Surabaya, Bhirawa – Dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) saat menagapi tren berpakaian lawas kembali popular dan memberikan penjelasan mendalam menggunakan teori siklus fashion (fashion cycle theory).
Tren berpakaian masa lalu, antara lain motif polkadot, mode Y2K, sepatu balet, dengan renda klasik, rok balon, sampai pakaian berlapis kembali populer beberapa waktu terakhir, dalam dunia penampilan mengenal teori siklus fashion yang menjelaskan bagaimana setiap tren memiliki fase tersendiri, Sabtu (5/6).
Dosen FIK Ubaya, Hany Mustikasari, M.Ds. mengukapkan bisanya tahapannya dari dimulai kemunculan, dikenalkan masyarakat, populer di puncak, mulai surut, hingga tren tersebut dilupakan oleh masyarakat, rentang waktu yang dibutuhkan setiap tren dari awal kemunculan hingga terlupakan cenderung beragam dan tidak semua tren akan mengulang siklusnya menjadi populer kembali.
“Pada siklus normal, tren biasanya kembali populer dalam rentang waktu 15 hingga 30 tahun, kembalinya sebuah tren biasanya dipicu rasa rindu atau nostalgia dari orang-orang yang sempat merasakan titik populernya sebuah tren fashion tertentu di masa lalu, waktu yang bersamaan, generasi muda memiliki rasa penasaran sebab tidak sempat mengalami tren tersebut,” jelas Hany.
Lanjut Hany mengatakan kembali sebuah tren jadi peluang baik menggaungkan nilai keberlanjutan yang sedang menjadi sorotan global. “Terdapat istilah refashioned terjadi ketika produk fashion dimodifikasi sedemikian rupa supaya diterima oleh masyarakat, praktiknya penggunaan kembali produk fashion dari masa lalu dengan beberapa penyesuaian atau penambahan aksesoris, kita dapat memperpanjang masa pakainya sekaligus mengurangi limbah fashion,” pungkasnya.
Hany menjelasnkan supaya tren dapat dihidupkan kembali, terdapat beberapa kondisi yang harus dipenuhi, Pertama tren harus memenuhi standar estetika di masa sekarang, Kedua dapat dilakukan penyesuaian terhadap model, warna, dan bahan supaya tetap sejalan dengan preferensi masyarakat, Ketiga bahan dan cara pembuatannya dapat disubstitusi dengan teknologi yang berlaku di masa kini.
“Beberapa tren masa lalu memiliki prosedur penggunaan dan perawatan yang cukup kompleks, harus dilakukan modifikasi supaya memenuhi gaya hidup manusia yang cenderung lebih praktis,” katanya.
Hany menambahkan pentingnya pendidikan fashion keberlangsungan sekaligus keberlanjutan dunia, berbagai keterampilan harus dikuasai oleh para pelaku fashion, seperti kemampuan membaca tren di masa depan, menciptakan alternatif bahan dan metode yang ramah lingkungan, atau melihat kebutuhan dan selera pasar. [ren.wwn]


