Opini :
Abdul Razzaq Thahir
Kepala Sekolah SMAN 15 Surabaya.
Seringkali, saya membayangkan betapa murid-murid takjub saat mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas. Mata mereka berbinar dan bahagia padahal materi yang disampaikan cenderung membosankan. Namun, guru mampu mengubah materi yang membosankan itu menjadi sesuatu yang mewah. Layaknya chef yang mampu mengubah bahan-bahan biasa menjadi makanan mewah kelas satu. Dan saat pengunjung keluar dari restoran, mereka tidak sekadar kenyang, tetapi juga terkesan serta mengingat apa yang telah terjadi di dalam restoran.
Di mata murid-murid, guru semacam itu akan selalu dirindukan. Murid akan selalu betah berlama-lama di kelas. Guru pun menikmati pengajarannya. Meski, materi tersebut kategori berat dan rawan membosankan sehingga membuat mata murid mengantuk, tetapi dua jam mata pelajaran berlalu terasa begitu singkat. Tidakkah guru bahagia melihat murid-murid selalu antusias dengan kehadirannya? Tidak berlebihan setiap kelas yang situasi dan kondisi semacam itu layaknya taman surga firdaus. Meski hanya berbekal kipas angin pun, tetapi karena guru mampu membuat situasi dan kondisi seperti itu tidaklah menjadi soal atau masalah.
Dan kunci untuk mewujudkan situasi dan kondisi semacam itu, yakni komunikasi dengan teknik broadcasting. Broadcasting sendiri merupakan upaya menyiarkan pesan (informasi) secara bersamaan kepada audience yang dalam hal ini murid-murid. Dengan teknik broadcasting guru dapat sekaligus berperan sebagai seorang anchor atau penyiar radio yang aktraktif. Sepanjang yang saya ketahui tidak ada penyiar radio yang menyampaikan pesan secara monoton. Hal itu, karena radio tidak menampilkan visual atau gambar dan hanya mengandalkan suara sebagai modal penting untuk mengirim informasi kepada pendengar. Oleh sebab itu, setiap radio seringkali berlomba-lomba untuk mencari anchor terbaik dan dalam hal ini sosok yang memiliki suara menarik.
Saya juga yakin tidak ada penyiar radio yang membosankan. Semuanya merupakan pribadi yang menyenangkan dan sekaligus seru untuk diajak bercakap-cakap. Mereka mampu menampilkan hal yang menarik, sekalipun masalah yang disampaikan begitu sepele.Oleh sebab itu, saya ingin membawa teknik komunikasi broadcasting melebur bersama guru saat mengajar di kelas.Saya begitu yakin sekolah dengan guru yang juga memiliki kemampuan komunikasi layaknya penyiar dapat menjadi nilai tambah di mata masyarakat.
Berdasarkan pendapat dari Albert Mehrabian, seorang profesor dari Universitas California, menyatakan bahwa aspek vokal mempengaruhi 38 persen keberhasilan public speaking (tempoinstitute.com). Dengan kemampuan vokal yang ditunjang dengan gaya berpakaian (visual) dapat menjaga perhatian siswa-siswi agar mengabaikan rasa kantuknya. Mereka akan merasa tertinggal kalau tidak mendengarkan penjelasan guru padahal materi tersebut sulit, tetapi dijelaskan dengan cara yang baik dan menarik.
Apa saja unsur dalam teknik vokal itu? Anna Gustina Zainal dalam bukunya “Public Speaking Cerdas saat Berbicara di Depan Umum” (2022) membeberkannya (tempoinstitute.com). Ada pernafasan, intonasi, aksentuasi, infleksi, dan tempo. Sudah menjadi hal umum dalam dunia penyiaran bahwa bernafas harus dengan menggunakan diafragma. Yakni, saat perut ditarik terlebih dahulu sebelum mengambil nafas. Dengan begitu, saat nafas keluar dan perut maju (mengembang) suara yang dihasilkan jauh lebih nyaring. Selanjutnya, ada intonasi dimana teknik ini berfungsi agar audience (murid-murid) tidak jenuh mendengarkan suara kita. Intonasi dapat diketahui dari tinggi-rendahnya nada bicara. Kita dapat mengetahui bahwa kata yang sama akan berbeda tafsiran bila diucapkan dengan menggunakan intonasi yang baik dan benar.
