27.4 C
Sidoarjo
Friday, October 9, 2026
spot_img

Jawa Timur 81 Tahun: Berani Berubah, Maju Bersama

Oleh:
Suko Widodo
Akademisi Universitas Airlangga dan Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia – Jawa Timur

Bayangkan Jawa Timur sebagai sebuah film panjang. Kameranya menyusuri pesisir Madura, melintasi pelabuhan Surabaya, mengarah ke kawasan industri Gresik, pesantren Jombang, sawah Mataraman, hingga masyarakat Tengger di sekitar Bromo, dan akhirnya sampai bertemu masyarakat Osing di Banyuwangi. Lebih dari 42 juta penduduk hidup dalam ruang sosial yang beragam, dengan pengalaman dan harapan yang tidak selalu sama.

Pada 12 Oktober 2026 nanti, Jawa Timur genap berusia 81 tahun. Peringatan ini patut dirayakan, tetapi lebih penting dijadikan kesempatan membaca perubahan, bagaimana masyarakat mengubah cara hidupnya, dan apakah pembangunan telah membuat mereka lebih siap menyongsong masa depan?

Salah satu cara menarik membaca perjalanan itu ialah menelusuri infrastruktur komunikasi yang digunakan masyarakat. Sebab, perubahan media bukan semata pergantian alat menyampaikan kabar. Di dalamnya tercermin perubahan cara orang membangun hubungan, memperoleh pengetahuan, mencari penghidupan, bahkan memahami dunia di sekitarnya.

Dari Panggung ke Algoritma
Jauh sebelum Jawa Timur menjadi provinsi, Surabaya telah melahirkan Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit sejak 1933. Pers berbahasa daerah kala itu bukan hanya menyediakan bacaan, melainkan juga membuka ruang bagi gagasan, identitas budaya, dan percakapan masyarakat.

Radio kemudian menghadirkan pengalaman baru. Berita, musik, dan cerita dapat didengar bersama tanpa harus berada di tempat yang sama. Di warung kopi dan pos ronda, berita radio menjadi bahan percakapan bersama. Komunikasi masih banyak bergerak dari satu sumber menuju khalayak luas; warga terutama berperan sebagai pendengar dan penonton.

Ketika televisi memasuki rumah, pusat perhatian masyarakat ikut bergeser. Peristiwa yang jauh terasa dekat, dimana hiburan dan informasi menjadi bagian dari rutinitas keluarga.

Berita Terkait :  Apersi Prihatin Lambannya Respon Daerah atas SKB Tiga Menteri di Kota Malang

Dalam dunia seni, Kartolo dan kawan-kawan memberi contoh yang membumi. Humor ludruk yang semula mengandalkan panggung kemudian hadir melalui kaset pada 1980-an, diputar di radio, dan belakangan beredar kembali di media sosial. Tradisi bertahan bukan karena dibekukan, melainkan karena menemukan cara baru menjumpai khalayaknya.

Perubahan berlanjut dari surat kabar ke portal berita, dari telepon rumah ke ponsel pintar, dari pasar fisik ke marketplace. Kini pedagang memasarkan barang lewat WhatsApp, warga mengorganisasi kegiatan kampung melalui grup percakapan, dan anak muda menampilkan karya di berbagai platform digital.

Perubahan tidak sekadar mempercepat pesan. Hubungan yang dulu bergantung pada kedekatan geografis kini dapat terpelihara melintasi kota dan negara. Bahkan kegiatan sosial, penggalangan bantuan, dan pemasaran hasil desa dapat dikoordinasikan melalui jaringan digital.

Ilmuwan komunikasi Marshall McLuhan mengingatkan bahwa karakter sebuah medium ikut membentuk kehidupan manusia, bukan hanya membawa isi pesan. Pengalaman Jawa Timur memperlihatkan hal serupa: setiap perubahan infrastruktur komunikasi ikut mengubah ruang perjumpaan, pola usaha, dan hubungan antara warga dengan lembaga publik.

Manuel Castells, ilmuwan social kemudian menjelaskan masyarakat jaringan, ketika aktivitas sosial semakin bergantung pada keterhubungan informasi dan manusia. Kini warga bukan sekadar penerima berita. Mereka dapat memproduksi pesan, membangun komunitas, mengkritik kebijakan, bahkan menjangkau pembeli tanpa harus memiliki toko besar.

Namun, jaringan juga membawa tantangan. Algoritma menentukan informasi mana yang lebih sering terlihat, sementara kecerdasan buatan mengubah cara bekerja dan belajar. Indeks Masyarakat Digital Indonesia Jawa Timur pada 2025 mencapai 49,17, di atas rata-rata nasional 44,53.

