28 C
Sidoarjo
Monday, April 27, 2026
spot_img

Substitusi Energi Alternatif Dinilai Pakar ITS Bisa Kurangi Ketergantungan Impor


Surabaya, Bhirawa
Pemanfaatan potensi energi berbasis daerah dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ancaman krisis global. Pakar strategi bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng, menegaskan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sumber energi alternatif sesuai karakteristik wilayahnya.

Dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS ini menambahkan ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berpotensi berdampak pada pasokan energi, tetapi juga merambat ke sektor ekonomi lainnya. Kenaikan harga BBM juga dapat menyebabkan melonjaknya harga bahan-bahan industri seperti plastik dan pupuk.

“Prinsip ekonomi itu saling terhubung, ketika sektor energi terganggu maka sektor lainnya juga pasti akan terdampak,” bebernya.

Di samping itu, Indonesia masih berstatus sebagai negara yang bergantung pada pasokan energi impor. Sebanyak 49,5 persen kebutuhan BBM dan 80 hingga 84 persen Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indonesia masih dipenuhi oleh pasokan luar negeri. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan energi yang tinggi tidak sebanding dengan produksi dalam negeri. “Keadaan ini cukup mengkhawatirkan karena kondisi geopolitik yang masih tidak menentu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, lelaki berkacamata itu menjelaskan bahwa ketergantungan energi impor ini akan menjadi pemicu masalah lainnya yang kemudian juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dalam krisis seperti ini, gejolak ekonomi khususnya di bidang energi dapat memicu tekanan sosial. Masyarakat yang semakin terdesak dengan kebutuhan energi dan bahan pokok akan menjadi masalah utama dalam menjaga kedaulatan negara.

Berita Terkait :  Ciptakan Pendidikan Aman dan Kondusif, Dindik Jatim Perkuat Peran TPPK Sekolah

Alumnus doktoral dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut juga menyoroti bahwa permasalahan ini tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan pasokan energi dari luar akibat geopolitik yang sedang terjadi. Ia menekankan bahwa hal ini juga disebabkan lemahnya kemampuan pengolahan energi dalam negeri.

“Sumber daya alam kita sebenarnya melimpah untuk diolah sebagai pasokan energi, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sehingga kita bergantung pada negara lain,” terangnya.

Oleh karena itu, Arman mendesak agar bangsa Indonesia segera berupaya keras untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia guna mendorong kemandirian energi nasional. Hal ini tak lepas dari potensi besar Indonesia sebagai produsen energi panas bumi atau geothermal terbesar kedua di dunia. Oleh karena itu, optimalisasi sumber daya lokal menjadi solusi yang perlu segera diakselerasi.

“Setiap daerah dapat memanfaatkan ciri khasnya untuk menciptakan cadangan energi. Ini langkah konkret yang bisa dilakukan untuk memperkuat kemandirian energi nasional,” ujarnya, Senin (27/4).

Ia mencontohkan, daerah dengan intensitas panas matahari tinggi dapat mengembangkan energi surya melalui pemasangan panel surya. Sementara itu, wilayah dengan basis peternakan dapat mengolah limbah organik menjadi biogas yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selain itu, Arman juga menyoroti besarnya potensi energi panas bumi (geothermal) di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan geothermal terbesar di dunia yang dapat menjadi sumber energi alternatif jangka panjang.

Berita Terkait :  Pjs Bupati Mojokerto Minta156 Guru Penggerak Implementasikan Program Nyata

“Indonesia perlu segera mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan potensi tersebut demi menyokong ketahanan energi nasional,” tambahnya.

Ia menilai, pengembangan energi alternatif berbasis daerah tidak hanya berdampak pada penguatan sektor energi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan demikian, daerah tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen yang berkontribusi pada kebutuhan nasional.

Di akhir pemaparannya, Arman menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, industri, dan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi. Menurutnya, upaya ini harus dilakukan secara terintegrasi agar pemanfaatan energi alternatif dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Masyarakat perlu berhemat energi, industri harus berinovasi, dan pemerintah perlu mendukung melalui kebijakan yang tepat,” pungkasnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru