Pemkot Pasuruan, Bhirawa
Keheningan pagi di kawasan Klenteng Tjoe Tik Kiong, Kota Pasuruan, mendadak pecah oleh riuh kehangatan warga pada Rabu (13/5) pagi.
Puluhan biksu (Bhikkhu) dengan jubah tebal berwarna safron tampak bersiap-siap. Hari itu, sebanyak 55 biksu dari berbagai belahan dunia, didampingi 30 panitia Waisak Nasional 2026, bersiap melanjutkan langkah kaki mereka dalam misi spiritual bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026 menuju Candi Borobudur, Magelang.
Rombongan pejalan kaki lintas negara ini dilepas langsung oleh Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi. Pria yang akrab disapa Mas Nawawi tersebut hadir dengan senyum hangat, merepresentasikan keramahan khas kota pelabuhan kuno ini kepada para tamu mancanegara.
Bagi Kota Pasuruan, kehadiran para biksu ini bukan sekadar pelintasan biasa. Kota yang dikenal dengan nuansa religiusnya yang kuat ini justru menunjukkan wajah inklusif dan toleransi yang tinggi.
Warga dari berbagai latar belakang tampak menyemut di sekitar klenteng untuk melihat dan memberikan semangat kepada para biksu. Dalam sambutannya, Mas Nawawi tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya.
Ia mengapresiasi keputusan panitia yang kembali memilih Kota Pasuruan sebagai salah satu titik singgah penting dalam rute perjalanan sakral ini.
“Kami bangga bahwa Kota Pasuruan masih diampiri (disinggahi) oleh panjenengan semua. Ini adalah kehormatan bagi kami,” ujar Mas Nawawi dengan nada takzim.
Ia juga memastikan bahwa doa dari masyarakat Pasuruan akan terus mengalir mengiringi setiap tapak kaki para biksu hingga mencapai tujuan akhir di candi Buddha terbesar di dunia tersebut.
“Dan aemoga perjalanan menuju Borobudur diberikan keselamatan dan kelancaran. Dan panitia di sini juga akan berdoa untuk keselamatan panjenengan semua,” jelas Mas Nawawi.
Indonesia Walk for Peace 2026 sendiri bukan sekadar ritual jalan kaki jarak jauh. Perjalanan spiritual ini merupakan bentuk dedikasi mendalam yang membawa misi besar.
Yakni, menyebarkan pesan universal tentang kedamaian, harmoni dan persaudaraan antarmata dunia. Di tengah situasi global yang dinamis, langkah kaki para biksu ini menjadi simbol pengingat akan pentingnya ketenangan batin dan toleransi.
Sebelum bendera start dikibarkan, Mas Nawawi memberikan petuah pelepasan yang menyentuh hati para peserta.
“Selamat melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. Semoga langkah panjenengan semua membawa kedamaian dan harmoni bagi sesama,” tuturnya puitis, yang langsung disambut cakupan tangan di dada (anjali) oleh para biksu sebagai bentuk penghormatan balik.
Begitu rombongan mulai melangkah meninggalkan gerbang Klenteng Tjoe Tik Kiong, pemandangan humanis langsung tersaji. Di sepanjang rute jalanan Kota Pasuruan, masyarakat berdiri di tepi jalan.
Ada yang melambaikan tangan, memberikan senyuman, bahkan beberapa warga lokal tampak membagikan air mineral kepada rombongan.
Sambutan hangat ini menjadi bukti nyata bahwa pesan kedamaian yang dibawa para biksu telah bersemi, justru sejak langkah pertama mereka dimulai dari kota ini. [hil.dre]


