30 C
Sidoarjo
Friday, September 4, 2026
spot_img

Riset YAGITU Soroti Tingginya Konsumsi Gula Anak Muda Jatim


Surabaya, Bhirawa – Pola konsumsi generasi muda di Jawa Timur mulai menjadi perhatian menyusul temuan riset Evidence-Based Policy yang dilakukan Yayasan Generasi Inovatif Tunas Unggul (YAGITU). Riset tersebut menemukan masih adanya kesenjangan pengetahuan masyarakat mengenai dampak konsumsi gula berlebihan, sementara minuman olahan yang dikonsumsi di warung kopi, kedai kopi hingga kafe menjadi salah satu sumber konsumsi gula yang banyak ditemukan.

Sekretaris YAGITU, Nuryadi, mengatakan penelitian tersebut secara khusus menyasar masyarakat berusia di bawah 40 tahun, termasuk generasi Z dan milenial. Dari hasil penelitian, ditemukan masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai dampak konsumsi gula secara berlebihan.

“Dari hasil yang kita dapat, pertama ternyata masih banyak orang yang ada gap pengetahuan terkait dampak mengonsumsi gula. Masih ada gap itu, ada gap pengetahuan,” ujar Nuryadi, usai menyerahkan hasil riset kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, Kamis (3/9).

Menurut Nuryadi, persoalan tersebut semakin relevan seiring menjamurnya warung kopi dan kafe yang menjadi bagian dari gaya konsumsi masyarakat, khususnya anak muda. Minuman olahan yang dijual di tempat-tempat tersebut disebut menjadi salah satu sumber konsumsi gula masyarakat.

“Yang kedua, ternyata konsumsi gula ini paling banyak didapat melalui minuman olahan yang biasanya diminum lewat kafe atau warung,” katanya.

Ia menyebut perkembangan kedai kopi dan kafe di satu sisi memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat karena membuka peluang usaha. Namun, perkembangan tersebut juga perlu diikuti perhatian terhadap konsekuensi kesehatan akibat pola konsumsi yang terbentuk.

Berita Terkait :  Sekolah Swasta Gratis Tak Mungkin Digelar Tahun Ini

“Ini juga jadi tantangan karena di sisi lain meningkatkan ekonomi, tapi di sisi lain juga ada dampak kesehatan untuk pengonsumsinya,” jelasnya.

Besarnya perkembangan usaha kedai kopi juga terlihat di kawasan Surabaya dan Sidoarjo. Berdasarkan riset YAGITU, jumlah kedai kopi di dua wilayah tersebut pada 2025 telah mendekati 12 ribu unit. Jumlah itu mencakup warung kopi hingga kedai dengan segmen menengah.

“Di Surabaya, di Sidoarjo itu hampir 12.000 di 2025 ini. Itu mulai yang kelasnya warkop sampai yang kelasnya menengah,” ungkap Nuryadi.

Melihat kondisi tersebut, YAGITU mendorong adanya pendekatan kebijakan yang sesuai dengan karakter generasi muda. Salah satu opsi yang dinilai dapat dipertimbangkan adalah memperkuat informasi mengenai komposisi dan kadar gula pada minuman yang dijual di kedai kopi maupun kafe.

Nuryadi mengatakan informasi mengenai komposisi tidak seharusnya hanya diterapkan pada produk makanan dan minuman kemasan, tetapi juga dapat diperluas pada produk yang disajikan langsung kepada konsumen di kedai.

“Harapan kita sebenarnya dari sisi kami yang melakukan penelitian itu ada dampak, setiap regulasi yang keluar berdasarkan evidence-based. Jadi bukan karena suka atau tidak suka atau ada hal-hal lain,” tegasnya.

Selain informasi komposisi, YAGITU juga mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih sehat di lingkungan kedai kopi. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah penyediaan air putih secara gratis bagi konsumen yang membeli minuman dengan kadar gula tinggi.

Berita Terkait :  Punya Santri dan Musholla, Guru Ngaji di Panji Tak Dapat Insentif dari Pemkab Situbondo

“Misalnya untuk warung-warung atau coffee shop, yang menjual dengan grade kopinya yang paling tinggi, maka dia harus menyiapkan air mineral atau air putih. Jadi selalu harus ada dikasih air putih secara free,” kata Nuryadi.

Menurutnya, edukasi tetap menjadi bagian penting dalam mengubah pola konsumsi masyarakat. Regulasi dinilai tidak cukup apabila tidak dibarengi peningkatan pengetahuan konsumen mengenai kandungan makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Sementara itu, Plt. Kepala BRIDA Provinsi Jawa Timur, Lilik Pudjiastuti, menyambut baik riset pola konsumsi yang diserahkan YAGITU. Ia menilai perubahan pola konsumsi masyarakat perlu dilihat dari berbagai aspek, mulai kesehatan, ekonomi hingga pendidikan.

“Saya belum baca, saya belum baca ya. Tapi saya berharap banyak karena memang pola konsumsi itu, jika kita lihat, ada banyak dampaknya, baik positif maupun negatif,” kata Lilik.

Dari sisi ekonomi, Lilik menilai menjamurnya warung dan tempat nongkrong menjadi peluang bagi masyarakat untuk membuka usaha. Namun, peluang tersebut perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap aspek kesehatan dan edukasi kepada produsen maupun konsumen.

“Dengan banyaknya sekarang warung-warung nongkrong ini kan membuka peluang untuk melakukan usaha,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi mengenai makanan dan minuman sehat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya didorong memilih makanan berdasarkan rasa dan kesukaan, tetapi juga memahami dampaknya terhadap kesehatan.

“Contohnya, orang itu senang makan cireng, cilok, ataupun dengan saus-saus yang begini, senang, enak. Tetapi kita harus juga memberikan edukasi, baik kepada produsennya maupun kepada pembelinya,” tuturnya.

Berita Terkait :  Riset Diminta Fokus Jawab 600 Isu Strategis

BRIDA Jatim selanjutnya berencana menyampaikan hasil riset tersebut kepada sejumlah OPD terkait untuk menjadi bahan diskusi dan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan maupun program.

“Hasil begini nanti dampaknya kita berikan kepada semua OPD agar mempunyai kebijakan atau nanti program kegiatannya untuk mengatasi permasalahan,” kata Lilik.

Menurutnya, penanganan persoalan pola konsumsi membutuhkan sinergi lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

“Jadi mendukung ekonomi yang ada, tapi tetap mengatasi dampak yang ada,” tegasnya.

Perwakilan Asosiasi Industri, Armytanti Hanum Kasmito, turut mengapresiasi riset pola konsumsi tersebut. Menurutnya, kajian tersebut penting untuk diimplementasikan karena dapat menjadi dasar dalam mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan dampak kesehatan.

“Riset terkait pola konsumsi ini sangat menarik untuk diimplementasikan karena dapat memberikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan dampak kesehatan mengingat PDRB Jawa Timur masih didorong oleh industri pengolahan makanan dan minuman,” katanya. [ina]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!