Denyut Kebinekaan di Pelataran Harmoni
Oleh:
Hilmi Husein, Pasuruan
Rintik udara malam merambat pelan di sudut Pelataran Gedung Harmoni, Kota Pasuruan, Selasa (1/9).
Bangunan berarsitektur kolonial yang berdiri kukuh di pusat kota itu tak lagi hening seperti malam-malam biasanya.
Terang lampu sorot dan gaung musik tradisional seolah menghidupkan kembali tiap sudut kenangan kota tua ini.
Di sinilah, ribuan warga berkumpul, merayakan malam puncak Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dalam sebuah perjumpaan budaya yang hangat.
Suasana temaram seketika purna begitu alunan pembuka tari kolosal Sekar Paravan mengangkasa. Gerakan gemulai para penari muda dari tiga sanggar seni lokal berkelindan lembut dengan irama gamelan dan musik kontemporer. Gerak tubuh mereka menyajikan riwayat keindahan, keteguhan serta dinamika hidup warga Pasuruan yang dinamis namun tetap berakar kuat pada tradisi.
Panggung malam itu tak hanya milik seni tradisi murni. Kejutan emosional mengalir ketika barisan anak muda generasi Z tampil membawakan musik keroncong.
Di tengah gempuran tren musik digital yang serba cepat, anak-anak muda ini memetik ukulele dan cello dengan penuh kecermatan. Melodi keroncong klasik bertransformasi menjadi oase yang menenangkan, menyeberangkan ingatan kolektif antargenerasi di tengah sesaknya penonton.
Saat malam makin larut, karpet panggung berganti menjadi lintasan visual dalam Pasuruan Street Art Fashion Carnival. Tak ada batas tegas antara panggung parade dan warga yang menonton.
Sebanyak 34 kelurahan di Kota Pasuruan memamerkan karya visual terbaik. Mereka bukan hasil perancang busana ternama, melainkan buah karya tangan dan imajinasi warga dari tingkat RT dan RW.
Setiap kontingen kelurahan mengusung kekayaan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara. Kain tenun Minang yang megah, hiasan kepala Bali yang berkilau, busana adat Jawa yang anggun, hingga mahkota Papua yang eksplosif diperagakan secara bergantian.
Lebih dari sekadar peragaan busana, ada rasa bangga yang terpancar dari wajah para peraga warga biasa yang malam itu tampil memesona bak model profesional.
Setiap detail payet, juntaian kain dan pernak-pernik yang dirancang mandiri oleh warga kelurahan menyintesiskan satu pesan sederhana.
Yakni, kebinekaan bukan sekadar konsep di dalam buku teks, melainkan helai-helai kain yang benar-benar mereka kenakan dan rayakan bersama.
Kehangatan malam juga makin lengkap kala grup seni rakyat Cak Percil Cs menguasai panggung. Gelak tawa meledak berulang kali merespons kelakar dan humor khas Jawa Timuran yang segar. Melalui humor sederhana yang renyah namun sarat pesan moral, batas antara pejabat publik dan warga sirna dalam tawa yang sama.
Di antara kerumunan warga, Wali Kota Pasuruan H Adi Wibowo memandang sekeliling panggung dengan sorot mata haru. Bagi pria yang akrab disapa Mas Adi ini, perayaan malam itu merupakan akumulasi dari 32 rangkaian kegiatan Agustusan yang melibatkan seluruh lapisan warga kota.
“Malam hari ini menjadi puncak kegiatan Agustusan di Kota Pasuruan. Luar biasa penampilan dan talent-talenta anak-anak Kota Pasuruan, seniman, budayawan yang tadi sama-sama kita saksikan. Ini menunjukkan bahwa Kota Pasuruan memiliki potensi yang luar biasa dan tak kalah dengan ajang skala nasional,” tutur Mas Adi, Selasa (1/9) malam.
Bagi Mas Adi, apa yang disuguhkan oleh kontingen 34 kelurahan dan deretan anak muda di panggung malam itu menyampaikan sebuah optimisme tentang daya saing lokal.
Potensi seni daerah, jika diberi ruang ekspresi yang luas dan tepercaya, mampu tumbuh menjadi mahakarya yang membanggakan.
Namun, di atas panggung budaya dan estetik itu, ada nilai filosofis yang jauh lebih berharga yang ingin dirawat bersama. Yakni, kemajemukan suku, latar belakang dan ekspresi warga Pasuruan adalah modal sosial yang tak ternilai harganya.
“Pada momentum kemerdekaan Republik Indonesia ini mari kita maknai untuk mengukir kembali semangat nasionalisme dan kebangsaan kita,” ucap Mas Adi.
Ia menekankan keharmonisan yang dirasakan warga malam itu tidak lahir begitu saja. Ada fondasi toleransi dan kebersamaan yang telah diletakkan kokoh oleh para ulama, kiai, tokoh masyarakat dan sesepuh daerah terdahulu. Menjaga kerukunan di tengah kemajemukan adalah tugas kolektif yang harus diteruskan oleh generasi hari ini.
“Mari Pasuruan dengan segala perbedaannya, dengan kemajemukannya, kita jaga bersama. Persatuan dan kebersamaan yang sudah diwariskan para pendahulu kita, oleh kiai, ulama, dan tokoh masyarakat, adalah tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan cita-cita mereka,” papar Mas Adi.
Malam puncak peringatan kemerdekaan di pelataran Gedung Harmoni itu pun perlahan usai. Namun, kehangatan dari alunan keroncong anak muda dan warna-warni busana 34 kelurahan menyisakan jejak yang dalam
Yaitu bahwa di Kota Pasuruan, persatuan dan kebangsaan tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi dan dirayakan dengan sukacita. [hil.gat]

