Gresik, Bhirawa
Mengingat pentingnya kesiapan dalam penanganan bencana berbasis air atau water rescue, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gresik bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarla) menggelar kegiatan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana. Kegiatan ini berfokus pada penanganan banjir dan penyelamatan warga, mulai dari ketersediaan peralatan hingga prosedur evakuasi yang aman dan tepat.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman dan kesiapan seluruh petugas dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang kerap terjadi di wilayah Gresik, khususnya banjir, luapan air, maupun kecelakaan di perairan. Sosialisasi dan pelatihan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Disdamkarla serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mencakup materi mitigasi hingga teknis penyelamatan di air.
“Gresik adalah wilayah yang sering mengalami bencana banjir. Tak hanya itu, kasus warga tercebur ke sumur, jatuh ke sungai, hingga kecelakaan kendaraan di area perairan juga pernah terjadi. Oleh karena itu, kita membutuhkan mitigasi dan kesiapsiagaan yang matang agar penanganannya berjalan maksimal,” ujar Abdullah Hamdi.
Ia menjelaskan, penanganan bencana tidak hanya berfokus pada proses evakuasi saat kejadian saja, tetapi juga mencakup langkah mitigasi jangka panjang. Beberapa strategi penting yang terus didorong antara lain normalisasi dan pengerukan sungai, penghijauan kembali, pembangunan daerah resapan air, hingga penataan ruang dan penentuan zonasi kawasan yang rawan banjir.
Sebagai contoh, Kecamatan Menganti selama ini dikenal sebagai salah satu daerah langganan banjir. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat maupun petugas di wilayah tersebut semakin memahami langkah penanganan, mulai dari persiapan awal hingga pemulihan pascabencana.
Dalam hal ini, BPBD dan Damkar memiliki peran sentral, mulai dari pelaksanaan simulasi evakuasi, penempatan personel siaga di titik rawan, hingga penyediaan perlengkapan memadai seperti pelampung, perahu karet, tali penolong, dan berbagai alat apung lainnya.
“Yang paling utama sebenarnya adalah pemahaman mitigasinya. Baik masyarakat maupun petugas harus paham apa yang harus dilakukan saat banjir datang. Prinsipnya, jangan sampai kita yang hendak menolong malah menjadi korban yang harus ditolong. Jangan bertindak jika hal itu justru membahayakan diri sendiri. Kesiapan di lokasi terdampak adalah kuncinya,” tegasnya.
Abdullah Hamdi juga menekankan agar seluruh petugas memahami metode penyelamatan yang aman dan terstandar, seperti konsep reach, throw, row, go dalam proses evakuasi korban di air. Kajian kondisi lokasi yang cepat dan akurat sebelum bertindak juga sangat diperlukan, agar proses penyelamatan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Selain penanganan saat kejadian, perhatian juga harus diberikan pada tahap pascabencana, meliputi penyaluran bantuan logistik, perbaikan fasilitas umum, pemulihan kondisi lingkungan, hingga pendampingan psikologis atau trauma healing bagi warga yang terdampak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarla) Kabupaten Gresik, Suyono, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kesiapsiagaan dalam menangani banjir maupun kasus penyelamatan lainnya. Menurutnya, aspek paling utama adalah kesiapan segala hal yang mendukung operasi, mulai dari personel, kemampuan teknis, hingga kelengkapan peralatan.
“Saya berharap melalui kegiatan ini, seluruh jajaran Disdamkarla senantiasa siap siaga dan sigap dalam setiap situasi. Sehingga setiap kali ada panggilan atau kejadian, proses penyelamatan bisa berjalan efektif, aman, dan tepat sasaran untuk membantu masyarakat,” harap Suyono. [kim.kt]


