27.5 C
Sidoarjo
Thursday, October 8, 2026
spot_img

10.000 Santri Lirboyo Membatik Serentak, Pecahkan Rekor Muri


Kediri, Bhirawa – Sebanyak 10.000 santri Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri membatik secara serentak di Lapangan Barat Aula Muktamar Lirboyo, Kamis (8/10). Kegiatan dalam rangkaian Festival Santri Nusantara tersebut sekaligus memecahkan Rekor Muri.

Sejak pagi, ribuan santri mengikuti proses membatik bersama. Dengan canting dan malam, kain putih perlahan berubah menjadi karya batik. Kegiatan tersebut mengusung semangat “Merawat Budaya, Menjaga Tradisi”.

Lebih dari sekadar mengejar rekor, membatik massal menjadi ikhtiar Lirboyo memperkenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Nusantara kepada generasi muda pesantren.

Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Agus H. Adibussholeh Anwar (Gus Adib), mengatakan membatik bukan hal asing bagi Lirboyo. Istri pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Ibu Nyai Hj. Dlomroh, dahulu juga berprofesi sebagai pembatik.

“Membatik itu sebenarnya tidak asing bagi Lirboyo. Istri dari pendiri Lirboyo dahulu juga berprofesi sebagai pembatik. Jadi ketika hari ini para santri membatik, kita punya sanad jalur yang jelas dan keteladanan yang nyata untuk melestarikan budaya batik,” ujar Gus Adib.

Menurut Gus Adib, kegiatan tersebut sekaligus meneruskan jejak Ibu Nyai Hj. Dlomroh, istri almarhum KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, yang memiliki perhatian terhadap keterampilan dan tradisi.

Kemampuan membatik para santri juga terlihat dari keluwesan tangan mereka saat menggoreskan canting di atas kain. Kebiasaan menulis kaligrafi atau khat membuat gerakan tangan para santri dinilai lebih luwes ketika membatik.

Berita Terkait :  Kisah Yogi Susilo Wicaksono, Guru ASN Diberhentikan Setelah 19 Tahun Mengabdi

Motif batik yang digunakan dirancang khusus panitia untuk menjadi identitas dan ciri khas Pondok Pesantren Lirboyo. Pencatatan Rekor Muri dilakukan dalam kegiatan tersebut untuk memastikan pelaksanaan membatik secara serentak oleh 10.000 santri. Pencapaian itu menjadi bagian penting dari Festival Santri Nusantara sekaligus menunjukkan keterlibatan pesantren dalam pelestarian seni dan budaya.

Gus Adib berharap keterampilan membatik tidak berhenti sebagai kegiatan festival, tetapi dapat menjadi bekal bernilai seni dan ekonomi bagi para santri ketika kembali ke tengah masyarakat, khususnya mereka yang berasal dari daerah dengan tradisi kerajinan batik.

“Harapannya keterampilan ini bisa menjadi bekal bagi para santri ketika nanti kembali dan berkhidmat di masyarakat,” tandasnya.

Festival Santri Nusantara berlangsung 4-8 Oktober 2026 dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Selain membatik massal, rangkaian kegiatan diisi Bazar Santri dan ditutup dengan Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech. [van/nov.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!