29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Tak Gentar Cuaca Panas, Ratusan Siswa SD Praktik Manasik Haji Layaknya di Tanah Suci


Pasuruan, Bhirawa
Gema talbiyah “Labaik Allahumma Labaik” membahana di kawasan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Selasa (12/5) pagi.

Bukan oleh jamaah haji dewasa yang bersiap menuju embarkasi, melainkan ratusan bocah sekolah dasar (SD) yang tampak gagah mengenakan kain ihram putih tanpa jahitan.

Sebanyak 266 siswa kelas V dari berbagai SD di Kecamatan Pohjentrek itu tengah mengikuti simulasi manasik haji kolosal. Mereka tumpah ruah di Pondok Pesantren (Ponpes) Assalam, Desa Parasrejo, untuk merasakan langsung pengalaman spiritual rukun Islam kelima.

Menariknya, panitia mengonsep kegiatan tersebut dengan tingkat kemiripan yang tinggi dengan prosesi asli di Tanah Suci. Mulai dari penggunaan transportasi angkot yang diibaratkan sebagai bus antar-kota di Arab Saudi, hingga replika titik-titik krusial haji seperti Arafah, Muzdalifah, hingga Jamarat (lokasi lempar jumrah).

Tantangan pertama dimulai saat para siswa memasuki aula pesantren yang disulap menjadi tenda Arafah. Di sini, nilai-nilai spiritualitas ditanamkan sejak dini.

“Silakan adik-adik berdoa apa saja untuk kebaikan. Di sini tempat yang sangat mustajabah,” kata Abdul Halim, pembimbing dari KBIHU Assalam, memberikan instruksi di depan ratusan siswa yang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan.

Ujian kesabaran pun tiba saat matahari mulai menyengat. Usai dari Arafah, para siswa harus bergeser ke area Muzdalifah untuk mabit (berdiam diri) dan memungut kerikil.

Peluh mulai membasahi dahi, namun tak ada keluhan. Justru sorak-sorai semangat pecah saat mereka bergerak menuju Jamarat di Mina untuk melaksanakan lempar jumrah Aqobah.

Berita Terkait :  Wujudkan Kampus Inklusif, ITS Matangkan Persiapan Layanan Disabilitas

Bunyi kerikil yang menghantam dinding replika jamarat beradu dengan takbir yang diteriakkan lantang oleh para siswa. Tak berhenti di sana, puncak simulasi dilaksanakan di Masjid Khas, Kelurahan Krampyangan. Masjid ini memang dikenal memiliki desain arsitektur yang menyerupai Masjidil Haram di Makkah.

Di sana, mereka melakoni Tawaf Ifadah mengelilingi Kakbah tujuh kali, disambung dengan lari-lari kecil (Sa’i) dari bukit Shafa ke Marwah.

Koordinator Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Islam (PAI) Pohjentrek, Bambang Wahono menyampaikan, kegiatan ini sengaja digelar tepat pada momentum musim haji agar aura ibadahnya lebih terasa.

“Kami ingin siswa tidak hanya jago teori di kelas, tapi tahu medan di lapangan. Kami gandeng pembimbing profesional dari KBIHU agar setiap rukun dan wajib hajinya benar secara syariat,” urai Bambang Wahono.

Antusiasme tinggi para peserta pun membuat pihak KKG PAI berencana mematenkan kegiatan ini sebagai agenda tahunan setiap musim haji.

“Melihat anak-anak begitu semangat meski panas-panasan, ini menjadi evaluasi positif bagi kami untuk terus mengadakannya,” jelas Bambang Wahono.

Salah satu siswa, M. Imron, mengaku sempat merasa gerah dengan cuaca Pasuruan yang cukup terik siang itu. Namun, ia merasa puas bisa naik haji bersama teman-temannya.

“Tadi kondisi cuaca maupun udaranya sangatlah panas, tapi seru. Ternyata capek juga lari-lari Sa’i itu. Tapi senang karena sekarang jadi tahu urutannya, mulai wukuf sampai potong rambut (tahalul),” kata Imron sembari menyeka keringat dengan ujung kain ihramnya. [hil.kt]

Berita Terkait :  Dukung Kelancaran AFF U19, PLN Icon Plus Gelar Patroli

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!