Ponorogo, Bhirawa – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mendorong pengembangan program SMA Double Track tidak berhenti pada penguasaan keterampilan siswa. Program tersebut diarahkan menjadi ekosistem kewirausahaan yang mampu menghasilkan produk atau jasa, memiliki pelanggan, mencatat transaksi, hingga berkembang menjadi usaha berkelanjutan.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menegaskan, pengembangan tersebut dilakukan melalui strategi 5P, yakni pelajari, produksi, pasarkan, pelanggankan, dan perbesar.
Menurutnya, keterampilan yang diperoleh siswa harus memiliki nilai ekonomi dan mampu menjawab kebutuhan pasar. Karena itu, siswa tidak cukup hanya mampu membuat produk, tetapi juga harus memahami bagaimana produk tersebut dipasarkan, mendapatkan pelanggan, hingga dikembangkan.
“Jangan berhenti ketika murid hanya membuat produk. Dorong untuk menciptakan karya yang bernilai, berani memasarkannya, mampu membuat orang percaya dan membeli, serta terus mengembangkan menjadi peluang nyata,” tegas Aries saat monitoring dan evaluasi (monev) program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo, beberapa waktu lalu.
Tahap pertama, pelajari. Aries menyebut, trainer harus mengarahkan agar siswa menguasai kompetensi yang sesuai dengan minat, potensi daerah dan kebutuhan pasar. Kompetensi Double Track mencakup makanan dan minuman, busana, kecantikan, desain, fotografi, digital hingga berbagai jenis jasa.
Setelah menguasai keterampilan, siswa masuk pada tahap produksi. Aries meminta setiap sekolah mampu menghasilkan produk atau jasa yang memiliki nilai jual. Sekolah yang potensinya sudah berkembang didorong memiliki satu hingga tiga produk unggulan yang benar-benar menjadi kekuatan sekolah.
Tahap berikutnya adalah pasarkan. Dindik Jatim mendorong sekolah memperluas pemasaran melalui tiga lapis pasar, yakni pasar internal sekolah, pasar lokal Ponorogo, dan pasar digital.
Pasar internal dapat digunakan untuk menguji kualitas produk, harga dan mendapatkan umpan balik dari konsumen.
Selanjutnya, pasar lokal diperluas melalui kerja sama dengan komunitas maupun masuk dalam rantai pasok UMKM. Sementara pasar digital dikembangkan melalui katalog, konten kreatif dan layanan pemesanan yang cepat.
“Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya,” ujar Aries.
Setelah produk memiliki pasar, tahap keempat adalah pelanggankan. Menurut Aries, sekolah dan siswa harus mampu membangun kepercayaan konsumen agar tidak berhenti pada transaksi pertama, tetapi berkembang menjadi pelanggan yang melakukan pembelian berulang.
Karena itu, kualitas produk, pelayanan, kemasan, branding, kecepatan merespons pesanan serta kemampuan membaca kebutuhan konsumen menjadi bagian penting dalam pengembangan Double Track.
Tahap terakhir adalah perbesar, yakni mendorong produk yang telah memiliki pasar untuk berkembang lebih luas. Sekolah didorong membangun sistem repeat order, memanfaatkan konten digital, mengembangkan produk unggulan dan membangun kemitraan aktif dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Aries menilai strategi tersebut penting karena program Double Track tidak dirancang sekadar memberikan keterampilan tambahan kepada siswa SMA. Program tersebut juga menjadi bekal bagi lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar memiliki kemampuan memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.
Di Kabupaten Ponorogo, program SMA Double Track saat ini dilaksanakan di 10 sekolah dengan 22 rombel, melibatkan 631 murid aktif dan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS). Program tersebut juga memiliki 4.289 alumni.
Dari jumlah alumni tersebut, sebanyak 1.824 orang atau 42,47 persen tercatat telah bekerja, sedangkan 366 alumni lainnya berwirausaha.
Sementara itu, nilai transaksi program Double Track di Ponorogo mencapai Rp161,1 juta dari target Rp214,7 juta, atau terealisasi 75,79 persen.
Aries menegaskan capaian transaksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan program. Yang lebih penting adalah terbentuknya ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan.
“Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Dindik Jatim juga mendorong perubahan peran masing-masing pihak. Kepala sekolah diarahkan berperan seperti CEO yang menentukan prioritas, membuka jejaring dan melakukan pemantauan. Guru atau trainer menjadi mentor sekaligus market connector yang mendampingi proyek siswa dan menghubungkan produk dengan pasar.
Sementara itu, DUDI didorong menjadi mitra aktif melalui penyelarasan kurikulum keterampilan, penyediaan guru tamu, tempat magang, fasilitas, bahan praktik, akses pasar hingga peluang bagi lulusan.
“Double Track adalah tanggung jawab bersama. Setiap pihak memiliki peran. Setiap peran menentukan keberhasilan,” tegas Aries. [ina.gat]


