Pemprov, Bhirawa
Musim kemarau 2026 mulai menjadi perhatian serius di Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim memetakan sedikitnya 916 desa di 29 kabupaten berpotensi mengalami kekeringan, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari hasil pemetaan BPBD Jatim, terdapat 28 kabupaten/kota yang memiliki potensi karhutla selama musim kemarau tahun ini. Bahkan, 22 daerah di antaranya masuk kategori risiko tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2025. Karena itu, BPBD mulai memperkuat langkah antisipasi di berbagai daerah, mulai distribusi air bersih hingga penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Jangan sampai membakar sampah yang bisa berpotensi menimbulkan kebakaran. Silakan menghubungi BPBD kabupaten/kota setempat apabila membutuhkan dropping air bersih,” ujar Gatot.
Adapun wilayah dengan potensi tinggi karhutla tersebut meliputi Ponorogo, Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Batu, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Kabupaten Malang, Bondowoso, Situbondo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Kabupaten Madiun, Bojonegoro, Lamongan hingga Gresik.
Hingga pertengahan Mei 2026, terdapat lima kabupaten yang resmi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Kedaruratan Kekeringan, yakni Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Lamongan, dan Lumajang.
BPBD Jatim juga mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan ekstrem. Salah satu distribusi dilakukan di Desa Klekan, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso.
“Sejauh ini kami telah mendistribusikan 10 ribu liter air bersih untuk sekitar 140 kepala keluarga terdampak di Kecamatan Botolinggo,” jelasnya.
Sementara itu, BPBD Bondowoso mencatat terdapat 20 dusun di 13 desa dan sembilan kecamatan yang mulai terdampak kekeringan tahun ini. Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Maesan, Klabang, Prajekan, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tamankrocok, Curahdami hingga Tlogosari.
Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menyebut penyaluran air bersih dilakukan berdasarkan SK Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026 yang telah diterbitkan pemerintah daerah.
Dalam data BPBD Bondowoso, jumlah warga terdampak mencapai 1.784 kepala keluarga atau sekitar 7.136 jiwa. Meski demikian, angka tersebut disebut lebih rendah dibanding tahun lalu berkat sejumlah program intervensi seperti pembangunan sumur bor, perlindungan sumber mata air dan program Pamsimas.
Selain distribusi air bersih, BPBD Jatim juga menyiapkan bantuan tandon air untuk didistribusikan ke daerah terdampak sesuai kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari antisipasi meningkatnya ancaman kekeringan dan karhutla selama musim kemarau.
Gatot menambahkan, ancaman kekeringan tahun ini diperkirakan meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, tercatat sebanyak 129 desa di 12 kabupaten terdampak kekeringan. Sementara kebakaran lahan mencapai 44,3 hektare dan menyebabkan tiga kawasan hutan terbakar.
“Kami terus mengimbau masyarakat aktif melaporkan titik kekeringan ke BPBD setempat agar bisa segera ditindaklanjuti dengan penyaluran air bersih,” katanya.
Di sisi lain, BPBD Jatim juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di 38 kabupaten/kota. Program tersebut diawali dari kawasan Mataraman, meliputi Tulungagung, Magetan, Trenggalek, Kabupaten Madiun hingga Kota Madiun.
Pembentukan Destana dilakukan di sejumlah wilayah seperti Desa Panjerejo, Desa Jabung, Desa Timahan, Desa Nglanduk hingga Kelurahan Patihan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi ancaman kekeringan maupun kebakaran lahan.
“Sebagaimana arahan Ibu Gubernur, kesiapsiagaan menjadi prioritas utama di setiap lapisan masyarakat. Destana merupakan langkah konkret untuk membangun masyarakat yang siap siaga, tanggap dan tangguh menghadapi ancaman bencana,” tandas Gatot.
Tak hanya fokus pada mitigasi bencana, BPBD Jatim juga membagikan masing-masing 100 bibit pohon produktif di setiap lokasi pembentukan Destana. Bibit yang dibagikan di antaranya durian, alpukat, kelengkeng dan jambu air, sebagai upaya mitigasi vegetatif sekaligus mendukung nilai ekonomi masyarakat sekitar. [fir.gat]


