Surabaya, Bhirawa
Sekarang ini, ruang digital bukan lagi cuma sekadar etalase pelengkap buat UMKM, tapi sudah jadi medan perang yang sebenarnya. Mau mahasiswa yang baru merintis usaha atau pelaku bisnis lama, semua berlomba-lomba bikin visual feeds Instagram yang estetik, ngulik algoritma TikTok, sampai optimasi e-commerce demi menarik perhatian konsumen.
Di tengah ramainya kompetisi ini, ada satu fenomena menarik di lapangan: seorang pelaku usaha yang nekat jalanin dua lini produk kuliner yang sangat bertolak belakang, yaitu Sambal Dapoer Debbie dan Dapoer Debbie Cookies. Kalau dipikir pakai logika pemasaran konvensional, langkah ini sekilas kelihatan aneh dan berisiko memecah fokus. Bagaimana bisa dari satu dapur yang sama lahir sengatan pedas-gurih sambal cumi yang merakyat, tapi di saat bersamaan juga memproduksi manisnya cookies yang identik dengan momen santai? Tapi, kalau kita bedah lewat kacamata digital branding, kontradiksi rasa ini sebenarnya punya potensi cuan yang gede. Kuncinya cuma satu: si pemilik harus tahu cara mainin segmentasi pasar digital mereka secara rapi.
Jebakan “Satu Akun buat Semua” yang Bikin Bingung
Kesalahan paling sering yang dilakukan pelaku UMKM yang punya banyak produk adalah pengen serba praktis. Biar hemat waktu, mereka gabungin semua produk ke dalam satu akun media sosial yang sama. Secara psikologi konsumen, ini adalah blunder besar yang bikin akun tersebut ngalamin krisis identitas (identity crisis).
Bayangkan saja, sebuah akun Instagram hari ini nge-post video close-up minyak sambal cumi yang merah merona dan bikin ngiler, tapi besoknya tiba-tiba nge-post foto cookies dengan dekorasi pastel yang minimalis dan estetik. Kontras visual yang terlalu ekstrem ini malah bikin audiens bingung. Konsumen yang awalnya mampir buat cari lauk makan siang bakal ngerasa aneh lihat kue kering, begitu juga sebaliknya. Selain ngerusak estetika feeds, algoritma media sosial juga bakal pusing membaca siapa sebenarnya target audiens utama kita. Jadi, langkah pertama yang wajib hukumnya adalah memisahkan akun media sosial keduanya.
Membedah Dua Persona Digital yang Kontras
Setelah akunnya dipisah, tantangan berikutnya adalah menghidupkan karakter atau persona dari masing-masing produk lewat digital storytelling. Si pemilik harus bisa mainin “dua peran” yang disesuaikan dengan psikologi konsumennya:
“Sambal Dapoer Debbie (Persona: Menggugah Selera & Solutif): Target pasarnya adalah anak kos, mahasiswa, atau pekerja kantoran yang pengen makan enak tapi praktis. Strategi kontennya harus fokus ke visual yang bikin lapar, kayak video ASMR mukbang, kepulan asap nasi hangat, atau kemudahan botolnya saat dibawa jalan-jalan. Narasi yang dijual adalah solusi, misalnya sebagai “penyelamat tanggal tua” atau “makan nikmat tanpa ribet”. Warna-warna berani seperti merah dan oranye wajib mendominasi buat merangsang rasa lapar audiens.
“Dapoer Debbie Cookies (Persona: Estetik & Self-Reward): Target pasarnya bergeser ke orang-orang yang cari momen santai atau buat hadiah (hampers). Visualnya harus bersih, pakai warm tones atau warna pastel yang estetik. Kontennya wajib menjual suasana (ambience), misalnya momen minum kopi sore-sore sambil makan cookies, atau konsep me-time setelah seharian pusing kuliah atau kerja. Narasi yang dijual bukan lagi soal mengenyangkan perut, tapi soal menghargai diri sendiri dan gaya hidup.
Meskipun di media sosial kedua produk ini kelihatan kayak orang asing yang gak saling kenal, di balik layar si pemilik justru punya keuntungan besar buat ngelakuin cross-selling (penjualan silang) yang cerdas. Integrasi ini bisa dimaanfaatkan lewat database pelanggan. Waktu ada konsumen yang beli Sambal Baby Cumi lewat WhatsApp atau Instagram, pemilik otomatis pegang kontak mereka. Seminggu kemudian, pemilik bisa kirim chat ramah atau kasih promo, nawarin cookies sebagai hampers hari raya, maupun sebagai pencuci mulut (dessert) setelah lidah mereka kepedasan gara-gara sambal cumi. Strategi ini juga bisa dipakai buat bikin paket bundling unik di momen tertentu, misalnya hampers “Pedas-Manis Kehidupan” pas musim hari-hari besar atau akhir tahun. Hasilnya? Biaya marketing buat satu konsumen bisa menghasilkan dua transaksi sekaligus.
Realita Tantangan di Lapangan
Tentu saja, mengelola dua identitas digital sekaligus tidak segampang teorinya. Tantangan terbesar buat mahasiswa atau pelaku UMKM mandiri adalah masalah manajemen waktu, konsistensi konten, dan alur transaksi yang masih manual. Apalagi kalau bisnis ini belum punya toko di marketplace besar seperti Shopee dan cuma mengandalkan jalur mandiri seperti Direct Message (DM) Instagram, WhatsApp Business, atau sistem Cash on Delivery (COD). Realitanya, tantangan yang dihadapi bakal berlipat ganda.
Kesimpulan
Pada akhirnya, digital branding itu bukan cuma perkara bikin logo estetik pakai Canva atau sekadar ikut-ikutan tren sound yang lagi fyp di TikTok. Esensi utamanya adalah tentang bagaimana kita mengelola persepsi di kepala konsumen. Kasus Sambal Baby Cumi dan Cookies ini membuktikan bahwa punya multi-produk yang bertolak belakang bukanlah sebuah dosa bisnis, melainkan strategi “anomali” yang sangat bisa dieksekusi.
Kunci keberhasilannya terletak pada ketegasan pemilik untuk tidak malas memisahkan identitas visual di media sosial, sekaligus kecerdikan memanfaatkan database WhatsApp untuk strategi cross-selling di balik layar. Menjalankan bisnis mandiri tanpa bantuan marketplace besar seperti Shopee memang melelahkan mulai dari pusing balasin chat manual sampai ribet ngatur jadwal COD di sela-sela kelas kuliah. Namun, di era digital ini, keterbatasan modal bisa ditutupi dengan kreativitas. Intinya, jangan takut punya banyak produk yang berbeda jauh, asalkan kita tahu kapan harus memasang “topeng” pedas yang merakyat dan kapan harus memakai “topeng” manis yang estetik di etalase yang tepat. (Publikasi yang merupakan tugas mata kuliah Komunikasi Pembangunan di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini disusun oleh : Khoirotus sabila, Robert alvin, . Debora lie, Presti briliana dan Gabriela monika) [why]


