27 C
Sidoarjo
Wednesday, September 9, 2026
spot_img

Gubernur Khofifah Dorong Perempuan Berkiprah di Level Dunia

Muslimat NU Punya 206 Profesor dan 2.600 Paralegal

Tarakan, Bhirawa – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong perempuan Indonesia semakin percaya diri mengambil peran dalam membangun peradaban dan berkontribusi di level dunia.

Menurut Khofifah, kapasitas perempuan Muslimat NU terus berkembang, tidak hanya dalam bidang sosial dan keagamaan, tetapi juga pendidikan, keilmuan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Maulidurrasul dan Harlah ke-80 Muslimat NU Pengurus Wilayah Kalimantan Utara di Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang dan ratusan warga Muslimat NU se-Kalimantan Utara.

Khofifah mengungkapkan, saat ini Muslimat NU memiliki sedikitnya 206 profesor perempuan yang tergabung dalam organisasi tersebut. Keberadaan para profesor tersebut dinilai menjadi salah satu bukti kuat kapasitas intelektual perempuan Indonesia.

“Muslimat ini memiliki 206 profesor Muslimat NU dan insya Allah terus berkembang. Satu-satunya asosiasi pergerakan wanita terbesar yang punya asosiasi profesor perempuan,” kata Khofifah.

Menurutnya, kapasitas keilmuan tersebut perlu terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada dunia. Khofifah ingin kiprah perempuan Indonesia, termasuk ulama perempuan, semakin mendapatkan ruang dalam pembangunan peradaban.

“Kita sampaikan pada dunia, Indonesia punya banyak ulama perempuan, ilmunya luar biasa, berperan membangun peradaban. Pola inilah yang kita kembangkan di Muslimat NU,” tegasnya.

Berita Terkait :  Tanam Pohon Peringatan Hapernas 2024, Menteri PUPR Kolaborasikan Hari Perumahan dengan Hari Habitat

Tidak hanya di bidang keilmuan, Khofifah menyebut penguatan peran perempuan juga dilakukan melalui bidang sosial dan bantuan hukum. Muslimat NU saat ini telah memiliki lebih dari 2.600 paralegal yang telah mengikuti proses pendidikan dan diwisuda.

“Oleh karenanya Muslimat NU memiliki paralegal. Jadi ada lebih 2.600 yang sudah diwisuda. Mereka melalui proses dan sertifikat sudah internasional,” terangnya.

Khofifah menilai keberadaan ribuan paralegal tersebut menunjukkan bahwa perempuan dapat mengambil peran langsung dalam memberikan pendampingan dan manfaat kepada masyarakat.

Ia berharap seluruh potensi tersebut terus diarahkan untuk memperkuat kebermanfaatan Muslimat NU bagi umat, bangsa, sekaligus masyarakat dunia. “Kita ikhtiarkan supaya Muslimat ini insya Allah anfa’, dalam artian anfauhum linnas, bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Perempuan dan Perdamaian Dunia
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak Muslimat NU mengambil bagian dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Menurutnya, perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau negara, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi perempuan.

“Yang kita harapkan ada perdamaian di dunia, diwujudkan bersama oleh warga dunia. Maka selalu ada seruan Muslimat NU kepada PBB supaya negara di dunia membangun suasana sejuk dan damai,” ujarnya.

Khofifah menegaskan, Muslimat NU memiliki posisi strategis untuk menyuarakan nilai-nilai persaudaraan, toleransi, kemanusiaan, dan perdamaian mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.

Berita Terkait :  Puncak Acara Smamda Edufair 2024, Gedung Smamda Tower Lantai 6 Smamda Surabaya Diserbu Siswa dan Orang Tua

Ia juga mengingatkan bahwa penguatan peran perempuan tidak dapat dilepaskan dari fungsi perempuan sebagai madrasah ula atau sekolah pertama bagi anak. Menurutnya, dari lingkungan keluarga, nilai agama, akhlak, karakter, dan kecintaan terhadap sesama mulai ditanamkan sebagai fondasi pembentukan generasi masa depan.

“Setiap pengajian, saya yakin semua orang tua berdoa mendoakan anaknya mempunyai akhlakul karimah, menjadi anak yang solih, solihah. Saya berharap yang Ibu lantunkan, Mars Muslimat NU, kita semua bisa mendidik dan membina putra-putri bangsa,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah ke-80 Muslimat NU tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pengingat untuk memperkuat akhlak sekaligus memperluas kebermanfaatan organisasi.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi delapan dekade perjalanan dan pengabdian Muslimat NU. Menurutnya, usia 80 tahun menjadi penanda panjangnya kontribusi organisasi perempuan tersebut bagi masyarakat.

“Delapan dekade bukanlah perjalanan yang singkat, ini adalah perjalanan panjang dan pengabdian yang harus terus diapresiasi,” kata Zainal.

Ia menambahkan, Harlah ke-80 Muslimat NU menjadi momentum memperkuat iman, akhlak, semangat pengabdian, serta keteladanan Rasulullah SAW.

“Harlah Muslimat menjadi pengingat bagaimana perempuan sebagai madrasah ula bagi anak-anak, menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi muda di Kalimantan Utara,” pungkasnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!