Kota Pasuruan, Bhirawa. – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Pasuruan menorehkan pencapaian emas yang humanis sekaligus inklusif pada paruh pertama tahun 2026.
Tidak hanya gencar menyasar pemilih pemula di sekolah umum dan kampus, lembaga pengawas ini sukses merangkul kelompok rentan dengan melatih puluhan siswa-siswi penyandang disabilitas di Kota Pasuruan untuk menjadi bagian dari garda depan pengawasan partisipatif pemilu.
Langkah konkret tersebut tercermin dalam rilis laporan capaian pelaksanaan Program Literasi Demokrasi Semester I mulai Januari hingga Juni tahun 2026.
Salah satu kejutan membanggakan datang dari keterlibatan aktif 38 siswa-siswi disabilitas dari SLB Negeri 1 Pasuruan. Mereka berhasil menuntaskan seluruh kurikulum edukasi kepemiluan berbasis digital dan berhak mengantongi sertifikasi resmi langsung dari pihak Bawaslu.
Strategi merangkul kelompok difabel itu menjadi pembuktian nyata atas komitmen Bawaslu bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi dinding pembatas bagi warga negara untuk memperoleh hak informasi politik demi mengawal pemilu yang berintegritas tinggi.
“Melalui aplikasi MOOC Literasi Demokrasi ini, kami berkomitmen meruntuhkan sekat-sekat geografis dan sosial agar edukasi kepemiluan dapat diakses dengan mudah, terstruktur, dan transparan dari mana saja. Demokrasi mengharuskan adanya pemilu, dan pemilu yang berkualitas mengharuskan adanya pendidikan politik yang matang di tingkat akar rumput,” tegas Ketua Bawaslu Kota Pasuruan, Vita Suci Rahayu.
Edukasi tanpa sekat sosial ini diwujudkan lewat media mutakhir berupa platform digital interaktif bernama Massive Open Online Course (MOOC) Literasi Demokrasi.
Aplikasi pembelajaran digital ini mengemas materi esensial secara komprehensif, mulai dari Sejarah Pengawasan, Pencegahan dan Pengawasan Pemilu, Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa, hingga Transparansi Pelanggaran dan Inovasi Kelembagaan.
Agar pesan sampai ke akar rumput secara maksimal, materi di dalam MOOC diproduksi dan disampaikan secara interaktif langsung oleh jajaran pimpinan inti Bawaslu Kota Pasuruan.
Di antaranya Ketua Bawaslu Vita Suci Rahayu bersama dua Anggota Bawaslu, Akhmad Marta Affandi dan A. Sofyan Sauri.
Selain menggandeng SLB Negeri 1 Pasuruan, tim korps pengawas ini juga gencar mengampanyekan gerakan literasi ke tujuh institusi pendidikan menengah atas dan tinggi lainnya melalui program Bawaslu Goes to School dan Goes to Campus.
Di antaranya adalah SMAN 1 Pasuruan, SMAN 2 Pasuruan, SMAN 3 Pasuruan, SMKN 1 Pasuruan, SMKN 2 Pasuruan, Universitas Yudharta Pasuruan, serta Organisasi Kemahasiswaan se-Kota Pasuruan.
Sepanjang enam bulan berjalan di tahun 2026, antusiasme masyarakat Kota Pasuruan tergolong luar biasa. Tercatat ada total 337 peserta terdaftar di dalam platform MOOC. Dominasi kuat datang dari pemilih pemula usia 17-19 tahun yang mencapai 231 peserta (kelompok terbesar).
Diikuti kelompok remaja usia ? 16 tahun (35 peserta), pemuda usia 20-24 tahun (39 peserta), serta segmen dewasa. Dari klasifikasi jender, peserta terdiri atas 188 laki-laki (55,8%) dan 149 perempuan (44,2%).
Bawaslu Kota Pasuruan meyakini bahwa rendahnya semangat literasi di tengah masyarakat berpotensi melemahkan fungsi partisipasi serta kontrol sosial terhadap kekuasaan.
Tanpa adanya edukasi politik yang matang, pemilu yang demokratis, jujur, dan adil sesuai dengan asas penegakan hukum kepemiluan akan sulit terwujud.
“Makanya, lewat integrasi teknologi dan inklusivitas sosial yang kuat pada semester pertama ini, kami berharap para peserta, terutama dari kelompok rentan dan pemilih pemula, mampu menjadi motor penggerak kontrol sosial. Tujuannya mengawal roda pemerintahan agar benar-benar berjalan murni berdasarkan kedaulatan rakyat demi menyongsong pembangunan nasional yang berkelanjutan,” kata Vita Suci Rahayu. [hil.hel]


