27.8 C
Sidoarjo
Wednesday, August 5, 2026
spot_img

Wamendiktisaintek Ajak Maba ITS Berpikir Kritis Hadapi Euforia AI


Surabaya, Bhirawa – Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2026 kedatangan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) memberi pemaparan tentang berpikir kritis di tengah euforia teknologi akal imitasi (AI) era ini di GOR Pertamina ITS, Surabaya.

Acara tersebut mahasiswa untuk bisa menelaah fenomena AI pada sudut pandang keberlanjutan, dimana perkembangan AI merupakan fenomena economic bubble yang pernah terjadi pada perdagangan tulip di Belanda dan gelembung dot-com (dot-com bubble), Rabu (5/8).

Wamen Diktisaintek RI Prof Stella Christie PhD mengajak mahasiswa memahami dampak yang ditimbulkan, termasuk besarnya sumber daya yang dibutuhkan dalam pengoperasian teknologi tersebut.

“Pusat data AI membutuhkan konsumsi listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi, Bahkan, kebutuhan energi dan air tersebut terus meningkat seiring perkembangan teknologi, jadi kita perlu mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang harus dikorbankan,” katanya.

Lanjut Prof Stella meningkatnya kebutuhan energi AI memunculkan tantangan global terkait keberlanjutan, sebab itu, dunia akademik harus mampu jadi pihak yang kritis terhadap perkembangan teknologi, bukan sekadar menjadi pendukung tanpa memahami konsekuensinya.

Selain isu keberlanjutan, Prof Stella menyoroti ancaman AI terhadap dunia kerja terlihat sejumlah profesi, termasuk lulusan ilmu komputer yang selama ini dianggap paling aman, kini mulai menghadapi persaingan dengan AI yang dinilai mampu bekerja lebih cepat dan efisien. “Keberhasilan kuliah tidak lagi hanya diukur dari ijazah, tapi kemampuan nyata yang dimiliki seseorang agar tidak tergantikan oleh AI,” Pungkasnya.

Berita Terkait :  Kolabosi Dosen ITS dan UPNVJT Kembangkan Smart Safety Tools

Prof Stella mengukapkan perguruan tinggi harus berfokus pada tiga pilar utama, yakni penciptaan pengetahuan (creation of knowledge), transmisi pengetahuan (transmission of knowledge), dan kurasi pengetahuan (curation of knowledge).

“AI memang mampu mengakses berbagai informasi secara instan, tapi belum mampu melakukan kurasi untuk menentukan informasi yang benar-benar bernilai dan bermanfaat, itu yang membedakan manusia dengan AI, akademisi memiliki tugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” Tuturnya.

Prof Stella menambahkan pengalaman belajar di kampus memiliki nilai humanis yang penting dalam membentuk lulusan yang kompeten dan siap menghadapi perubahan zaman. “Berharap Mahasiswa ITS jadi insan yang tangguh, inovatif, serta tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” Imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!