28 C
Sidoarjo
Thursday, May 28, 2026
spot_img

UNTAG Surabaya Menolak FOMO Running Culture Saat Olahraga Lari Terjebak dalam Outfit Mahal


Oleh :
Riska Indra Safitri
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Belakangan ini, aktivitas lari di ruang publik tidak lagi sekadar tentang memompa jantung, mencari keringat, atau menjaga kebugaran tubuh. Olahraga yang dulunya dianggap sebagai aktivitas paling merakyat, ini telah mengalami perubahan makna yang sangat drastis. Lari telah berubah menjadi sebuah sorotan utama yang populer dengan sebutan “Running Culture” atau “kalcer lari”. Namun di era digital ini, esensi dasar yang menyehatkan tersebut perlahan mulai berubah dan tergusur oleh nilai-nilai baru. Aktivitas lari di ruang terbuka kini telah bertransformasi menjadi sebuah simbol status sosial dan ajang pembentukan gaya hidup baru.

Sayangnya, perubahan ini membawa dampak samping yang kurang sehat bagi esensi olahraga itu sendiri. Aktivitas lari kini mendadak identik dengan sepatu seharga jutaan rupiah, jersey branded yang bernilai tinggi, topi mahal, hingga smartwatch yang fungsi utamanya sering kali hanya untuk memunculkan detak jantung dan jarak tempuh di layar digital. Lari tidak lagi berbicara tentang berapa kilometer yang berhasil ditempuh demi kesehatan, melainkan tentang merek apa yang melekat pada tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat ada perubahan motivasi yang cukup menarik sekaligus memprihatinkan di fenomena ini. Banyak penganut “kalcer lari” baru yang tampaknya lebih mementingkan aspek gaya pada diri sendiri ketimbang esensi kenyamanan dan kesehatan saat berlari. Jika kita amati fenomena ini di media sosial, melalui pamer foto

menggunakan outfit hingga unggahan tangkapan layar aplikasi Strava Muncul sebuah kesan dan standar di tengah masyarakat bahwa untuk bisa berlari di ruang publik, seseorang memerlukan standar penampilan tertentu.

Perubahan ini memunculkan dan membentuk narasi baru dari masyarakat. Muncul sebuah kesan dan standar di tengah masyarakat bahwa untuk bisa berlari di ruang publik, seseorang memerlukan standar penampilan tertentu. Media sosial telah berhasil mengemas olahraga lari menjadi sebuah komoditas estetika. Yang dimana pelari hanya mementingkan keindahan dan bukan fokus pada fungsi. Seseorang belum dianggap sebagai “pelari sejati” jika belum mengenakan atribut yang sedang tren.

Berita Terkait :  Bupati Serahkan Bansos UEP dan Modal Usaha Bernilai Ratusan Juta Rupiah

Menurut saya, kondisi ini secara tidak langsung telah menciptakan batasan sosial baru di ruang publik. Ruang publik yang harusnya bersifat bebas diakses oleh siapa saja, kini tersekat oleh tembok-tembok tidak terlihat yang dibangun oleh status sosial ekonomi. Olahraga lari, yang dalam sejarahnya diakui sebagai olahraga yang paling murah dan inklusif karena hanya membutuhkan niat dan sepasang alas kaki tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang eksklusif.

Dampak nyatanya sangat mengkhawatirkan. Orang-orang yang merasa tidak mampu mengikuti standar penampilan kelas atas tersebut, termasuk mereka yang memiliki kepribadian introvert atau memiliki keterbatasan ekonomi, cenderung mengurungkan niat dan enggan berpartisipasi. Mereka terjebak dalam rasa cemas, merasa minder, dan takut dihakimi oleh tatapan mata publik hanya karena tidak mengenakan atribut olahraga yang sedang tren. Lari yang tujuannya untuk melepaskan stres dan mencari sehat, malah berujung pada tekanan psikologis akibat budaya FOMO (Fear of Missing Out) terhadap perlengkapan mahal.

Sangat memprihatinkan ketika seseorang batal berolahraga hanya karena kaos yang mereka miliki tidak memiliki nilai yang tinggi, atau karena sepatu mereka tidak dilengkapi dengan pelat karbon (carbon plate) yang harganya setara dengan biaya hidup. Di titik inilah kita harus sadar bahwa ada yang salah dengan cara kita memandang olahraga hari ini.

