Oleh :
Abimanyu Poncoatmodjo Iswinarno
Pustakawan Ahli Utama di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2026 menjadi momentum krusial bagi masa depan bangsa Indonesia. Tahun ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) resmi mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Seruan ini bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna, melainkan sebuah panggilan darurat dan kolaboratif melalui Gerakan Nasional #RamahAmanNyamanAnak (Gernas #RANA).
Menariknya, perayaan HAN tahun ini bertepatan langsung dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026. Setelah melewati masa libur panjang akhir tahun ajaran, jutaan anak Indonesia kini kembali menapakkan kaki di gerbang sekolah. Namun, di balik antusiasme seragam baru, tersimpan sebuah tantangan psikologis dan akademis yang nyata yakni risiko penurunan fokus belajar atau dikenal dengan istilah learning loss.
Masa liburan yang didominasi oleh gawai / gadget sering membuat anak-anak rentan lupa pelajaran. Dalam titik transisi inilah, sektor literasi hadir sebagai tumpuan utama untuk memulihkan kesiapan mental dan kognitif anak menyongsong masa depan mereka.
Dilema Media Sosial
Akrabnya anak-anak dengan gawai selama masa libur panjang menciptakan pola kebiasaan yang sulit diputus secara instan saat sekolah dimulai kembali . Besarnya fenomena paparan teknologi ini tercermin dari riset lembaga kecerdasan buatan Neurosensum yang menunjukkan bahwa sekitar 87 persen anak-anak di Indonesia sudah dikenalkan pada media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun. Bahkan, data dari Internet Matters memperlihatkan anak usia 10-12 tahun rata-rata telah memiliki minimal satu akun media sosial pribadi .
Tingginya penetrasi digital ini berbanding lurus dengan kerentanan yang dihadapi anak. Banyaknya konten negatif berpotensi mendistorsi pola pikir anak, mengenalkan gaya hidup hedonis, hingga menyeret mereka ke dalam ekosistem perundungan siber (cyberbullying). Berdasarkan catatan dari KemenPPPA, klaster pendidikan dan pemanfaatan waktu luang anak sempat mencatatkan evaluasi yang memerlukan perhatian khusus akibat kurangnya pemanfaatan aktivitas edukatif.
Ketika anak menghabiskan liburan panjang tanpa pengawasan ketat karena orang tua sibuk bekerja, risiko kekerasan di ruang digital maupun nyata melonjak. Data historis mencatat ribuan kasus kekerasan pada anak, dengan anak perempuan kerap menjadi korban terbanyak, di mana kekerasan fisik seperti tawuran remaja, aksi begal, dan kekerasan seksual menempati urutan yang mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, subtema HAN 2026 seperti “Lindungi Teman: Berbeda Itu Biasa, Berteman Itu Luar Biasa, Setara Tanpa Kekerasan” menjadi tameng penting guna membangun ekosistem digital dan sekolah yang ramah anak.
Urgensi Literasi Digital
Bagaimana kita menghadapi anak-anak yang mulai masuk sekolah agar tidak terdistraksi sisa-sisa kesenangan liburan? Jawabannya terletak pada reformasi literasi digital di lingkungan sekolah. Literasi digital bukan sekadar mengajarkan anak cara mengoperasikan perangkat, melainkan menanamkan kecakapan berpikir kritis agar mereka mampu menyaring informasi secara aman .
Sekolah harus mengambil peran aktif sebagai fasilitator utama dalam mengalihkan fungsi gawai dari sarana hiburan pasif menjadi media belajar interaktif. Ketika anak kembali ke kelas, guru tidak bisa langsung memaksakan materi kurikulum yang berat. Diperlukan fase jembatan di mana literasi digital digunakan untuk memicu kembali memori akademis mereka melalui gim edukatif, riset digital sederhana, atau pembuatan karya kreatif.
Hal ini sejalan dengan pesan “Lindungi” dalam tema HAN tahun ini, yaitu memastikan anak-anak terbebas dari ancaman di ruang digital sekaligus mengoptimalkan potensi akademis mereka. Kendati dunia kini serba digital, pepatah klasik “buku adalah jendela dunia” tetap relevan. Buku fisik memiliki keunggulan yang tidak tergantikan oleh layar gawai: ia melatih ketenangan, kedalaman fokus, serta merangsang daya imajinasi tanpa interupsi notifikasi media sosial . Mendekatkan kembali anak dengan buku pascalibur panjang adalah strategi terbaik untuk memulihkan kemampuan kognitif mereka yang sempat mengendur .
Namun, menumbuhkan minat baca pada anak yang telanjur nyaman dengan stimulasi visual gawai membutuhkan pendekatan khusus. Pemerintah, pegiat literasi, dan pihak sekolah harus menerapkan strategi menjemput bola. Kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu anak berbondong-bondong mendatangi perpustakaan yang kaku. Beberapa inovasi taktis yang dapat diterapkan di sekolah maupun ruang publik meliputi:
Pertama, Penyediaan Pojok Baca Kreatif: Menyusun sudut baca yang nyaman, penuh warna, dan berisi buku edukatif yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak di setiap ruang kelas .
Kedua, Optimalisasi Perpustakaan Keliling: Memanfaatkan armada motor atau mobil perpustakaan keliling untuk menjangkau area-area bermain anak dan pemukiman padat.
Ketiga, sistem Apresiasi (Reward). Memberikan penghargaan atau reward sederhana bagi anak-anak yang aktif meminjam dan membaca buku guna merangsang kompetisi positif .
Keempat, metode Ulas Balik (Bercerita Ulang). Petugas pelayanan atau guru mengajak anak memilih buku kegemaran mereka, membacanya, kemudian meminta mereka menceritakan kembali isinya dengan gaya bahasa sendiri disertai apresiasi yang tulus. Melalui inovasi yang digerakkan oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan sekolah ini, ruang publik akan berubah menjadi wadah yang inklusif bagi anak dan orang tua untuk belajar bersama .
Menuju Generasi Emas Berkarakter Profil Pelajar Pancasila
Pesan ketiga dari tema HAN 2026 adalah “Bangun Masa Depan”. Investasi terbesar dan paling berharga yang bisa diberikan oleh negara kepada generasi penerus adalah pemenuhan hak atas pendidikan yang berkualitas . Melalui momentum tahun ajaran baru ini, pemulihan literasi harus dijadikan fondasi awal untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang tangguh .
SDM yang unggul dicirikan sebagai pembelajar sepanjang hayat. Mereka tidak hanya memiliki kompetensi global di bidang teknologi, tetapi juga memiliki benteng moral yang kokoh berupa
nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Dengan menyatukan aspek keimanan, karakter mulia, dan semangat kebangsaan, anak-anak Indonesia akan memiliki daya resiliensi tinggi dalam menghadapi tantangan zaman.
Peringatan HAN 2026 dan awal persekolahan ini harus disambut dengan rasa optimisme yang tinggi . Anak-anak tidak boleh merasa terbebani atau takut kembali belajar setelah libur panjang. Sebaliknya, lingkungan sekolah dan keluarga wajib menghadirkan atmosfer yang penuh kreativitas, kegembiraan, dan rasa aman.
Ketika hak partisipasi anak didengarkan dan perlindungan mereka dijamin melalui Gernas #RANA, maka kecemasan akan hilangnya kemampuan belajar pascalibur dapat diatasi dengan baik. Mari bersama-sama menyayangi, melindungi, dan membimbing anak-anak kita, karena di pundak merekalah arah masa depan bangsa Indonesia ditentukan.
———— *** ————-


