31 C
Sidoarjo
Friday, September 4, 2026
spot_img

Melampaui Belanja, Bagaimana Kurasi Tenant Mengubah Mal Jadi Destinasi Gaya Hidup

Surabaya, Bhirawa – Pasar ritel Jakarta kian kompetitif dan berorientasi pada pengalaman. Pusat perbelanjaan kini tidak lagi dipandang sekadar tempat berbelanja, melainkan destinasi gaya hidup. Dalam konteks ini, kurasi tenant menjadi faktor krusial untuk menjaga relevansi, memperkuat daya saing, dan meningkatkan daya tarik komersial jangka panjang sebuah mal.

Sander Halsema, Head of Retail Services Colliers menegaskan bahwa pemilik pusat perbelanjaan perlu membangun tenant mix yang strategis dan selaras dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta posisi bisnis mal dalam jangka panjang.

“Di sisi lain, retailer juga harus jeli memilih lokasi yang tidak hanya strategis, tetapi juga sesuai target konsumen, berpotensi menghasilkan produktivitas penjualan yang baik, dan mampu menopang pertumbuhan permintaan ke depan,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Jumat (4/9/2026).

Beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian bersama:

Pasar ritel Jakarta memasuki fase baru, di mana daya saing ditentukan oleh evolusi aset, relevansi tenant, dan kualitas pengalaman pelanggan.

Retailer semakin selektif dalam menentukan lokasi ekspansi yang mendukung produktivitas penjualan dan positioning merek.

Pemilik pusat perbelanjaan perlu melakukan repositioning berkelanjutan, kurasi tenant yang proaktif, serta mengembangkan konsep berbasis pengalaman.

Data yang terstruktur menjadi fondasi penting bagi pengembangan bisnis ritel, penempatan tenant, dan strategi aset jangka panjang.

Pemulihan Ritel Belum Merata: Tantangan dan Peluang

Berita Terkait :  Pengamat Ingatkan Pelemahan Rupiah Bisa Ancam Sektor Bisnis

Meski prospek pemulihan sektor ritel tetap positif, perbaikan masih berjalan bertahap. Berdasarkan temuan dan analisis tim Research Colliers Indonesia, tingkat ruang kosong pada kuartal II 2026 tertinggi berada di Jakarta Selatan di luar CBD, sekitar 21 persen, disusul Jakarta Utara sekitar 20 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan belum merata di berbagai lokasi dan kelas pusat perbelanjaan.

Di tengah dinamika tersebut, kurasi tenant menjadi salah satu pembeda utama. Pemilik pusat perbelanjaan dituntut menghadirkan kombinasi tenant yang seimbang: anchor tenant, brand internasional dan lokal yang sedang naik daun, layanan pendukung, konsep berbasis pengalaman, serta tenant-tenant pendukung yang mampu bersinergi memperkuat pengalaman pengunjung.

Data dan wawasan konsumen kini memegang peran sentral dalam menyusun strategi tenant mix. Untuk memahami kebutuhan konsumen dan mengambil keputusan lebih tepat, pemilik pusat perbelanjaan dapat memanfaatkan sejumlah data, antara lain, data kunjungan pengunjung, profil konsumen, perilaku belanja konsumen, kinerja penjualan tenant, kurasi tenant sebagai pembentuk ekosistem ritel.

Kurasi tenant bukan lagi sekadar mengisi ruang kosong. Ia berperan menciptakan ekosistem ritel yang terhubung, mendukung segmen pelanggan yang dituju, memperkuat identitas pusat perbelanjaan, dan memberi alasan kuat bagi pengunjung untuk kembali.

Seiring meningkatnya ekspektasi konsumen, pusat perbelanjaan yang mampu menggabungkan aksesibilitas, tenant yang relevan, kenyamanan, pengalaman gaya hidup, dan perencanaan berbasis data akan berada pada posisi lebih kuat untuk mempertahankan daya saing jangka panjang di pasar ritel Jakarta. [aya.kt]

Berita Terkait :  Sarasehan Kemitraan Gula Nasional 2025, Sikap Tegas dan Gerak Cepat BAPANAS Sangat Ditunggu Petani Tebu

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!