
Potret suasana menjelang berbuka puasa di kawasan Tugu Pahlawan
Surabaya, Bhirawa
Suasana Ramadan di Kota Surabaya tahun ini terasa lebih semarak dengan digelarnya acara “Ngabuburit di Tugu Pahlawan 2026.” Hal itu terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke Museum Tugu Pahlawan pada hari Minggu (1/3) sore untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang ada. Acara yang berlangsung di kawasan bersejarah ini menghadirkan konsep yang cukup fresh dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana tahun ini memadukan hiburan, kuliner bazar UMKM, serta belajar sejarah.dalam waktu yang bersamaan.
Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, menjelaskan bahwa tahun ini panitia mengusung tema “Ngabuburit Bareng di Monumen Tugu Pahlawan” dengan melibatkan lebih banyak talenta kreatif lokal binaan dari Pemerintah Kota Surabaya.
“Perbedaannya, tahun ini kita melibatkan musik kreatif yang ada di Kota Surabaya. Mereka semua merupakan binaan dari Pemerintah Kota Surabaya yang membutuhkan ruang untuk menampilkan bakat mereka di berbagai kegiatan,” ujar Saidatul.
Menurutnya, pelibatan kelompok musik kreatif tersebut tidak hanya bertujuan untuk meramaikan suasana Ramadan, tetapi juga menjadi bentuk dukungan dari pemerintah Kota Surabaya terhadap pengembangan talenta lokal dan pemberdayaan komunitas seni yang ada di Surabaya.
Selain hiburan, Saidatul juga mengungkapkan bahwa konsep kuliner juga mengalami penyesuaian. Berdasarkan evaluasi pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, pengunjung yang datang didominasi oleh kaum muda. oleh karenanya, tahun ini panitia menghadirkan lebih banyak pilihan makanan kekinian tetapi tidak juga meninggalkan kuliner tradisional.
“Kita memang mengusung makanan-makanan kekinian, karena melihat dari tahun-tahun kemarin itu memang yang datang ke sini kebanyakan anak-anak muda. Jadi kita memutuskan untuk menghadirkan kuliner-kuliner kekinian, namun tetap ada makanan tradisional seperti Kue Rangi dan Nasi Osik.” Jelasnya.
Area ruang terbuka hijau di depan Monumen Tugu Pahlawan disulap menjadi pusat aktivitas ngabuburit yang indah. Para pengunjung dapat menikmati aneka jajanan berbuka puasa dari bazar UMKM, hingga pertunjukkan musik-musik islami dan ludruk khas Jawa Timur. Saat menjelang waktu berbuka, acara ini juga diisi dengan kultum untuk menambah suasana religius Ramadan.
Meski dikemas dengan santai dan menghibur, nilai edukasi tetap menjadi yang utama dalam kegiatan ini. selama acara berlangsung, Museum Sepuluh Nopember tetap dibuka hingga pukul 21.00 WIB. Dengan demikian para pengunjung juga dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November.
“Selain ngabuburit, pengunjung juga bisa belajar sejarah karena museum tetap buka sampai jam 9 malam. Kami juga mengenalkan permainan tradisional seperti egrang yang mungkin sudah jarang diketahui anak-anak muda,” tambah Saidatul.
Kegiatan ini juga mendapatkan respon positif dari masyarakat Surabaya. Dayana, salah satu pengunjung mengaku mengetahui informasi acara ini dari media sosial. “Saya tahunya dari TikTok. Jarang ada momen ngabuburit seperti ini di Tugu Pahlawan, jadi ingin merasakan suasananya,” ungkapnya.
Ia menilai konsep kegiatan yang memadukan hiburan, kuliner, dan edukasi sejarah ini memberikan pengalaman berbeda dibandingkan dengan ngabuburit pada umumnya.
“Positif banget, karena di sini ada anak-anak yang masih sekolah ya, jadi mereka bisa sekalian belajar, sekalian ngabuburit gitu. Terus kalau untuk yang dewasa mungkin kita bisa menikmati jajanan kulinernya gitu,” katanya.
Disisi lain, pemerintah Kota Surabaya juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar secara rutin setiap bulan Ramadan dengan konsep yang lebih menarik lagi agar dapat menjadi ruang interaksi generasi muda dengan sejarah Kota Surabaya.
“Insyaallah kegiatan ini akan terus kami laksanakan karena animo masyarakat sangat baik. Harapannya, nilai kepahlawanan tetap bisa ditanamkan kepada generasi muda,” pungkas Saidatul. MG7.wwn
Author: Niken Ayu Dwi Agustin


