Kabupaten Pasuruan, Bhirawa
Detak urat nadi perdagangan hewan kurban menjelang Idul Adha di Kabupaten Pasuruan mulai meroket.
Mengantisipasi serbuan blantik (pedagang) musiman dan menjamin keamanan konsumen, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Pasuruan langsung mengambil langkah preventif superketat.
Mulai pekan ini, razia dan skrining kesehatan hewan ternak diintensifkan di seluruh penjuru wilayah. Strateginya tak main-main. Setiap lapak yang dinyatakan lolos verifikasi medis akan dibekali surat resmi berupa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Cetakan surat tersebut wajib dipajang secara mencolok di bagian depan lapak jualan. Langkah visual itu diambil sebagai kompas utama bagi masyarakat agar tidak terjebak membeli hewan kurban yang berpenyakit.
Pantauan di lapangan, Kamis (21/5) menunjukkan, tim dokter hewan spesialis dari DKP3 langsung diterjunkan ke titik-titik krusial. Mereka menyisir satu per satu lapak kambing dan sapi yang mulai menjamur di pinggir jalan protokol hingga jalur pelosok kecamatan.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh (antemortem), mulai dari mengecek suhu tubuh, kebersihan rabaan kulit, kondisi mata hingga struktur gigi.
Luasnya wilayah Kabupaten Pasuruan diantisipasi dengan mobilisasi personel skala besar. Tidak tanggung-tanggung, ratusan pasukan hijau pengawas kesehatan hewan disiagakan penuh untuk mengawal rantai pasokan hewan kurban tahun 2026 ini.
“Kami membentuk tim pengawas hewan kurban sebanyak seratus orang yang disebar di seluruh kecamatan selama masa pemeriksaan berlangsung,” tegas Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Kabupaten Pasuruan, Muhammad Syaifi, saat memimpin sidak lapangan.
Syaifi menjelaskan, skenario pengawasan ini dirancang berlanjut. Tim tidak hanya bekerja di fase pra-penjualan di jalanan, melainkan tetap memegang komando pemantauan hingga proses penyembelihan (postmortem) di takmir-takmir masjid selesai dilakukan.
Meskipun tren kasus penyakit menular cenderung melandai, DKP3 menolak lengah. Kewaspadaan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tetap dipasang di level tertinggi. Petugas di lapangan dituntut jeli membedakan antara ternak yang sekadar kelelahan akibat perjalanan dengan ternak yang membawa paspor penyakit berbahaya.
“Penyakit ternak seperti PMK masih harus kita waspadai. Selain itu, kami pastikan kelayakan hewan kurban dari sisi usia atau yang sudah poel (gigi tanggal). Prosedur pemeriksaan ini sangat krusial untuk menghasilkan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal bagi konsumen,” kata Syaifi bersemangat.
Sistem verifikasi tahun ini menerapkan aturan yang lebih tegas. Begitu tim dokter selesai melakukan pemeriksaan fisik dan menyatakan seluruh koloni ternak di lapak tersebut bebas penyakit, selembar surat resmi berstempel basah langsung diserahkan di tempat.
Syaifi mewanti-wanti para pedagang agar surat tersebut diletakkan di etalase depan atau tiang utama lapak yang paling mudah disorot mata calon pembeli.
“Usai diperiksa dokter hewan dan dinyatakan sehat, kami segera memberikan surat keterangan kesehatan hewan kepada pemilik lapak. Dokumen tersebut merupakan jaminan bahwa ternak yang dijual telah melalui pengamatan fisik yang ketat oleh para ahli,” kata Syaifi
Di sisi lain, kebijakan ketat ini justru mendapat tepuk tangan dari para pedagang. Alih-alih merasa risih dipelototi petugas, para blantik mengaku kehadiran tim dokter justru mendongkrak omzet mereka di tengah tren kenaikan permintaan yang mulai terasa meski Idul Adha masih beberapa pekan lagi.
Salah satu pemilik lapak herwan kurban di wilayah Kecamatan Pohjentrek, Irfan (41), mengakui pesanan sapi dan kambing di tempatnya sudah mengalir deras.
Dengan adanya surat resmi yang nempel di depan lapaknya, ia tak perlu lagi bersilat lidah meyakinkan pembeli yang cerewet soal kesehatan ternak.
“Saat ini pesanan sudah mulai banyak masuk dengan harga yang bervariasi tergantung jenis dan bobot hewan yang dipilih pembeli. Jujur, adanya pemeriksaan rutin dan surat yang dipajang di depan ini sangat membantu menjaga reputasi usaha kami. Pembeli yang datang langsung percaya begitu lihat ada surat dari dinas,” urai Irfan, sembari menunjukkan lembaran SKKH yang terpasang rapi di tiang bambu depan lapaknya. [hil.kt]


