Pemkab Sumenep, Bhirawa. – Banjir informasi di ruang digital menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Pelajar tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca, tetapi juga dituntut mampu berpikir kritis agar tidak mudah percaya dan terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo meminta pelajar membangun kebiasaan memeriksa setiap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Kemajuan teknologi, menurutnya, harus menjadi sarana memperluas pengetahuan dan melahirkan karya, bukan justru menjadi ruang berkembangnya informasi yang menyesatkan.
Pesan tersebut disampaikan Bupati dua periode itu saat menghadiri Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep. “Budaya literasi bukan hanya membaca dan menulis. Literasi juga kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menyampaikan gagasan dengan baik,” kata Bupati Fauzi.
Ia menilai, perkembangan teknologi telah membuat akses informasi semakin mudah. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga membuat pelajar harus semakin cermat menentukan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang harus dipertanyakan.
Untuk itu, Fauzi meminta pelajar tidak menjadi konsumen pasif media sosial. Setiap informasi harus dilihat sumbernya, diuji kebenarannya dan dipahami konteksnya.
“Pelajar harus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk belajar dan berkarya. Jangan mudah percaya informasi, tetapi gunakan media digital untuk hal yang produktif,” ujarnya.
Menurutnya, budaya berpikir kritis perlu dibangun sejak bangku sekolah. Pelajar harus dibiasakan bertanya, berdiskusi, membaca berbagai sumber dan berani menyampaikan gagasan berdasarkan pengetahuan yang benar. Kemampuan tersebut dinilai menjadi bekal penting menghadapi perubahan zaman.
“Kualitas generasi muda tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuan memahami persoalan, mengolah informasi dan mengambil keputusan secara tepat,” katanya.
Fauzi juga mengingatkan agar kegiatan literasi di sekolah tidak berhenti pada seremoni tahunan. Pekan Literasi harus menjadi momentum untuk membangun kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari siswa.

“Pekan Literasi jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini mampu menumbuhkan kebiasaan positif yang terus berkembang di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Ia berharap lingkungan sekolah mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas dan keberanian menyampaikan gagasan.
Fauzi pun mendorong pelajar Sumenep menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup. Membaca untuk memperluas wawasan, menulis untuk menyampaikan gagasan, berpikir kritis untuk menyaring informasi dan berkarya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pelajar harus punya semangat gemar membaca, berani menulis, kritis berpikir dan kreatif berkarya demi membangun Kabupaten Sumenep semakin maju,” pungkasnya. [adv.sul]






