35.9 C
Sidoarjo
Thursday, October 22, 2026
spot_img

Di Balik Bisnis Botega.id: Peka Membaca Pasar, Cermat Menghitung Biaya

Surabaya, Bhirawa — Bagi CEO Botega.id, Evelyn Wijaya, lilin bukan sekadar barang yang diproduksi, dikemas, lalu dijual. Dari produk itu, ia mengembangkan pengalaman: mengajak pelanggan meracik dan membuat lilinnya sendiri melalui lokakarya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara Evelyn membangun pembeda dalam usaha yang dirintisnya pada 2021. Ia tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga kesempatan bagi pelanggan untuk terlibat dalam proses pembuatannya.

“Aku sudah tidak pernah berjualan lilin sebenarnya. Aku menjual workshop. Jadi, teman-teman, kamu racik sendiri saja, bikin sendiri saja,” kata Evelyn saat berbagi pengalaman dalam Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Penguatan Ekonomi Produktif dan Peningkatan Daya Saing Usaha DWP se-Jawa Timur, Kamis (22/10/2026) pagi.

Kegiatan bertema Usaha Bermutu dan Berdaya Saing, Keluarga Mandiri dan Sejahtera itu berlangsung di Ruang Rapat Hayam Wuruk, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan 110, Surabaya.

Di hadapan peserta, Evelyn menjelaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk yang sama sekali belum ada. Pelaku usaha bisa mengembangkan sesuatu yang telah dikenal masyarakat, kemudian menawarkan manfaat, tampilan, maupun pengalaman yang berbeda.

“Kita itu diminta untuk membuat kombinasi baru, bukan untuk membuat produk baru. Jadi, apa yang sudah ada, kita bikin pembedanya,” ujarnya.

Berangkat dari Masalah, Bukan Sekadar Membuat Produk

Dalam mengembangkan usaha, Evelyn menempatkan kepekaan terhadap persoalan konsumen sebagai titik awal. Menurutnya, pelaku usaha perlu mencari tahu masalah yang dihadapi calon pelanggan sebelum memutuskan barang atau layanan yang akan ditawarkan.

Prosesnya dimulai dari observasi, mengumpulkan informasi, kemudian menganalisis kebutuhan. Setelah solusi dirancang, pelaku usaha perlu kembali meminta tanggapan calon pengguna sekaligus mempelajari pesaing.

Berita Terkait :  Pembangunan Pasar Pancasila Selesai, Pedagang Sudah Bisa Mulai Berjualan

“Kita mencari masalahnya dulu. Kemudian yang kedua adalah mencari informasi, kebutuhannya orang-orang itu seperti apa. Kita harus mencari informasi, menginterview orang,” tuturnya.

Ia mencontohkan seseorang yang ingin menikmati perawatan spa, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk datang ke tempat perawatan. Kebutuhan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menawarkan pengalaman spa di rumah melalui produk seperti lilin, pengharum ruangan, lulur, dan sabun.

Bagi Evelyn, gagasan usaha perlu diuji melalui percakapan dengan calon pelanggan. Dengan begitu, produk tidak hanya lahir dari keinginan pembuatnya, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan orang yang akan membeli.

Riset tersebut ia lengkapi dengan pengamatan melalui media sosial. Evelyn menggunakan TikTok untuk melihat tren, Instagram untuk mengamati gaya hidup konsumen, serta Pinterest untuk mencari inspirasi kemasan dan tampilan produk.

“Kalau saya cari tren, itu pasti di TikTok. Kemudian di Instagram, bagaimana lifestyle mereka. Kalau mau packaging yang cantik, model-model produk yang cantik, itu biasanya di Pinterest,” katanya.

Mengelola Usaha dengan Kepedulian

Pengelolaan Botega.id juga tidak hanya berpusat pada penjualan. Evelyn menyebut tiga hal yang menjadi perhatiannya, yakni people, planet, dan profit: manusia, lingkungan, serta keuntungan.

“Usaha saya ini tidak cuma hanya menjual produk, tapi saya juga memperhatikan people, planet, dan profit. Jadi, saya mempedulikan tentang siapa yang bekerja dengan saya,” ujarnya.

Dalam aspek tenaga kerja, ia menyatakan terbuka memberikan kesempatan kepada perempuan dengan keterbatasan akses maupun penyandang disabilitas. Baginya, latar belakang pendidikan tinggi bukan satu-satunya pertimbangan untuk menerima seseorang bekerja.

Sementara itu, perhatian terhadap lingkungan diwujudkan melalui penggunaan kembali kemasan. Evelyn mengatakan, pelanggan dapat mengembalikan kemasan produknya untuk dibersihkan dan dimanfaatkan lagi. “Packaging saya itu tidak cuma sekali pakai, tapi bisa dipakai berulang-ulang,” katanya.