Keresahan mendalam inilah yang kemudian mendorong Mahasiswa Ilmu Komunikasi Kelas A praktikum mata kuliah MICE Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, untuk menginisiasi sebuah gerakan perlawanan kecil. Panitia tidak ingin diam melihat olahraga lari memiliki unsur baru. Melalui sebuah event Fun Running 2026, panitia mencoba konsep baru yang mendobrak kasus utama tersebut melalui tema “Run in Cotton” yang telah diselenggarakan pada Minggu, (24/5/2026).

Berita Terkait :  Puluhan Anak TK Bhayangkari Belajar Tertib Lalu Lintas Bersama Kapolres

Dalam event ini, panitia menerapkan aturan unik yang tidak mengikuti standar “kalcer lari” premium. Panitia mewajibkan seluruh peserta untuk mengenakan kaos katun hitam sederhana. Jenis pakaian kasual yang biasa dipakai sehari-hari di rumah tanpa atribut olahraga khusus yang mahal. Tidak ada jersey dry-fit ratusan ribu rupiah, tidak ada pamer warna-warni pakaian neon yang mencolok. Semua orang wajib pakai baju hitam yang berbahan katun.

Dari sudut pandang karakteristik bahan pakaian olahraga, katun memang memiliki kelemahan yang nyata. Bahan ini memiliki sifat yang lama kering meskipun sangat baik

dalam menyerap keringat. Namun, riset kecil yang saya lakukan sebelum acara ini gelar membuktikan bahwa bahan katun memberikan kenyamanan yang sangat baik di awal aktivitas dan sangat aman untuk lari dengan santai (fun run).

Tidak hanya membahas pada bahan saja, esensi dari konsep ini adalah pesan sosiologis yang dibawanya. Ketika semua orang berlari dengan kaos rumahan yang sama sederhananya, sekat-sekat kelas sosial seketika runtuh. Ditambah dengan penetapan harga tiket masuk (HTM) yang sangat murah bagi pelajar dan masyarakat umum, acara ini berhasil mengembalikan nilai yang murah, ceria, dan menyatukan. Saya ingin membuktikan bahwa ruang sehat harus bisa diakses oleh siapa saja, tanpa memandang tebal tipisnya dompet mereka.

Melalui tulisan ini, saya ingin menegaskan kembali sebuah gagasan mendasar bahwa esensi dari keseruan dan manfaat kesehatan olahraga lari tetap bisa dicapai seutuhnya tanpa kita harus membeli perlengkapan mahal. Paru-paru kita tidak akan mendeteksi apakah oksigen yang kita hirup berasal dari kayuhan kaki dengan sepatu lima juta rupiah atau sepatu lokal ratusan ribu rupiah. Jantung kita tetap akan terpompa dengan baik, kalori tetap akan terbakar, dan endorfin tetap akan terlepas ke dalam tubuh.

Berita Terkait :  Polres Madiun Sosialisasikan Stop Bullying dan Undang-Undang Lalu Lintas

Mengikuti perkembangan tren pakaian olahraga tentu sah-sah saja. Memiliki kemampuan finansial untuk membeli barang-barang branded demi kenyamanan ekstra adalah hak personal setiap individu yang harus kita hormati. Namun batasannya sangat jelas, jangan sampai hal tersebut mendikte nilai dari olahraga itu sendiri, menciptakan stratifikasi sosial yang tidak perlu di area publik, atau bahkan mengintimidasi hak orang lain untuk hidup sehat.

Tren pakaian olahraga akan selalu berubah setiap waktu, dan industri akan terus menciptakan kebutuhan baru yang seolah-olah wajib kita miliki. Jika kita terus-menerus menuruti rasa takut tertinggal atau FOMO, kita hanya akan berakhir menjadi orang yang lelah. Kita akan terus menghabiskan energi dan uang demi mengejar validasi serta pengakuan media sosial yang tidak akan pernah ada habisnya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengambil sikap tegas untuk menolak tunduk pada dikte penampilan yang diciptakan oleh gaya hidup ini. Mari kita kembalikan olahraga lari pada fungsi alaminya yang murni dan sederhana. Pakai perlengkapan seadanya tanpa perlu peduli apapun mereknya, seberapa mahal harganya, atau apakah sepatu itu sedang tren atau tidak. Kesehatan bukanlah sebuah komoditas eksklusif yang hanya boleh dimiliki oleh mereka yang mengenakan outfit mahal, tapi menjadi hak semua orang tanpa terkecuali. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!