Surabaya, Bhirawa
Dunia pengamanan sering kali dicitrakan dengan wajah yang kaku, sikap yang dingin, dan jarak yang tegas antara petugas dengan masyarakat. Namun, pengalaman selama 60 hari menjalani magang di PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 8 Surabaya, memberikan perspektif yang sepenuhnya baru. Terjun langsung di Bagian Pengamanan memberikan Nadiva Nurfaizah satu pelajaran penting, di mana ada interaksi manusia, di situ ilmu komunikasi menjadi napas utamanya.
“Salah satu momen paling berkesan bagi saya adalah saat berkesempatan terjun langsung melakukan sosialisasi keselamatan perkeretaapian ke sekolah-sekolah yang berdekatan dengan rel kereta. Di sini, kemampuan public speaking saya benar-benar diuji melampaui batas teori di ruang kelas,” tutur Nadiva saat ngobrol santai dengan Bhirawa beberapa waktu lalu.
Berbicara di depan anak-anak sekolah tentu tidak sama dengan presentasi formal. Nadiva dituntut untuk menerjemahkan aturan keselamatan yang teknis menjadi bahasa yang sederhana, ceria, dan mudah diingat.
“Bagaimana cara kita mengajak mereka peduli pada keselamatan tanpa harus menakut-nakuti. Di situlah saya mempraktikkan adaptasi gaya bicara agar pesan bisa diterima dengan baik oleh audiens yang berbeda usia. Komunikasi bukan lagi soal apa yang kita sampaikan, tapi bagaimana cara kita menyentuh pemahaman mereka,” lanjut Nadiva
Berbeda dengan suasana stasiun yang hiruk-pikuk, pengalaman menjaga front office di kantor Daop 8 memberikan warna tersendiri. Setiap hari, Nadiva menjadi wajah pertama yang ditemui oleh tamu dengan berbagai keperluan. Mulai dari masyarakat umum yang memerlukan informasi, hingga rekan-rekan mahasiswa dari berbagai universitas yang ingin mengajukan proposal magang.
Menghadapi rekan sebaya yang ingin magang adalah pengalaman yang unik. Nadiva belajar bagaimana bersikap profesional namun tetap ramah, memberikan arahan prosedur yang jelas tanpa menghilangkan sisi apresiatif sebagai sesama mahasiswa.
“Di meja ini, saya belajar tentang manajemen emosi dan kesabaran dalam menghadapi berbagai karakter manusia yang berbeda setiap harinya,” lanjut Nadiva.
Tak jarang, Nadiva juga membantu penyelia dalam melakukan pendataan barang hilang (lost and found). Secara administratif, ini mungkin terlihat seperti pencatatan biasa. Namun, di baliknya ada proses komunikasi yang krusial. Memberikan kepastian kepada orang yang sedang panik atau bingung karena kehilangan barang berharga memerlukan ketenangan dan akurasi informasi. Di sini, integritas unit pengamanan dan kualitas pelayanan komunikasi benar-benar diuji.
Pengalaman di unit pengamanan PT KAI Daop 8 ini membuka mata Nadiva bahwa ilmu komunikasi itu bersifat universal. Ia tidak hanya ada di kantor humas, biro iklan, atau ruang siaran. Ia ada di setiap tegur sapa petugas, di balik meja front office, bahkan dalam ketegasan instruksi keamanan.
“Segala tugas yang saya jalankan, mulai dari sosialisasi di lapangan hingga administrasi di kantor selalu melibatkan aspek komunikasi. Hal ini membuktikan bahwa menjadi seorang praktisi komunikasi yang baik berarti harus siap ditempatkan di mana saja dan berani belajar dari setiap lapisan tugas,” tegas Nadiva dengan senyum mengembang. Magang ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik, melainkan sebuah perjalanan untuk memahami manusia lebih dekat. Nadiva pulang dengan membawa pemahaman baru bahwa profesionalisme di bidang apa pun selalu berakar pada kemampuan membangun jembatan komunikasi yang baik dengan sesama. [why]