Berita Terkait :  Rayakan Ramadan 1447 H, JNE Hadirkan Solusi Pengiriman Kendaraan dengan Spesial Promo

Ia juga menceritakan pemanfaatan ampas kelapa yang dikeringkan dan disangrai sebagai bahan scrub pada sabun. Dalam pelatihan lain, Evelyn pernah mengajarkan pembuatan lulur berbahan ampas kopi.

Pemanfaatan bahan sisa tersebut ia tempatkan sebagai bagian dari upaya mencari peluang dari sumber daya yang tersedia di sekitar. Selain itu, Evelyn menyebut bahan-bahan yang digunakannya berasal dari petani lokal.

Kreatif Membuat Produk, Disiplin Menghitung Biaya

Di balik pengembangan produk dan kepedulian sosial, Evelyn mengingatkan pentingnya pencatatan biaya. Ia mengakui pernah mengalami kerugian pada awal berjualan karena perhitungan harga pokok produksi yang belum tertata. “Kadang kita menghitung HPP itu masih berantakan. Dulu pertama kali waktu saya jualan itu boncos malahan,” ungkapnya.

Dari pengalaman itu, ia membiasakan pencatatan kebutuhan produksi secara terperinci. Nota pembelian perlu disimpan agar harga, jumlah isi, serta biaya bahan yang benar-benar digunakan dapat diketahui.

Ia mencontohkan minyak yang dibeli dalam kemasan satu liter, tetapi hanya digunakan beberapa mililiter untuk satu produk. Biaya yang dimasukkan ke perhitungan harus mengikuti jumlah pemakaian, bukan langsung membebankan seluruh harga pembelian pada satu produk.

“Caranya menghitung adalah harganya berapa, dibagi jumlahnya berapa. Kemudian kita butuhnya berapa,” jelasnya.

Selain bahan baku, Evelyn mengingatkan peserta agar memperhitungkan kemasan dan perlengkapan pendukung. Biaya listrik, air, gaji pegawai, serta sewa juga perlu diperhatikan dalam pengelolaan usaha.

Dalam praktik pribadinya, ia menambahkan alokasi biaya berjaga-jaga sebesar 10 persen. Pilihan itu, menurut Evelyn, diambil agar harga produknya tidak membengkak.

Berita Terkait :  PT Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40 Ribu Ton untuk Perkuat Bahan Baku NPK Nasional

Ia turut mengenalkan perhitungan titik impas kepada peserta. Melalui perhitungan tersebut, pelaku usaha dapat menetapkan target penjualan agar kebutuhan operasional dapat tertutup. “Jadi, tidak untung maupun tidak rugi, tapi kita bisa bayar pegawai,” ujarnya.

Menata Arah Usaha hingga Menjaga Hubungan Pelanggan

Agar usaha memiliki arah, Evelyn menekankan penyusunan business model canvas sebagai peta pengelolaan bisnis. Dalam paparannya, ia mengajak peserta mengenali segmen pelanggan, nilai yang ditawarkan, saluran penjualan, hubungan pelanggan, sumber pemasukan, sumber daya, aktivitas utama, serta struktur biaya.

Ia juga menempatkan pegawai sebagai bagian penting dalam keberlangsungan usaha. “Pegawai kita itu juga kunci utama kita. Jadi, jangan disia-siakan pegawainya,” pesannya.

Pada sisi pemasaran, Evelyn memadukan pendekatan berbasis hubungan dengan pemanfaatan kanal digital. Menawarkan produk kepada teman, tetangga, komunitas, maupun melalui pameran tetap ia tempatkan sebagai pilihan, berdampingan dengan WhatsApp Business, media sosial, dan lokapasar.

Untuk mengisi kanal digital, ia menyarankan tiga jenis konten yang dapat dibuat dari aktivitas sehari-hari: edukasi produk, proses di balik layar, dan promosi. Proses pembuatan lilin, misalnya, dapat direkam menjadi video pendek untuk memperkenalkan cara kerja usaha kepada calon pelanggan.

Melalui pengalamannya mengelola Botega.id, Evelyn menunjukkan bahwa pembeda usaha dapat dibangun dari banyak sisi. Bukan hanya bentuk barang, tetapi juga cara memahami kebutuhan, melibatkan pelanggan, mengelola sumber daya, serta memastikan setiap biaya tercatat. Dari sanalah ia mengembangkan usaha yang tidak berhenti pada transaksi penjualan, melainkan juga menawarkan pengalaman.  [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!