarakatnya.
“Saya tertarik mengeksplorasi potensi kekayaan alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan herbal, tetapi faktanya pemanfaatan dan riset ilmiah untuk pembuktian manfaatnya masih sangat minim dilakukan,” jelasnya.
Lanjut Marisca menjelaskan Inovasi Tisu Antibakteri yang Terbuat dari Kulit Jagung dengan Aditif Kitosan dan Ekstrak Kulit Manggis jadi contoh invensi yang berhasil terpilih sebagai salah satu dosen muda dengan paten inspiratif.
“Simpel tapi berdampak, deskripsi yang tepat menjelaskan inovasi tisu jagung antibakteri hasil pengembangan saya dan tim, bahannya lebih ramah lingkungan karena menggunakan kulit jagung, namun ada manfaat antibakteri dari kitosan dan kulit manggis yang sudah terbukti secara klinis aman bagi yang memiliki alergi dan kulit sensitif,” tuturnya.
Marisca mengukapkan selain paten menunjukkan keseriusannya dalam memanfaatkan etnobotani lokal melalui pengabdian multitahun di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan integrasi akademik dan pemberdayaan masyarakat, tim berhasil menciptakan pionir desa atsiri yang meraih rekor MURI.
Tidak cuman pemanfaatan etnobotani di masyarakat, Marisca turut berkiprah menjadi ketua Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) di bawah naungan Fakultas Farmasi Ubaya sejak tahun 2022 hingga 2025. Sekarang menjabat sebagai Koordinator Sentra Kekayaan Intelektual Ubaya guna mendukung perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan kekayaan intelektual secara profesional, tertib, dan berkelanjutan.
Marisca menambahkan kedepan tetap memaksimalkan perannya sebagai akademisi dalam perwujudan tridharma perguruan tinggi.
“Sebagai dosen, sangat suka apabila para mahasiswa juga memiliki semangat yang tinggi untuk berinovasi, berbagai riset dan prestasi yang menjadi buah perjuangan mereka selama ini, terkandung rasa haru, bangga, dan kesenangan tersendiri, akan terus berinovasi dan mencari potensi etnobotani Indonesia untuk diberdayakan sebagai obat herbal,” imbuhnya. [ren.wwn]




