Oleh:
Ali Muthohirin
Wakil Wali Wali Kota Malang
Ramadan bulan yang merupakan madrasah agung mendidik jiwa untuk melakukan transformasi mental dan spiritual. Tak lama lagi bulan ini akan segera berakhir. Di akhir Ramadan ada tradisi mudik-sebuah perjalanan kembali ke akar fitrah. Namun, esensi mudik sering kali terdistorsi menjadi ajang pamer kesuksesan materi. Padahal, hakikat kepulangan adalah tentang ketulusan sujud syukur dan pengabdian.
Pekerjaan dan keberhasilan finansial bukanlah komoditas untuk dipamerkan, melainkan sarana ibadah yang menuntut kesungguhan serta tanggung jawab mutlak kepada Sang Khalik. Mudik bukanlah panggung untuk memamerkan atribut kekayaan atau jabatan di kampung halaman. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kemegahan dunianya, melainkan pada ketakwaannya. Momentum kepulangan seharusnya menjadi saat yang sakral untuk melakukan sungkem, memohon rida orang tua, dan memupuk kembali tali silaturahmi dengan sanak saudara yang mungkin sempat merenggang karena kesibukan duniawi.
Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.
Integritas dalam bekerja bermula dari kedisiplinan yang diajarkan saat Imsak. Seorang muslim berhenti makan dan minum bukan karena diawasi manusia, melainkan karena kepatuhan pada aturan Sang Pencipta. Dalam dunia kerja, hal ini diterjemahkan sebagai kejujuran dalam mengelola waktu dan amanah. Kita bekerja dengan penuh tanggung jawab bukan karena takut pada pengawasan atasan, melainkan sadar bahwa Allah SWT adalah Maha Pengawas.
Sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…'” (QS. At-Taubah: 105).
Indikator kesuksesan seorang pekerja bukan terletak pada seberapa mewah gaya hidup yang bisa ditunjukkan saat pulang kampung, melainkan pada aspek keberkahan. Ketakutan terbesar seorang pekerja mukmin adalah jika gaji yang dihasilkan tidak membawa berkah bagi keluarga. Harta yang didapat dari kemalasan atau ketidakjujuran hanya akan menjadi beban batin dan penghalang doa.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya profesionalisme dengan menyebutkan bahwa Allah sangat mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan teliti, bersungguh-sungguh, dan konsisten.
Mari kita jadikan momentum mudik dan Idul Fitri sebagai titik balik. Pulanglah dengan kerendahan hati untuk bersimpuh di kaki orang tua, dan kembalilah ke tempat kerja dengan semangat baru. Jadikan meja kerja sebagai sajadah, dengan disiplin sekuat Imsak dan dedikasi sehangat menanti waktu Magrib.
Semoga kita bertemu Ramadan tahun depan. Selamat merayakan Idul Fitri minat aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. [*]



Cara membuka blokir BWS mobile,
Anda bisa menghubungi layanan call center BWS mobile via Whatsapp +62819.7550.3237 Atau 081975503238 atau BWS Call 1500-012, atau datang langsung ke kantor cabang Bank Woori Saudara terdekat dengan membawa KTP dan buku tabungan.
Jika lupa username BWS Mobile Banking, segera hubungi call center BWS di 081973503238 1500-012, chat WhatsApp ke 0819.7350.3237 (atau opsi resmi lainnya), atau kunjungi kantor cabang terdekat.