Berita Terkait :  UMK Kota Malang Naik 6 Persen, Pj Wali Kota Ajak Pengusaha dan Pekerja Sikapi dengan Bijak

Angka itu menjanjikan, tetapi akses dan kecakapan digital belum tentu dinikmati secara merata. Keramaian digital pun tak selalu mencerminkan kebutuhan paling mendesak masyarakat. Pesan yang banyak dibagikan belum tentu paling benar, sementara warga yang kurang terhubung berisiko tak terdengar.

Kemajuan yang Dirasa
Optimisme Jawa Timur memiliki dasar. Ekonomi provinsi ini tumbuh 5,72 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan setahun sebelumnya. Namun, masih ada 3,71 juta penduduk miskin pada Maret 2026, sementara pekerja formal pada Mei 2026 baru mencapai 36,18 persen dari seluruh penduduk bekerja.

Di bidang pendidikan, Indeks Pembangunan Manusia pada 2025 mencapai 76,13, tetapi rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas masih 8,39 tahun. Angka tersebut mengingatkan bahwa perubahan teknologi dapat berlangsung jauh lebih cepat daripada peningkatan kemampuan manusia.

Ekonom Amartya Sen memandang pembangunan sebagai perluasan kebebasan dan kemampuan nyata manusia untuk menentukan kehidupan yang bernilai. Dalam perspektif ini, keberhasilan tidak berhenti pada pertumbuhan ekonomi atau pembangunan jaringan komunikasi, tetapi pada bertambahnya kesempatan untuk belajar, bekerja layak, dan mengambil bagian dalam keputusan publik.

Artinya, petani memerlukan akses informasi harga sekaligus posisi tawar yang lebih baik. UMKM tidak cukup diajari berjualan daring tanpa dukungan kualitas produk dan akses pasar. Anak muda di desa membutuhkan konektivitas, pendidikan, dan ruang berkarya agar peluang tidak terkonsentrasi di kota besar.

Gerbang yang Menghubungkan
Visi Gubernur Khofifah Indar Parawansa tentang Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara perlu dibaca dalam semangat tersebut. Sembilan agenda Nawa Bhakti Satya, termasuk Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Cerdas, Jatim Akses, dan Jatim Agro, memperoleh makna ketika diwujudkan sebagai kesempatan nyata bagi warga.

Berita Terkait :  30 Kejadian Kebakaran di Kota Madiun pada Semester Pertama Tahun 2024

Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Jawa Timur memiliki modal sosial berupa gotong royong, jejaring pesantren, kampus, industri, komunitas, dan kewirausahaan rakyat. Dalam masyarakat jaringan, modal tersebut perlu diterjemahkan menjadi kolaborasi yang terukur, bukan sekadar seremoni kerja sama.

Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy di Surabaya memberikan ilustrasi. Pada April 2026, Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 10.000 produk dari 800 UMKM memperoleh ruang pemasaran di sana. Satu usaha dapat menjadi penghubung yang memperluas kesempatan usaha lainnya.

Bayangkan jika pola serupa menguat di seluruh Jawa Timur: industri bermitra dengan usaha kecil, kampus menghadirkan inovasi yang dapat dipakai masyarakat, pesantren mengembangkan kewirausahaan, sementara pemerintah menyediakan layanan dan infrastruktur yang adil.

Komunikasi publik pun harus bergerak dari kebiasaan menyampaikan keberhasilan menuju kesediaan mendengarkan. Melalui media yang kini semakin terbuka, suara warga dapat menjadi masukan pembangunan, termasuk suara mereka yang selama ini jauh dari pusat perhatian.

Pada usia ke-81, tantangan Jawa Timur bukan hanya mempercepat perubahan, tetapi memastikan manfaatnya semakin merata. Dua kemampuan perlu berjalan bersama, yakni keterbukaan terhadap gagasan baru dan solidaritas untuk menjaga agar tak seorang pun tertinggal.

Gerbang Baru Nusantara tidak semestinya sekadar dilalui barang, teknologi, dan informasi. Ia harus menjadi ruang tumbuhnya pengetahuan, pekerjaan, dan kesejahteraan bersama. Dari panggung hingga algoritma, masyarakat Jawa Timur telah menunjukkan daya adaptasi. Kini tugas berikutnya lebih besar: bukan sekadar mengikuti zaman, melainkan mengarahkan perubahan agar semakin banyak orang dapat maju bersama.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!