Aksentuasi merupakan teknik ketiga yang menekankan pada suku kata. Dalam hal ini penekanan pada kata-kata yang mengandung poin-poin utama. Ini penting agar murid-murid dapat memusatkan perhatian pada tujuan yang dimaksud sehingga mereka memahami materi yang sedang diajarkan. Dan tujuan dalam proses pembelajaran dapat tercapai. Sedangkan, infleksi merupakan cara untuk menghentikan dan melanjutkan kalimat. Dalam komunikasi di depan kelas, murid-murid tentu tidak sepenuhnya fokus pada kalimat yang tertulis di papan atau slide. Mereka mendengarkan para guru berbicara. Disini, guru menjadi pusat perhatian mereka. Oleh sebab itu, penting bagi guru sebagai pengarah kapan kalimat diakhiri dan kapan kalimat dibuka kembali. Disini, bukan intonasi yang bermain, melainkan kalimat yang sedang dibicarakan diutamakan. Ada kalimat dengan nada yang ditinggikan dan ada kalimat dengan nada yang direndahkan.
Terakhir dari teknik berbicara, yakni tempo. Yaitu kecepatan vokal saat seseorang berbicara. Ada tempo lambat dan tempo cepat. Anna mengajurkan untuk melambatkan tempo pembicaraan saat menjelaskan tentang poin yang dianggap penting. Contohnya, seperti menjelaskan istilah, singkatan dan bahasa asing. Tujuan dari tempo ini agar murid-murid memahami apa yang disampaikan oleh guru.
Itulah teknik vokal atau komunikasi khas broadcasting yang perlu ditambahkan kepada guru dalam pengajaran di kelas. Oh, saya lupa dan satu lagi diluar dari apa yang disamapaikannya, yakni humming. Berdengung. Merupakan teknik yang populer dalam dunia hiburan (penyanyi maupun pemain teater), termasuk juga para penyiar radio dan televisi. Teknik ini dilakukan dengan mengatupkan bibir sambil membunyikan “hmm…”. Guna mendukung opini saya ini, saya menemukan pernyataan dari seorang praktisi komunikasi di media sosial yaitu Wahyu Wiwoho. Ia menyampaikan bahwa teknik ini berfungsi untuk memperkuat pernafasan agar seseorang (guru) tidak gampang lelah saat bernyanyi atau berbicara. Termasuk agar suara itu menjadikan seseorang tampak lebih berwibawa.
Sepanjang pengalaman saya menjadi guru selama 28 tahun dan juga diselingi sebagai praktisi broadcastingmembuat saya terus berlatih menggunakan teknik tersebut. Tentu, selain agar dapat meminimalisir rasa lelah juga membuat saya mampu mengondisikan kelas menjadi lebih nyaman. Saya meyakini suara yang renyah memang merupakan kunci keberhasilan mengondisikan kelas. Karena saya menganggap kelas sebagai sebuah panggung.
Para guru seharusnya memahami bahwa murid-murid sekarang berbeda dengan murid-murid eratahun 80’an maupun 90’an bahkantahun 2000’an. Dengan sedikit gertakan, murid-murid waktu itu mampu mengondisikan diri dan belajar secara kondusif. Suara guru yang monoton dan membosankan dapat dimaklumi. Namun, murid-murid era sekarang dimana teknologi berkembang begitu pesat diperlukan teknik baru dalam pengajaran.
Itulah sebabnya komunikasi broadcasting di dalam kelas begitu penting saat ini. Memang, di tengah tuntutan guru begitu ketat secara administrasi, tetapi hubungan komunikasi dengan murid di dalam kelas tidak boleh begitu saja diabaikan. Apalagi, dengan komunikasi yang buruk menyebabkan mereka menjadi tidak betah dan melakukan perlawanan. Salah satunya, meminta izin ke toilet dalam jangka waktu yang lama. Saya hanya ingin agar para guru dapat bertransformasi ke dunia baru dimana seluruh murid-murid di dalam kelas dilihat sebagai audience yang perlu diperhatikan sebagaimana para motivator berbicara di atas panggung.
————- *** —————






