Oleh :
Siti Khodijah
Dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember
Banyuwangi merupakan sebuah daerah yang kental dengan loyalitasnya terhadap budaya dan bahasanya. Julukan “The Sunrise of Java” bukan hanya soal keindahan matahari terbit di ujung timur Pulau Jawa, tetapi juga metafora dari semangat masyarakatnya yang bangkit melestarikan identitas daerahnya.
Ada banyak kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di tiap desa, karena ingin mengembangkan potensi keindahan alam mereka dengan tetap melestarikan budaya dan bahasanya. Dari Osing hingga Kemiren, dari Gandrung hingga Kebo-Keboan, napas lokal terasa begitu kuat.
Namun, sebuah pertanyaan besar kemudian muncul: Apakah bentuk loyalitas yang sangat kuat terhadap daerah ini merupakan sebuah bentuk kepedulian terhadap bangsa secara keseluruhan? Atau justru sebaliknya, keduanya sering dipertentangkan seolah-olah mencintai daerah sama dengan melupakan nasionalisme? Jawabannya dalah IYA.
Loyalitas terhadap sebuah daerah, dalam konteks Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, adalah fondasi paling otentik dari kepedulian terhadap bangsa. Banyuwangi merupakan salah satu contoh daerah yang tidak meninggalkan budaya serta Bahasa daerahnya.
Hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan yang tetap menggunakan istilah Bahasa setempat, yakni Bahasa osing. Masyarakat Banyuwangi yang bangga berbahasa Osing-dengan intonasi khasnya yang cepat dan ceplas-ceplos-sebenarnya sedang menjaga salah satu dari 718 bahasa daerah di Indonesia.
Ketika sebuah bahasa daerah punah, Indonesia kehilangan satu cara pandang dunia. Maka, dengan melestarikan bahasa Osing, masyarakat Banyuwangi sedang “menyumbang” langsung pada pelestarian kekayaan bangsa. Tidak hanya lewat komunikasi, pemerintah daerah Banyuwangi, lewat dinas pariwisatanya membuat kegiatan(event) selama setahun dengan tetap memakai istilah Bahasa daerahnya.
Seperti acara yang diselenggrakan di bulan mei, yaitu acara padhang ulanan (pacul goang), ithuk-ithukan jopuro, coklat sky glenmore Banyuwangi run. Istilah “padhang ulan” hampir ada di tiap bulan selama kegiatan tersebut, namun tiap bulan memiliki arti yang berbeda. Istilah padhang bulan di bulan mei memiliki arti yang berbeda dengan istilah yang muncul di bulan juni.
Di bulan juni, istilah tersebut berarti kisah sri tanjung, di bulan juli berarti kebo-keboan, di bulan agustus gredoan, di oktober berarti gandrung marsani, dan beda lagi di bulan berikutnya. Istilah-istilah tersebut menunjukkan betapa loyalnya daerah ini terhadap Bahasa daerahnya.
Di tengah hantaman Bahasa asing, mereka tetap berdiri kokoh dengan menjunjung tinggi bahasanya, meskipun ada campuran Bahasa asing agar terkesan modern. Namun tidak mengindahkan Bahasa asalnya.
Kegiatan yang berbalut local inilah yang membawa Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang mendapatkan penghargaan bergengsi dengan dinobatkan sebagai kabupaten ter inovatif se Indonesia selama delapan tahun berturut-turut di Indonesia Government Award (IGA). Pencapaian tersebut tentu karena Kerjasama semua pihak, baik dari pemerintahan maupun dari Masyarakat setempat.
Tidak hanya di aspek Bahasa, di aspek budaya mereka juga jago untuk merawat dan melestarikannya. Di tiap desa wisata, mereka menawarkan kuliner khas mereka, contoh Ketika di desa Gombengsari, mereka menawarkan kopi khas nya berjenis robusta, ada juga Kue cucur berwarna coklat yang memakai gula aren. Tak mau kalah, di salah satu tempat wisata, yaitu di Agrowisata Taman Suruh Banyuwagi juga ada UMKM yang menjual makanan khas nya yaitu kentang jembut. Kentang nya kecil, mirip umbi-umbian, tapi rasanya seperti kentang, Unik. Makanan ini tidak bisa ditemukan di selain Banyuwangi. Disaat di daerah lain banyak ditemukan jajanan khas negara lain, seperti makanan khas korea, tapi di Banyuwangi lebih memilih untuk tetap menjual makanan khas daerahnya. Ini menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap warisan leluhur dengan tetap memperhatikan warisan budayanya.
Dari daerah Banyuwangi, kita belajar bahwa loyalitas terhadap daerah adalah bentuk kepedulian terhadap bangsa yang paling konkret dan paling jujur. Karena bangsa Indonesia tidak pernah ada di awang-awang. Indonesia ada di sawah-sawah Banyuwangi yang dijaga oleh petani yang juga menjaga keseniannya.
Indonesia ada di mulut remaja Osing yang fasih berbahasa ibunya namun tetap bersumpah menggunakan Bahasa Indonesia. Karena itu, buat para pemuda Indonesia, Jangan pernah takut menjadi orang jawa, madura, Batak, Papua, atau Minang, jadilah yang paling lokal untuk bisa menjadi yang paling nasional. Karena kekuatan Indonesia terletak pada symphony of loyalties-sebuah simfoni dari banyak loyalitas lokal yang berpadu menjadi satu nusantara.
————- *** ————–


