27 C
Sidoarjo
Monday, February 23, 2026
spot_img

Pasar Murah Jadi Senjata Gubernur Jatim Redam Inflasi Ramadan di Malang

Pemprov Jatim, Bhirawa.
Di tengah gejolak harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan Pasar Murah ke-23 di Taman Pelangi, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, pada Minggu (22/2/2026). Langkah ini bukan sekadar aksi seremonial, melainkan strategi presisi Pemprov Jatim untuk jaga kestabilan ekonomi rumah tangga saat permintaan melonjak hingga Idulfitri.

Dari perspektif ekonomi lokal, Pasar Murah ini berfungsi sebagai intervensi pasar yang cerdas. Dengan menempatkan lokasi jauh dari pasar tradisional, program ini hindari distorsi bagi pedagang kecil sekaligus sasaran bantuan tepat ke warga berpenghasilan rendah. Khofifah menekankan komplementaritas dengan inisiatif kabupaten/kota, sehingga jangkauan semakin luas dan inflasi terkendali.

Harga diskon mencolok, seperti beras premium Rp14.000/kg (vs pasar Rp60.000/kemasan), beras medium Rp11.000/kg, Minyakita Rp13.000/liter (di bawah HET Rp16.800), telur ayam ras Rp22.000/kemasan (hemat Rp8.000 dari pasar), tepung terigu Rp10.000/kg, gula pasir Rp14.000/kg (turun dari Rp17.000/kg), bawang putih Rp6.000/250g, bawang merah Rp7.000/250g, cabai rawit Rp4.000/100g, cabai merah besar Rp2.000/100g, hingga daging ayam Rp30.000/kg (selisih Rp11.000-12.000 dari pasar). “Ramadhan bikin logistik keluarga naik drastis. Pasar Murah ini bantu penuhi kebutuhan protein dan pokok dengan harga ramah,” tegas Khofifah saat tinjau lokasi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan beras untuk lansia, telur untuk ibu-ibu beserta anak, serta memborong produk UMKM yang bertujuan untuk mendorong roda ekonomi grassroots. Warga ramai antusias. Nanik, salah satu pengunjung, bilang, “Hemat banget! Beras Rp55.000/kemasan di sini vs Rp60.000 di pasar, telur Rp22.000 vs Rp30.000. Pas buat Ramadhan,” ujarnya.

Berita Terkait :  Koramil Tenggilis Sosialisasi Penerimaan Taruna di SMPN 39 Surabaya

Inisiatif ini bukti nyata bagaimana kebijakan pemerintah bisa redam tekanan inflasi, tingkatkan daya beli, dan dukung UMKM di saat krusial. Inflasi Jawa Timur memasuki 2026 dengan tekanan yang tidak ringan bagi dapur rumah tangga. BPS mencatat inflasi tahunan (year on year) Januari 2026 mencapai 3,29 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,03, meski secara bulanan Jawa Timur sempat mengalami deflasi 0,20 persen.

Di tengah situasi ini, Pasar Murah ke-23 yang digelar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Taman Pelangi, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menjadi salah satu instrumen intervensi langsung untuk meredam tekanan harga bahan pokok sepanjang Ramadhan hingga Idulfitri.

Menahan Laju Inflasi
Kenaikan harga pangan menjadi salah satu pendorong utama inflasi Jawa Timur sepanjang 2025 hingga awal 2026, dengan inflasi tahunan 2025 ditutup di angka 2,93 persen dan lonjakan bulanan Desember 2025 sebesar 0,76 persen akibat naiknya harga komoditas pangan dan emas perhiasan. Di level lapangan, lonjakan ini terasa paling nyata di pasar tradisional, terutama pada komoditas seperti daging ayam, gula, cabai, dan minyak goreng.

Pasar Murah Singosari secara langsung mengoreksi harga-harga tersebut melalui skema penjualan di bawah harga pasar. Daging ayam yang di pasar tradisional berkisar Rp41.000-42.000 per kilogram dijual Rp30.000 per kemasan di Pasar Murah, memberikan selisih sekitar Rp11.000-12.000 per kilogram bagi konsumen.

Berita Terkait :  Langkah Baru untuk Harapan Baru, Pemprov Jatim Percepat Penyaluran Prothese untuk Disabilitas dan Lansia

Gula pasir yang di pasar tradisional mencapai Rp17.000 per kilogram turun menjadi Rp14.000 per kilogram, sementara Minyakita dijual Rp13.000 per liter, lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp16.800 per liter.

Beras premium dipatok Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, telur ayam ras Rp22.000 per kemasan, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, dan berbagai komoditas hortikultura seperti bawang putih, bawang merah, serta cabai juga dijual dengan harga yang ditekan.

Dari sudut pandang pengendalian inflasi, kebijakan ini bekerja di titik paling sensitif, pengeluaran konsumsi rumah tangga miskin dan rentan. Dengan menurunkan biaya belanja pangan selama periode lonjakan permintaan Ramadhan dan Idulfitri, tekanan inflasi dari sisi permintaan bisa diredam tanpa harus menunggu respon kebijakan moneter atau mekanisme pasar yang biasanya bergerak lebih lambat.

Khofifah secara tegas mengarahkan agar Pasar Murah tidak digelar berdekatan dengan pasar tradisional. Strategi ini penting untuk menghindari konflik harga dengan pedagang pasar sekaligus memastikan subsidi harga benar-benar menyasar permukiman warga yang paling membutuhkan.

Pendekatan ini sejalan dengan pola yang juga diterapkan Pemprov Jatim di berbagai titik pasar murah lain yang ditempatkan dekat kelurahan dan desa padat penduduk, sehingga karakter program lebih sebagai jaring pengaman sosial daripada pesaing pedagang tradisional.

Dalam praktiknya, Pasar Murah di Singosari memadukan fungsi stabilisasi harga dengan intervensi sosial. Selain menjual bahan pokok murah, Gubernur Khofifah membagikan bantuan beras untuk lansia dan telur untuk ibu-ibu yang membawa anak, sebagai upaya memperkuat pemenuhan gizi keluarga berpendapatan rendah.

Berita Terkait :  Satpol PP Kota Surabaya Minta RHU Terapkan SOP Khusus

Bagi rumah tangga yang pengeluaran pangannya terdampak inflasi, paket semacam ini dapat mengurangi beban pengeluaran dalam jangka pendek, sekaligus menjaga daya beli di tengah kenaikan indeks harga. Testimoni warga seperti Nanik yang mengaku beras di Pasar Murah dihargai Rp55.000 per kemasan dibanding Rp60.000 di pasar, dan telur Rp22.000 dibanding Rp30.000 di pasar tradisional, memperlihatkan efek nyata penghematan di tingkat rumah tangga.[aya.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru