Surabaya, Bhirawa – Menjadi entrepreneur di era digital tak cukup hanya bermodal kreativitas menciptakan produk. Kemampuan membaca data, mengelola stok hingga mencatat transaksi secara akurat mulai diperkenalkan Universitas Ciputra (UC) Surabaya kepada mahasiswa baru sejak awal perkuliahan.
Pembelajaran tersebut dikemas melalui Selling Day dalam rangkaian OWeek 2026. Sebanyak 125 kelompok mahasiswa baru tidak hanya ditantang menciptakan dan menjual produk, tetapi juga menjalankan simulasi pengelolaan bisnis menggunakan sistem digital.
Seluruh transaksi dalam kegiatan tersebut dilakukan secara cashless dengan dukungan sistem point of sales (POS) dari Kasir Pintar. Melalui sistem ini, mahasiswa dapat belajar mencatat transaksi, memantau stok dan melihat perkembangan penjualan secara lebih terukur.
Dosen Pendamping Pelaksana OWeek 2026 Universitas Ciputra, Louisa Christina Hartanto, S.I.Kom., M.Si., CCP., mengatakan pengenalan teknologi bisnis sejak mahasiswa baru menjadi bagian dari upaya UC membangun pola pikir kewirausahaan yang sesuai dengan perkembangan industri.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat produk dan menjualnya, tetapi juga memahami bagaimana sebuah bisnis dikelola. POS system seperti yang digunakan oleh merchant besar maupun bisnis yang memiliki banyak cabang menjadi salah satu teknologi yang penting untuk mereka kenali sejak awal,” ujar Louisa.
Menurutnya, penggunaan sistem digital memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai pentingnya akurasi dan pengambilan keputusan berbasis data dalam menjalankan usaha.
“Dengan sistem ini, mahasiswa bisa belajar mengurangi human error dalam pencatatan transaksi. Mereka juga dapat melihat laporan keuangan dan stok secara real-time. Ini memberikan pengalaman yang berbeda karena sejak awal mereka sudah dibiasakan mengambil keputusan berdasarkan data,” tambahnya.
Dalam Selling Day, sebanyak 125 tenant menghadirkan beragam produk, mulai dari makanan berat, makanan ringan hingga minuman. Kreativitas mahasiswa terlihat dari berbagai produk yang memadukan cita rasa dan rempah lokal seperti ketumbar, daun jeruk, serai, lengkuas, kunyit, jahe hingga kencur dalam konsep makanan fusion.
Namun, produk menjadi bagian awal dari proses pembelajaran. Ketika transaksi berlangsung, mahasiswa juga berhadapan dengan persoalan operasional seperti pencatatan penjualan dan ketersediaan stok.
Pengalaman tersebut membuat mahasiswa memahami bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh produk yang menarik, tetapi juga bagaimana operasional usaha dikelola secara efisien.
Salah satu peserta Selling Day OWeek 2026, Kuncoro Gideon Rhemano, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Komunikasi, mengaku penggunaan sistem digital membuat kelompoknya lebih mudah memantau aktivitas penjualan.
“Awalnya kami lebih fokus memikirkan produknya, mulai dari rasa sampai bagaimana membuat orang tertarik membeli. Setelah menggunakan POS, kami jadi belajar bahwa pencatatan transaksi dan stok juga penting. Kami bisa lebih mudah melihat apa yang sudah terjual dan berapa stok yang masih tersedia,” ungkapnya.
Menurut UC, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan pola pikir entrepreneurship sejak mahasiswa memasuki lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa diperkenalkan pada alur bisnis secara lebih utuh, mulai dari menciptakan produk, menjual, mencatat transaksi, memantau stok hingga membaca data penjualan.
Melalui Selling Day, OWeek 2026 pun tidak hanya menjadi ajang pengenalan kampus bagi mahasiswa baru. Kegiatan tersebut dikembangkan menjadi ruang simulasi bisnis yang mempertemukan kreativitas, entrepreneurship dan teknologi digital.
Pengalaman itu diharapkan menjadi bekal awal mahasiswa untuk memahami bahwa membangun bisnis di era digital membutuhkan kemampuan yang lebih luas. Selain menciptakan produk yang menarik, calon entrepreneur dituntut mampu mengelola operasional, membaca data dan memanfaatkan teknologi untuk mengambil keputusan bisnis. [ina.wwn]


