Gagas Inovasi SMAPRA OKE, Program Jumat Berkarakter dan Menginspirasi
Oleh:
Sawawi, Kabupaten Situbondo
Priyanto, dikenal sebagai salah satu Kepala Sekolah yang kaya akan inovasi di lingkungan Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jatim Wilayah Bondowoso-Situbondo. Mulai sejak mengabdi di SMAN 1 Pujer, hingga di percaya menjabat Kepala SMAN 1 Tenggarang, gagasan Priyanto selalu brilian.
Usai memimpin 3,5 tahun di SMASGA (SMA Negeri 1 Tenggarang), Priyanto kini digeser menjadi Kepala SMAPRA (SMA Negeri 1 Prajekan). Meski SMAPRA berada dipinggiran tak menciutkan nyali Priyanto untuk terus berkarya dengan prestasi.
“Meski kami di pinggiran, harus terus berinovasi,” terang Priyanto.
Kata Priyanto, sejak 6 April lalu sebagai pimpinan SMAPRA, ia sangat bersyukur meski jarak dengan rumahnya cukup jauh dari Perumahan Kembang Bondowoso, Priyanto menjalani dengan penuh semangat.
“Bagi saya ditempatkan di mana saja selalu siap. Dan yang pasti saya akan selalu membuat inovasi. Ini sudah saya komunikasikan awal mula saya ditugaskan di sini (SMAPRA). Di sini harus berubah, baik sarananya, akademiknya dan bidang lainnya. Termasuk juga saya merangkul tukang kebun untuk selalu bekerja dengan baik dan profesional,” ulas Priyanto.
Ke depan agar SMAPRA semakin maju, Priyanto membuat slogan yang tidak lain doa. Ini dipilih setelah melalui analisis sehingga mencerminkan harapan pembangunan atau pengembangan sekolah, yaitu SMAN 1 Prajekan ( Smapra) OKE.
Artinya O disini adalah Optimis (manusia hendaknya selalu optimis syaratnya adalah niat dan caranya benar serta maksimal).
Sedangkan arti huruf K adalah Kompak (kompak mengandung makna dalam kebaikan) dan huruf E mengandung arti Estetis (optimis dan kekompakan tersebut akan menjadi sesuatu yang indah secara lahir batin).
“Jargon yang singkat dan padat makna akan mudah diingat dan diterapkan menuju visi misi sekolah dan tujuan negara kita,” papar pria kelahiran Blitar itu.
Lelaki yang dikenal hobi olahraga, bernyanyi dan bertani itu dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa ada tiga kerangka Berpikir, yaitu Bersih, Tatanan dan Utuh/ menyeluruh. Priyanto juga membeberkan bahwa membangun sekolah tidak ubahnya seperti membangun negara dalam konteks yang lebih kecil.
“Kita harus membangun secara utuh, wilayahnya, warganya, dan tatanannya. Benteng kita adalah niat ibadah, mengikuti tatanan agama dan negara serta kebijakan yang membangun,” tutur Priyanto.
Pria yang pernah menjabat Wakasek Sarpras di SMAN 1 Pujer itu menambahkan, semua itu harus dimulai dari diri sendiri, yang mudah dan yang terdekat. Termasuk memperhatikan tatanan SDM secara utuh dan menyeluruh.
“Setelah rapat koordinasi dengan GTK yang salah satunya membicarakan karakter budaya bersih, rapi dan indah, kami mengajak beberapa pramu sesuai dengan tupoksi untuk membranding ruang Kepala Sekolah dengan didampinginya. Dengan harapan, gerak cepat dan tepat ini sebagai teladan untuk semua warga sekolah,” aku Priyanto.
Priyanto kembali menambahkan pentingnya penerapan karakter kebersihan, pengurangan sampah plastik, gerakan lingkungan asri dan gerakan Indonesia Asri.
“Termasuk ketahanan pangan juga di prioritaskan dengan sungguh-sungguh,” imbuh Priyanto.
Pria yang hobi naik motor dari Kota Bondowoso menuju SMAPRA itu menerangkan, semua branding itu sejatinya harus dipublikasi baik di media konvensional maupun medsos satu persatu.
Selanjutnya, kata Priyanto, ia juga menerapkan zero terlambat dan tidak hadir, kecuali siswa berhalangan syari.
“Lalu kami juga melakukan pembimbingan bermakna secara tuntas. Artinya semua yang dilakukan ini melalui sosialisasi dikelas karena harus menghargai siswa dan orang tua. Teman teman juga saya minta untuk menguatkan program Jumat Berkarakter tetapi yang menginspirasi,” ungkapnya.
Tak cukup itu, Priyanto juga mengungkap tentang inspirasi yang notabene diisi oleh tokoh dan selanjutnya di paparkan oleh para berbagai profesional. Misalnya, sebut dia, jajaran Forkopimca.
“Nanti sebagai contoh saya yang pertama memberikan inspirasi. Ini sudah saya kasih contoh dengan membawa media ban. Selain itu, kami memindah sarana yang sudah ada dengan syarat tertentu,” aku Priyanto.
Terakhir, sambung Priyanto, dirinya juga menyampaikan momen penting saat kegiatan upacara Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 lalu yakni semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
“Pesan ini mengandung arti Ing ngarso sung tulodo (Di depan memberi teladan); Ing madyo mangun karso (Di tengah membangun semangat/kemauan) dan Tut wuri handayani (Di belakang memberi dorongan). Tiga kalimat ini jadi pedoman guru dan pemimpin yang saat ini dipakai juga sebagai semboyan Kementerian Pendidikan RI.
Tak cukup itu saja, imbuh Priyanto, dirinya sebagai guru Bahasa, melihat siswa yang akan berkomunikasi yang komunikatif itu ada tata cara tersendiri.
“Termasuk cara olah vokal. Disini juga ada anak yang perlu perhatian khusus dan tidak selesai dalam penanganan guru, wali kelas dan BK. Maka saya sendiri yang turun tangan. Misalnya ada siswa datang terlambat kesekolah dan siswa enggan bersekolah. Saya sampai harus punya nomor WA orang tuanya, agar solusinya berjalan dengan tuntas,” pungkas Priyanto. [awi.gat]


