Sidoarjo, Bhirawa. – Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat membantu penanganan dugaan keracunan massal yang dialami ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
Hingga Rabu (2/9) sore, sebanyak 516 pasien telah mendapatkan pelayanan medis di sembilan fasilitas kesehatan. Dari jumlah ini, 88 orang masih menjalani rawat inap, 427 pasien telah diperbolehkan pulang, dan satu pasien masih dalam observasi.
Koordinator Tagana Kabupaten Sidoarjo, Indri mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi bersama unsur terkait. Data pasien, masih bersifat sementara dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.
”Tagana terus melakukan pemantauan dan koordinasi bersama unsur terkait. Data pasien masih bersifat sementara dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan,” katanya.
RSUD RT Notopuro Sidoarjo menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien terbanyak, yakni 339 orang. Selanjutnya, RS Siti Hajar menangani 75 pasien, RSU Aisyiyah Siti Fatimah 47 pasien, RS Delta Surya 20 pasien, RS Pusura 17 pasien, RS Pusdik Bhayangkara 8 pasien, RS Anwar Medika 6 pasien, RS Arafah Anwar Medika 3 pasien, dan RS Assakinah Medika satu pasien.
Dugaan keracunan mulai diketahui pada Selasa (1/9) sekitar pukul 16.20 WIB. Sejumlah santri dilaporkan mengalami keluhan berupa mual, muntah, sakit perut, hingga diare.
Para santri kemudian dievakuasi secara bertahap ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. Dalam proses ini, Tagana Kabupaten Sidoarjo mengerahkan personel untuk membantu penanganan di lapangan.
Personel Tagana melakukan pemantauan, pendataan awal korban, membantu proses evakuasi bersama unsur terkait, serta berkoordinasi mengenai distribusi dan penanganan pasien di sejumlah RS.
Selain itu, Tagana juga menyiapkan velbed sebagai sarana pendukung bagi korban yang membutuhkan tempat beristirahat maupun menjalani observasi sementara.
”Kami membantu sesuai kebutuhan di lapangan dan terus berkoordinasi dengan pengurus pesantren, tenaga medis, pemerintah daerah serta unsur lainnya,” ujar Indri.
Penanganan kejadian itu melibatkan berbagai unsur, antara lain Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, pemerintah daerah, TNI/Polri, tenaga kesehatan, pengurus Pondok Pesantren Mambaul Hikam, relawan, dan Tagana Kabupaten Sidoarjo.
Sementara itu, makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para santri disebut berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.
Hingga kini, Tagana Kabupaten Sidoarjo masih melakukan pemantauan kondisi para korban serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperbarui data dan memastikan penanganan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan. [ali.rac]

